Tumbuh Kembang dan Kecerdasan Terhambat, Dampak Stunting pada Kesehatan saat Dewasa
Stunting yang menghambat tumbuh kembang dan kecerdasan, ternyata dapat mempengaruhi kesehatan juga saat dewasa.
Penulis: Muhammad Panji Destama Nurhadi | Editor: M Arif Hidayat
Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Panji Destama
TRIBUNBENGKULU.COM, KEPAHIANG - Tak hanya mempengaruhi tumbuh kembang dan kecerdasan, stunting juga bisa berdampak pada kesehatan saat usia dewasa nanti.
Hal itu diungkapkan oleh Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kabupaten Kepahiang, Tajri Fauzan saat dihubungi oleh TribunBengkulu.com, pada Sabtu (8/4/2023).
"Orang stunting saat menginjak usia 40 tahun ke atas cenderung mengalami gangguan kesehatan, seperti mengalami obesitas atau diabetes," ungkapnya saat diwawancarai oleh TribunBengkulu.com, pada Sabtu (8/4/2023).
Selain itu, stunting yang menyebabkan kecerdasan dan pertumbuhan terlambat juga dapat mempengaruhi lingkungan sekitar orang stunting ini.
Ia mencontohkan seperti orang stunting dengan usia 20 tahun kemungkinan dia memiliki kecerdasan seperti orang berusia 15 tahun atau 5 tahun lebih muda.
"Misal tinggi rata-rata orang biasa pada usia 20 tahunan itu 160 sentimeter, namun tinggi orang stunting tidak sampai 160 sentimeter," tuturnya.
Lanjut Tajri, orang stunting yang kecerdasannya tak sama dengan orang biasa pada umumnya, hal ini yang nanti akan mempengaruhi orang stunting pada saat dewasa.
Ia mengumpamakan orang stunting dengan usia 6 tahun dibandingkan dengan orang biasa yang berusia sama, dan sudah bisa membaca, berhitung ataupun menulis, orang stunting belum bisa melakukan hal tersebut.
"Dengan keterlambatan yang dialami ini baik kecerdasan dan pertumbuhan orang stunting, otomatis saat ia dewasa pasti berpengaruh pada kesehatannya ataupun kekebalan tubuhnya terhadap penyakitnya," jelasnya.
141 Anak Masuk Data Penanganan Stunting
Penanganan percepatan stunting di Kabupaten Kepahiang, Pemerintah Kabupaten Kepahiang telah mendata sebanyak 141 anak yang menerima bantuan melalui program orang tua asuh.
Hal itu, disamping Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPP) Kabupaten Kepahiang, Zurdi Nata, sebanyak 141 orang anak itu akan mendapatkan bantuan.
"Setiap anak dapat bantuan sebesar Rp 15 ribu untuk tambahan pembelian gizi yang mencukupi. Program ini berjalan selama 6 bulan," ungkapnya saat diwawancarai oleh TribunBengkulu.com, pada Jum'at (3/3/2023).
Lanjutnya, 141 orang anak yang masuk dalam program orang tua asuh ini, adalah anak yang usianya masih dibawah 1,5 tahun.
Selama 6 bulan, anak tersebut mendapatkan bantuan sebesar Rp 15 ribu, dari program orang tua asuh, sampai anggaran stunting untuk Kabupaten Kepahiang ada.
"Pendataan untuk anak yang menerima program orang tua asuh masih terus dilakukan, nanti untuk jumlah anak yang akan menerima bantuan akan terus bertambah," tuturnya.
Untuk menangani persoalan stunting secara serius, pihaknya melakukan pengentasan dan pencegahan secara maksimal.
Dengan adanya program orang tua asuh ini, diharapkan dapat menekan angka stunting hingga target yang sudah ditetapkan.
Untuk diketahui, stunting di Kepahiang pada tahun 2021 hanya 22,9 persen dan meningkat di tahun 2022 kemarin menjadi 24,9 persen.
Hal itu berdasarkan dari Hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022 mencatat angka stunting di Kabupaten Kepahiang mengalami peningkatan 2 persen.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bengkulu/foto/bank/originals/Kadinkes-Kabupaten-Kepahiang-Tadjri-Fauzan.jpg)