Berita Bengkulu Selatan
20 Warga Satu Desa di Bengkulu Selatan Terkena DBD, 6 Dirawat di Rumah Sakit
Sebanyak 20 orang warga satu Desa di Bengkulu Selatan terkena Demam Berdarah Dengue (DBD).
Penulis: Ahmad Sendy Kurniawan Putra | Editor: Hendrik Budiman
Laporan Reporter TribunBengkulu.Com, Ahmad Sendy Kurniawan Putra
TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU SELATAN - Sebanyak 20 orang warga satu Desa di Bengkulu Selatan terkena Demam Berdarah Dengue (DBD).
Kadis Kesehatan Bengkulu Selatan Didi Ruslan, S.KM, M.Si melalui Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Budi Syaputra, M.Kes membenarkan, jika ada salah satu desa di Kabupaten Bengkulu Selatan yang kondisi penyebaran penyakit DBD mengkhawatirkan.
Diketahui, Desa tersebut yakni Desa Padang Mumpo Kecamatan Pino, Bengkulu Selatan.
Menurutnya, dimana beberapa waktu lalu, memang ada 6 orang warga desa itu yang dirawat di rumah sakit lantaran diagnosa DBD.
Kemudian, setelah pihaknya melakukan cek lapangan, ternyata ada 20 warga yang positif DBD di desa tersebut.
"Setelah mendapatkan informasi bahwa di Desa Padang Mumpo ada 6 warga diagnosa DBD dan sempat dirawat. Kami langsung turun ke lapangan, setelah dicek ada 20 warga disekitar desa itu yang terpapar DBD," ujar Budi, Rabu (30/8/2023).
Baca juga: BKSDA Bantah Kabar Harimau Muncul di Kebun Kopi Warga Bengkulu Selatan karena Sengaja Dilepas
Ia mengatakan, beberapa langkah yang diambil pihaknya untuk memutuskan mata rantai penularan DBD ini diantaranya, melakukan surve jentik nyamuk.
Hasilnya, memang banyak ditemukan jentik-jentik nyamuk yang berkembang biak dan berada di sekitaran rumah warga.
Hal ini tidak lain lantaran banyak ditemukan air yang tertampung dalam ban bekas, kaleng bekas yang berserekan, hingga ditumpukan bekas pelepah sawit.
"Terlebih dengan kondisi letak georafis Desa Padang Mumpo memang dataran rendah. Sehingga, sangat rentan jadi tempat berkembang biaknya jentik-jentik nyamuk yang membawa penyakit DBD," ungkapnya.
Untuk itu, pihaknya telah melakukan Forum Diskusi Groub (FDG) bersama seluruh Kades dan pihak kecamatan bertujuan untuk sosialisasi terkait pencegahan DBD.
"Sebagai pencegahan dini, seluruh desa harus siap melakukan gotong royong kebersihan lingkungan. Karena, kebersihan lingkungan menjadi poin utama untuk mencegah berkembangnya jentik nyamuk Aedes Aegypti," pungkas Budi.
Ia menambahkan, masyarakat diminta untuk terus meningkat kewaspadaan, utamanya selalu menjaga kebersihan lingkungan agar terhindar dari penyakit tersebut.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bengkulu/foto/bank/originals/Petugas-Fogging-Bengkulu-Selatan.jpg)