Carok Madura

Mengapa Carok Sulit Dihilangkan dari Kultur Masyarakat Madura?

Menurut penelitian kebanyakan aksi carok justru terjadi karena upaya perlindungan laki-laki terhadap miliknya yang paling berharga, yaitu istri.

Pinterest
Ilustrasi budaya Carok di Madura. 

TRIBUNBENGKULU.COM - Peristiwa carok (lebih tepatnya pembacokan) kembali terjadi di Madura, persisnya di Desa Ketapang Laok, Kecamatan Ketapang, Kabupaten Sampang, Madura, pada Minggu (17/11/2024). 

Korban adalah saksi dari pasangan calon (paslon) Pilkada Kabupaten Sampang 2024 nomor urut 2 Slamet Junaidi-Ahmad Mahfud (Jimad Sakteh).

Aksi pembacokan itu terjadi setelah Paslon Jimad Sakteh melaksanakan kunjungan ke salah satu kediaman tokoh agama di desa setempat. 

Ketua Tim Pemenangan Jimad Sakteh, Surya Noviantoro, menceritakan, informasi yang didapat awalnya sempat ada penghadangan dari beberapa orang yang tidak bertanggung jawab kepada Paslon Jimat Sakteh.

"Setelah ada negosiasi, akhirnya pasangan Calon kami bisa diamankan dan keluar dari lokasi," ujarnya, sebagaimana dikutip dari Tribun Madura.

Lalu berselang beberapa menit kejadian yang tidak diinginkan terjadi di kediaman salah satu tokoh yang dikunjungi paslon Jimat Sakteh. Diduga para pelaku mendatangi Jimmy Sugito Putra (korban).

Para pelaku datang lengkap dengan senjata tajam jenis celurit, sedangkan korban tidak membawa sajam jenis apa pun. "Kericuhan itu akhirnya menimbulkan korban jiwa, korban merupakan pendukung Paslon Jimat Sakteh," terangnya.

Akibat dikeroyok korban mengalami sejumlah luka bacok ditubuhnya, sehingga nyawa korban tak dapat ditolong alias meninggal. 

Atas kejadian tersebut, pihaknya sangat menyangkan dan mengutuk keras tindakan kriminal tersebut karena tidak dapat diantisipasi, serta dideteksi dini oleh pihak keamanan.

Bagaimanapun juga, yang terjadi Sampang tempo hari itu adalah murnikriminal dan tidak bisa disebut carok karena korban tewas setelah dihujani celurit dalam kondisi tangan kosong. Dia tidak siap bertarung.

Carok mestinya dilakukan secara ksatria. Satu lawan satu, bukan main keroyok. Dan jangan sampai mengorbankan perempuan!

Harga diri dan istri

Dalam bukunya, Latief, yang sejak tahun 1990 sampai 1994 mengadakan penelitian di Bangkalan, menyatakan kebanyakan aksi carok justru terjadi karena upaya perlindungan laki-laki terhadap miliknya yang paling berharga, istri. Angkanya mencapai 60,4 persen.

Disusul carok lantaran salah paham (16,9 % ), masalah utang-piutang (9,2 % ), baru kemudian persoalan tanah warisan (6,7 % ). Pelecehan terhadap harga diri - terutama gangguan kepada istri - membuat lelaki Madura malo (malu), todus (dilaknat aib), dan tada' ajina (direndahkan martabatnya).

Untuk itu, tambana todus, mate (obat malunya tiada lain kecuali mati).

Pada dasarnya, carok memang refleksi monopoli kekuasaan laki-laki. Ini ditandai perlindungan berlebihan terhadap perempuan, sebagaimana tampak dalam model pakaian ketat perempuan dan gombrong untuk lelaki, pola permukiman kampong meji dan taneyan lanjang, serta kebiasaan perkawinan antarkeluarga.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved