Selasa, 9 Juni 2026

Kalender 2025

Kalender Februari 2025 : Daftar Perayaan dan Peringatan Hari Penting : Hari Trenggiling Sedunia

Kalender Februari 2025 : Perayaan dan Peringatan Penting pada Tanggal 17 Februari

Tayang:
Penulis: Dwi Wulandari | Editor: M Syah Beni
Tangkapan Layar Situs Kementerian Agama RI
KALENDER FEBRUARI 2025 - Tangkapan layar kalender tahun 2025 yang diambil dari situs Kementerian Agama (Kemenag), Senin (17/02/2025). Tanggal 17 Februari 2025 terdapat berbagai peringatan penting di berbagai penjuru dunia. Berikut informasinya. 

TRIBUNBENGKULU.COM - Kalender Februari 2025 : Perayaan dan Peringatan Penting pada Tanggal 17 Februari

 

Tanggal 17 Februari 2025 menjadi momen yang penuh makna, karena selain merupakan hari Senin dalam kalender Masehi, juga dirayakan berbagai peringatan penting di berbagai penjuru dunia.

Pada hari ini, kita mengingat dan merayakan Hari Trenggiling Sedunia, yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan perlindungan spesies ini yang terancam punah.

Selain itu, di Indonesia, khususnya di Parepare, warga merayakan Hari Ulang Tahun Kota Parepare, mengenang perjalanan panjang kota ini menuju kemajuan.

Tak ketinggalan, Hari Roh Manusia turut diperingati sebagai wujud penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan.

Di sisi lain, Hari Kubis Nasional juga dirayakan sebagai bentuk apresiasi terhadap salah satu komoditas pertanian yang penting bagi ketahanan pangan.

Hari Trenggiling Sedunia

Tanggal 17 Februari diperingati sebagai Hari Trenggiling Sedunia untuk meningkatkan kesadaran global tentang pentingnya melindungi trenggiling.

Seperti yang dilansir Kompas.com, hari ini bertujuan untuk menyadarkan masyarakat akan ancaman terhadap kelestarian trenggiling, yang sering kali diburu untuk dijadikan pajangan atau untuk keperluan lainnya.

Trenggiling, satu-satunya mamalia dengan tubuh bersisik, kini menghadapi penurunan jumlah yang drastis, terutama di Asia dan Afrika.

Hari Trenggiling Sedunia diharapkan dapat mendorong upaya pelestarian dan mencegah trenggiling menjadi korban perdagangan satwa liar ilegal yang semakin marak.

Hari Roh Manusia

Tanggal 17 Februari juga diperingati sebagai Hari Roh Manusia atau World Spirit Human Day, yang pertama kali diinisiasi pada tahun 2003 oleh Michael Levy.

Seperti yang dilansir dari Kompas.com, tujuan dari peringatan ini adalah untuk mempromosikan semangat manusia dalam menjalani kehidupan yang penuh kreativitas, kedamaian, dan kasih.

Menurut Levy, setiap individu memiliki jiwa yang perlu dipelihara untuk mencapai kedamaian dan ketenangan dalam diri.

Salah satu cara merayakannya adalah dengan melakukan meditasi untuk mengusir pikiran-pikiran negatif. 

Selain itu, Hari Roh Manusia juga menjadi waktu yang tepat untuk merefleksikan pencapaian hidup dan bagaimana setiap orang berkontribusi sebagai manusia dalam dunia ini.

Hari Ulang Tahun Kota Parepare

Tanggal 17 Februari menjadi momen yang sangat penting bagi Kota Parepare, Provinsi Sulawesi Selatan, karena pada hari ini diperingati Hari Ulang Tahun Kota Parepare.

Kota Parepare secara resmi menjadi kota berdasarkan UU No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, dan hari jadinya ditetapkan pada tanggal pelantikan Walikotamadya Pertama Parepare, H. Andi Mannaungi, pada 17 Februari 1960. Penetapan ini tercatat dalam Surat Keputusan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah No. 3 Tahun 1970.

Parepare memiliki sejarah yang kaya, yang dulunya merupakan wilayah Kerajaan Soreang dan Kerajaan Bacukiki.

Salah satu peristiwa penting dalam sejarah Parepare terjadi ketika Raja Gowa XI, Manrigau Dg. Bonto Karaeng Tonapaalangga (1547-1566), mengunjungi daerah ini.

Dalam perjalanan dari Kerajaan Bacukiki ke Kerajaan Soreang, Raja Gowa yang dikenal sebagai ahli strategi dan pelopor pembangunan tertarik pada keindahan alam di kawasan tersebut, dan spontan menyebut tempat itu "Bajiki Ni Pare" yang berarti "Baik dibuat pelabuhan Kawasan ini."

Sejak saat itu, nama "Parepare" melekat sebagai Kota Pelabuhan.

Kota Parepare kemudian menjadi ramai dikunjungi, termasuk oleh orang-orang Melayu yang datang berdagang ke kawasan Suppa.

Pada masa penjajahan Hindia Belanda, Parepare menjadi tempat tinggal seorang Asisten Residen dan seorang Controlur atau Gezag Hebber sebagai pimpinan pemerintahan Belanda.

Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, struktur pemerintahan Parepare pun disesuaikan dengan Undang-Undang No. 1 Tahun 1945, yang membentuk Komite Nasional Indonesia.

Hari Kubis Nasional

Tanggal 17 Februari juga diperingati sebagai Hari Kubis Nasional atau National Cabbage Day di Amerika Serikat.

Melansir dari National Day Calendar, kubis atau kol adalah makanan kuno yang berasal dari Asia Kecil (sekarang Turki) dan Mediterania timur.

Penjelajah Perancis, Jacques Cartier, dikenal sebagai orang pertama yang membawa kubis ke Amerika.

Kubis memiliki beragam cara penyajian, mulai dari dimakan mentah, dikukus, hingga ditumis, dan menjadi bahan populer dalam berbagai resep di Asia, Jerman, Irlandia, dan Latin.

Selain rasanya yang lezat, kubis juga memiliki banyak manfaat kesehatan. Dengan hanya mengandung sekitar 6 kalori per daun, kubis menjadi pilihan makanan rendah kalori yang sering dijadikan bagian dari program diet. Tanpa lemak atau kolesterol, rendah natrium dan karbohidrat, serta kaya akan vitamin C, kubis menjadi makanan yang baik untuk tubuh.

Meski demikian, hingga kini tidak diketahui siapa yang menginisiasi peringatan Hari Kubis Nasional.

Dengan sederet perayaan yang hadir pada tanggal 17 Februari ini, kita bisa melihat bagaimana setiap hari memiliki makna dan pesan penting, dari pelestarian satwa hingga penghargaan terhadap makanan sehat.

Demikianlah sederet peristiwa ataupun perayaan yang diperingati pada tanggal 17 Februari. Hari ini tidak hanya menjadi momen penting bagi Kota Parepare, tetapi juga bagi dunia, dengan adanya peringatan Hari Trenggiling Sedunia, Hari Roh Manusia, dan Hari Kubis Nasional.

Setiap perayaan ini mengandung makna yang mendalam, mulai dari upaya pelestarian alam, refleksi atas nilai-nilai kemanusiaan, hingga penghargaan terhadap kekayaan pangan.

Semua ini mengingatkan kita akan pentingnya menjaga keseimbangan dalam hidup, baik itu terhadap alam, diri sendiri, maupun sesama.

 

(Dwi Wulandari - UMB)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved