Kamis, 4 Juni 2026

Perampokan Sadis Satu Keluarga di Serang

Motif Sebenarnya Pembunuhan Petry Warga Serang yang Tewas Terikat, Bukan Perkara Transaksi Tanah 

Motif sebenarnya pembunuhan Petry Sihombing (35) warga Serang Banten yang tewas dalam keadaan tengkurap dengan tangan diikat.

Tayang:
Editor: Rita Lismini
TribunSumsel
PEMBUNUHAN SADIS - Kolase foto Petry Sihombing semasa hidup bersama suaminya (Kiri) dan ditemukan tewas terikat (Kanan) korban perampokan sadis di Serang Banten, Selasa (3/6/2025). 

TRIBUNBENGKULU.COM - Motif sebenarnya pembunuhan Petry Sihombing (35) warga Serang Banten yang tewas dalam keadaan tengkurap dengan tangan diikat.

Sempat beredar kabar bahwa motif pembunuhan Petry bukanlah perampokan biasa melainkan berkaitan dengan perkara transaksi tanah. 

Sebab, warga bernama Ishak Nurdin mengatakan tidak ada yang hilang cuma berkas di rumah korban tampak berserakan.

"Di sini enggak kehilangan apa-apa, cuma berkas aja acak-acakan," ungkapnya kepada wartawan, Minggu, masih dari TribunBanten.com.

Nurdin pun menduga, kasus tersebut bukan perampokan biasa.

Apalagi, korban baru selesai transaksi tanah yang ditandatangani oleh Petry Sihombing.

"Dugaannya ada keselisihan paham, apalagi kerjanya (Wadison) di bank (Keliling). Dengar informasi sih habis transaksi tanah, tandatangan si istrinya," jelasnya.

Terbaru, Kakak sekaligus pengacara korban perampokan disertai pembunuhan di Serang, Toni Lembas Pasaribu mengungkapkan beberapa barang berharga milik korban yang hilang.

Menangapi hal itu, Toni mengatakan, uang dan emas hilang dari rumah Petry Sihombing dan Wadison Pasaribu di Perumahan Puri Anggrek, Walantaka, Kota Serang, Banten.

"Jadi, harta yang hilang itu berupa uang dan ada juga cincin emas yang tidak ditemukan," kata Toni saat dihubungi melalui telepon oleh wartawan, Senin (2/6/2025). 

Namun, Toni belum bisa memastikan berapa jumlah uang dan gram emas serta barang lain yang hilang tersebut. 

Sebab, rumah adiknya saat ini tengah dipasang garis polisi guna proses penyelidikan lebih lanjut.

"Karena kan sekarang posisi rumah itu belum bisa kami periksa. Polisi juga belum selesai melakukan olah TKP. Ini baru selesai dari Inafis," ujar dia. 

Toni menambahkan, dari keterangan adiknya yang saat ini masih dalam perawatan di RS Bhayangkara Polda Banten, aksi pelaku dilakukan sangat cepat. Karena itu, korban tidak mengetahui berapa jumlah dan tidak bisa mengenali para pelaku. 

Apalagi, saat kejadian, mukanya langsung ditutup dari belakang dan dipukul hingga tak sadarkan diri. 

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved