Kamis, 11 Juni 2026

Guru di Bekasi Resign Massal

Perilaku Aneh Kepala Sekolah di Bekasi, Hingga Buat Para Guru Resign Massal

Para guru di salah satu sekolah swasta di Bekasi resign massal gegara kerja di luar job desk.

Tayang:
Editor: Yuni Astuti
Rendy Rutama/Wartakotalive
GURU RESIGN MASSAL - Foto guru di Bekasi yang melakukan resign massal, ngaku bekerja di luar jobdesk, Rabu (18/6/2025). Perilaku aneh kepala sekolah di Bekasi, hingga buat para guru melakukan resign massal. 

TRIBUNBENGKULU.COM - Heboh para guru di salah satu sekolah swasta di bekasi resign secara massal gegara perilkau kepala sekolah.

Adapun kejadian guru resign massal ini terjadi di Jalan Baru Perjuangan RT 04 RW 11 Marga Mulya, Kecamatan bekasi Utara, Kota Bekasi.

Mereka mengecam perlakuan kepala sekolah sekaligus kepala yayasan terhadap para guru yang mengajar.

Hal ini karena tugas para guru seperti mengajar di sekolah, ternyata diberi pekerjaan di luar job desk.

Seorang guru, Salsabila Syafwani, mengatakan, cara-cara kepala yayasan yang juga kepala sekolah memperlakukan para guru seperti asisten rumah tangga (ART) membuat ia bersama rekan guru lainnya menjadi tak betah.

"Kami kan dikontrak sebagai staf pendidik, tapi terkadang kami tuh diberikan jobdesk di luar tugas kami sebagai guru, jadi kadang masalahnya di situ aja sih," kata Salsabila dilansir dari TribunBekasi.com, Rabu (18/6/2025).

Anisa Dwi Zahra, guru lainnya, menjelaskan, dia bersama guru-guru lainnya diperlakukan mirip pembantu rumah tangga.

"Saya pernah disuruh belanja kebutuhan rumah tangga, nganter jemput anak beliau. Jadi banyak job desk yang tidak sesuai dengan tugas kami, jadi kita tuh disuruh jalani job desk kayak ART-nya mereka," jelas Anisa, Senin (16/6/2025).

Bahkan kata Anisa, dirinya sempat diminta membeli ayam goreng untuk anak pemilik yayasan dan lokasinya pun cukup jauh.

"Saya pernah disuruh membeli ayam goreng jauh-jauh ke Jatiasih, padahal ayam goreng di sekitar sini (Bekasi Utara) kan juga ada, Saya sudah komplain, kenapa beli jauh-jauh, terus dari pihak yayasan tidak tahu alasannya apa, akhirnya ya saya jalanin aja," tuturnya.

Meskipun kerap diberikan uang tambahan, namun Anisa tetap keberatan dengan perlakuan kepala yayasan tersebut.

"Dapat uang bensin, tapi keberatan karena jauh sih, jarak dari sini ke tempat ayamnya itu kan lumayan jauh," ucapnya dengan wajah cemberut.

Tenaga pelajar lainnya, Raihan Tri Wahyudi, menegaskan setiap hari sebelum bekerja, ia selalu diminta ke rumah pemilik yayasan terlebih dahulu untuk mengantar anaknya sekolah.

"Setiap hari sebelum bekerja, harus ke rumah beliau (pemilik yayasan) untuk mengantar anak-anaknya berangkat sekolah," ucapnya.

Raihan mengatakan dirinya berat hati menolak permintaan pemilik yayasan karena menyadari dirinya berstatus karyawan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved