UMKM Bengkulu
Rita dan Kecombrang: Merawat Warisan Desa Rejang Lebong Bengkulu, dari Dapur hingga Pentas Nasional
Rita Wati dan warga Desa Pal VIII Rejang Lebong olah kecombrang jadi sirup herbal, wariskan kearifan lokal hingga ke pentas nasional.
Penulis: M Rizki Wahyudi | Editor: Ricky Jenihansen
Laporan Reporter TribunBengkulu.com, M. Rizki Wahyudi
TRIBUNBENGKULU.COM, REJANG LEBONG - Sejak tahun 2017, Rita Wati (54) bersama sejumlah warga Desa Pal VIII, Kecamatan Bermani Ulu Raya, telah mengembangkan usaha pengolahan makanan dan minuman berbahan dasar tanaman kecombrang.
Usaha ini bukan semata-mata didorong oleh peluang ekonomi, melainkan juga oleh keinginan kuat untuk melestarikan dan mengangkat kembali kearifan lokal yang nyaris terlupakan.
Pasalnya, pemanfaatan tanaman kecombrang di Desa Pal VIII sudah berlangsung sejak tahun 1970-an.
Saat itu, masyarakat memanfaatkan kecombrang untuk menyuburkan sawah, terutama ketika tanaman padi memasuki masa pembentukan bulir.
“Memang sejak lama di desa ini telah menggunakan tanaman itu,” jelas Rita.
Berangkat dari tradisi tersebut, Rita mulai menggali lebih dalam potensi kecombrang.
Bersama kelompoknya di Kelompok Perempuan Peduli Lingkungan (KPPL) Maju Bersama, ia mengolah kecombrang menjadi produk sirup dengan cita rasa khas yang unik dan menyegarkan.
Produk ini tidak hanya diminati oleh masyarakat lokal, tetapi juga kerap dipamerkan dalam berbagai ajang UMKM, mulai dari tingkat Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu, hingga ke tingkat nasional.
Harga satu botol sirup kecombrang dibanderol Rp25.000.
Namun, produksinya masih terbatas karena dikerjakan secara rumahan.
“Sirup kecombrang ini rasanya khas sekali. Aromanya segar dan punya potensi besar sebagai minuman herbal alami,” jelas Rita.
Lebih dari sekadar tanaman hias atau pelengkap masakan, kecombrang memiliki potensi besar sebagai bahan pangan olahan.
Tanaman rempah tropis ini dikenal lewat bunganya yang berwarna merah muda mencolok, beraroma harum, dan memiliki rasa khas—sedikit pedas dan asam.
“Awalnya kami olah buah kecombrang karena rasanya segar dan asam. Tapi sekarang buahnya semakin langka, jadi kami alihkan ke bagian bunganya. Hasilnya tetap enak dan beraroma khas,” ungkap Rita.
| Coffee Senja Tempat Nongkrong Favorit Baru di Bengkulu Selatan dengan Nuansa Persawahan dan Pantai |
|
|---|
| Dari Limbah Jadi Oleh-Oleh Mancanegara, UMKM Bengkulu Panen Pesanan Selama Ramadan |
|
|---|
| Dari Dapur Rumah, UMKM Mochica Bengkulu Sukses Kembangkan Dessert Kekinian |
|
|---|
| Kuliner Baru di Bengkulu, Dapoer Soedjati Sajikan Menu Terjangkau Mulai Rp10.000 |
|
|---|
| Pantai Batu Tahu di Bengkulu, Destinasi Unik Favorit Wisatawan Pemburu Sunset |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bengkulu/foto/bank/originals/Sirup-kecombrang.jpg)