Sabtu, 6 Juni 2026

Diplomat Muda Tewas

HP Hilang, Tapi Laptop Arya Daru Buka Tabir Kematian Diplomat Muda

Meski ponsel korban hingga kini belum ditemukan, penyidik berhasil mengungkap sejumlah petunjuk penting dari laptop milik Arya. 

Tayang:
Editor: Hendrik Budiman
ig/ddaru_chee
DIPLOMAT KEMENLU TEWAS - Potret Arya Daru Pangayunan, diplomat dan staf di Kementerian Luar Negeri RI semasa hidup sebelum ditemukan tewas dalam kondisi kepala dililit lakban di indekos di Gondangria, Jakarta Pusat. 

TRIBUNBENGKULU.COM - Misteri kematian diplomat muda Kementerian Luar Negeri, Arya Daru Pratama, mulai menemukan titik terang. 

Meski ponsel korban hingga kini belum ditemukan, penyidik berhasil mengungkap sejumlah petunjuk penting dari laptop milik Arya. 

Temuan digital forensik ini disebut menjadi kunci awal dalam membongkar apa yang sebenarnya terjadi sebelum sang diplomat ditemukan tewas mengenaskan di kamar kosnya.

Polisi masih mencari ponsel milik Arya Daru hingga saat ini masih belum ditemukan.

"(Ponsel Arya) Belum ditemukan," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Ade Ary Syam Indradi kepada wartawan, Jumat (25/7/2025). 

Hal yang sama juga disampaikan oleh Komisioner Kompolnas, Choirul Anam.

Informasi terakhir yang pihaknya dapatkan, jika ponsel Arya belum ditemukan.

"Kemarin kami mendapat penjelasan soal HP. HP ini belum ditemukan. Oleh karenanya masih ada proses soal jejak digital itu. Penting untuk peristiwanya tapi apakah ini menentukan penyebab kematian, saya kira penyebab kematiannya tidak di situ," ujarnya. 

Anam menyebut ponsel tersebut penting untuk diperiksa.


Sementara pemeriksaan digital forensik dari barang elektronik korban lain termasuk laptop sudah terang.

Meski begitu, terkait penyebab kematian korban masih harus menunggu hasil autopsi. 

"Rekam jejak digital lain dan beberapa benda digital lainnya saya kira sudah cukup terang. Tinggal penyebab kematiannya dengan autopsi," ungkapnya.

Polisi Kantongi Hasil Labfor

Penyelidikan kasus kematian misterius diplomat muda Kementerian Luar Negeri, Arya Daru Pratama, memasuki babak baru. 

Kepolisian mengungkap telah mengantongi hasil pemeriksaan Laboratorium Forensik (Labfor) terhadap sejumlah barang bukti yang ditemukan di lokasi kejadian. 

Temuan tersebut disebut-sebut membuka petunjuk baru yang bisa mengarah pada titik terang penyebab kematian Arya Daru.

keluarnya hasil labfor ini dibenarkan oleh Kasubbid Penmas Bid Humas Polda Metro Jaya, AKBP Reonald Simanjuntak.

“Untuk hasil labfor sudah keluar,” kata Reonald, kepada wartawan, di Mapolda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Jumat (25/7/2025) dikutip dari WartaKotalive.com.

Baca juga: Masih Jadi Misteri, Ponsel Arya Daru Belum Ditemukan hingga Ransel yang Menghilang

Keluarnya hasil labfor ini menjadi tanda bahwa kasus kematian diplomat muda Arya Daru akan menemui titik terang.

Namun, Reonald menjelaskan, penyidik masih melakukan proses sinkronisasi terhadap hasil tersebut. 

Proses ini diperlukan untuk memastikan kesesuaian antara hasil labfor dengan alat bukti lain yang telah dikumpulkan.

“Sekarang masih dalam tahap sinkronisasi, kemudian mengumpulkan semua alat bukti untuk menemukan fakta sebenarnya," tutur dia.


"Nantinya, hasil lengkap akan disampaikan oleh Direktorat Reserse Kriminal Umum,” sambung Reonald.

Diketahui, hasil labfor ini akan mengungkap penyebab sebenarnya almarhum meninggal dunia.

Berdasarkan penuturan dari Kompolnas, hasil labfor ini adalah hal terakhir yang ditunggu setelah Polda Metro Jaya melakukan serangkaian penyelidikan.

"Dipastikan sekarang adalah bagaimana kita menunggu hasil labfor, sangat ditunggu-tunggu penyebab kematian daripada almarhum tersebut," kata Ketua Harian Kompolnas, Arief Wicaksono, Jumat.

"Apakah karena kehabisan napas, atau kah ada sebab lain, inilah yang sedang ditunggu," ungkap Arief.

Arya Daru di Rooftop Sebelum Tewas

Momen Arya Daru Pangayunan naik ke rooftop gedung Kemlu di malam hari sebelum pulang ke kosannya pada Senin (7/7/2025).

Di momen kedatangannya ke kantor Kementerian Luar Negeri (Kemlu) itu, gelagat Arya Daru tampak mencurigakan.

Fakta itu lah yang tengah digali pihak kepolisian yakni guna mengungkap penyebab kematian Arya Daru yang misterius.

Arya Daru ditemukan tewas mengenaskan dengan kondisi kepala terlilit lakban di dalam kamar kosannya di kawasan Menteng, Jakarta Pusat pada Selasa (8/7/2025) pukul 07.40 Wib.

"Korban ditemukan dalam kondisi wajah tertutup plastik kemudian terlilit lakban berwarna kuning di tempat tidurnya kemudian tertutup selimut. Korban di atas tempat tidurnya ditemukan menggunakan kaos dan celana pendek," ungkap Kombes Ade Ary Syam, dilansir TribunnewsBogor.com dari tayangan Kompas TV, Kamis (24/7/2025).

Sebelum ditemukan tak bernyawa, Arya Daru sempat terekam CCTV kosannya masih hidup sampai pukul 23.23 Wib.

Arya Daru juga sempat terekam CCTV baru pulang ke kosannya sekira pukul 23.00 Wib lewat.

Dalam rekaman CCTV itu Arya Daru terlihat sedang membuang sampah ke luar kosan.

Belakangan terkait jejak terakhir Arya Daru, pihak kepolisian membongkar fakta baru.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Ade Ary Syam mengungkap temuan baru soal jejak Arya Daru sebelum meregang nyawa.

Rupanya sebelum pulang ke kosan, Arya Daru sempat mampir ke kantor Kemlu.

Dari rekaman CCTV di gedung Kemlu itu terkuak bahwa Arya Daru tiba di lantai sekira pukul 21.43 Wib.

Selama satu jam lebih Arya Daru berada di rooftop lantai 12.

"Hasil pendalaman terhadap CCTV yang ada di gedung Kemenlu tempat korban bekerja, hasil pemeriksaan saksi-saksi. Maka diduga tanggal 7 Juli 2025 jam 21.43 sampai jam 23.09 atau sekitar satu jam 26 menit, diduga korban berada di rooftop lantai 12 gedung Kemenlu," kata Kombes Ade Ary Syam.

Tak cuma mendapatkan bukti rekaman soal keberadaan Arya Daru saja.

Polisi juga berhasil mengungkap fakta soal barang-barang yang ditinggalkan sang diplomat muda di rooftop tersebut.

Mulanya Arya Daru datang ke rooftop Kemlu membawa tas dan belanjaan.

Namun saat pergi meninggalkan rooftop, Arya Daru meninggalkan dua barangnya itu.

"Penyelidik mendapatkan fakta, berdasarkan pengamatan CCTV, awalnya korban naik membawa tas gendong dan tas belanja. Saat turun korban sudah tidak membawa tas gendong dan tas belanja," pungkas Kombes Ade Ary Syam.

Dari bukti tersebut, pihak kepolisian masih mendalaminya guna mengungkap penyebab kematian Arya Daru.

Hingga kini pihak kepolisian belum bisa menyimpulkan apakah penyebab kematian Arya Daru terkait dengan tindakan pidana alias pembunuhan atau bukan.

"Dalam peristiwa ini masih dalam penyelidikan, serangkaian upaya yang dilakukan penyelidik untuk menemukan atau mencari tahu apakah peristiwa ini ada dugaan pidana atau tidak. Ini masih di tahap itu," ujar Kombes Ade Ary Syam.

Lakban Bukan Dari Jakarta 

Misteri kematian diplomat muda Arya Daru kembali memasuki babak baru.

Salah satu barang bukti utama, yakni lakban kuning yang ditemukan menempel di tubuh korban, kini mulai terkuak asal-usulnya. Hasil penelusuran sementara menyebutkan, lakban tersebut ternyata bukan berasal dari Jakarta. 

Asal muasal lakban kuning dalam kematian diplomat Kementerian Luar Negeri Arya Daru Pangayunan mulai menemui titik terang Ternyata lakban tersebut dari Yogyakarta.

Lakban ini memang menjadi barang paling krusial dalam kematian Daru.

Perekat warna kuning tersebut melilit seluruh bagian kepala Daru.

Selain itu, lakban tersebut amat jarang ditemui di warung bahkan minimarket

Psikolog Zoya Amirin juga menyoroti lakban kuning tersebut. 

"Pemilihan warna kuning ini bukan lakban yang biasa dijual di minimarket yang sangat mudah, ini harus dipesan di online," kata Zoya.

Zoya merupakan sarjana Psikolog dan S2 Psikologi Klinis dari Universitas Indonesia. 

Ia mendalami bidang ilmu seksologi di Universitas Udayana hingga memiliki gelar Zoya Amirin, M.Psi.m FIAS.

Ia lahir 1975 dengan nama lengkap Zoya Dianaesthika Amirin. Zoya memiliki dua saudara kandung.

Menurut Zoya, lakban kuning tersebut umum di bidang industrial.

Sedangkan yang biasa dijual di warung atau minimarket adalah lakban cokelat dan hitam.

"Warna kuning kan industrial, sangat tebal," katanya.

Informasi beredar lakban kuning diduga dibeli sendiri oleh Arya Daru Pangayunan.

Ia diduga membelinya di sebuah toko di Yogyakarta.

Kakak ipar, Meta Bagus menceritakan terakhir bertemu Daru di Bantul, Yogyakarta pada 5 Juli 2025. 

Sedangkan Daru ditemukan tak bernyawa dalam kamar kos di Gondia International Guesthouse, Gondangdia, Jakarta Pusat pada 8 Juli 2025.

Terakhir bertemu Daru menumpahkan cerita pada Meta.

Selain tentang persiapan pindah ke Finlandia untuk bertugas sebagai diplomat, rupanya Daru juga sedang menyusun rencana liburan.

"Minggu depan katanya mau pada main ke Borobudur. Mungkin mau lihat-lihat. Ada acara apa atau mau jalan-jalan sama anak-anaknya, karena Daru kan mau persiapan untuk tugas barunya," kata Meta Bagus.

Meta Bagus merupakan kakak dari Meta Ayu Puspitantri, istri dari Arya Daru Pangayunan. Mereka tinggal di Jalan Munggur, Jomblang, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta.

Ketua Harian Kompolnas Arief Wicaksono Sudiutomo mengungkap hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) di kamar kos, hanya ditemukan sidik jari Daru. 

Termasuk pada lakban kuning yang menutup seluruh kepala dan wajahnya.

"Pada saat olah TKP diperiksa sidik jari di beberapa tempat termasuk lakban, hanya ada sidik jari dari almarhum," katanya.

Arief Wicaksono Sudiutomo adalah purnawirawan Polri jenderal bintang dua. 

Ia tercatat pernah menjabat sebagai Sekretaris NCB Interpol. Arief juga pernah bertugas sebagai Deputi Hukum dan Kerjasama Badan Narkotika Nasional (BNN).

Menurutnya penyidik dan ahli forensik sudah memeriksa DNA (Deoxyribonucleic Acid) di kamar kos Daru.

Kata Arief hasilnya, tidak ditemukan DNA orang lain selain Daru.

"Termasuk diperiksa juga DNA setelah dilibatkan ahli forensik di situ. Kemudian tidak ada lagi barang hilang. Barang yang ada sih seperti kayak obat, pernah sakit geerd yah," jelas Arief.

Mendengar fakta tersebut, Psikologi Forensik Reza Indragiri berpendapat soal dua kemungkinan penyebab kematian diplomat Kemlu Arya Daru Pangayunan.

Reza Indragiri mengatakan dengan adanya temuan sidik jari pada lakban kuning, kemungkinan penyebab kematian Daru ada dua.

"Tambahan informasi yang dipasok pak Arief barusan justru memberi dasar bagi saya untuk semakin kuat untuk mengeliminasi kemungkinan bahwa almarhum meninggal akibat perbuatan orang lain," katanya.

Dua kemungkinan penyebab kematian Daru yakni mengakhiri hidup dan kecelakaan.

"Kecelakaan sedang melakukan aktifitas apapun namun tanpa dia duga muncul situasi yang tidak bisa dia kendalikan sehingga disadari atau tidak almarhum masuk dalam situasi kritis sampai kemudian kehilangan nyawa, tapi dia tidak punya niatan untuk mengakhiri hidupnya, itu kecelakaan," jelasnya.

"Sementara bunuh diri sesesorang yang punya niatan untuk mengakhiri hidupnya," tambah Reza.

Misteri 34 Detik CCTV Kos Arya Daru Terpotong?

Rekaman CCTV di kos diplomat muda Arya Daru Pangayunan ternyata didapati terpotong atau hilang diduga diedit yang menunjukan adanya lompatan waktu dalam penunjukan waktu di video CCTV.

Video CCTV yang tertulis tanggal dan waktu 7 Juli 2025 jelang tengah malam yaitu pukul 23.25 detik 19 yang tiba-tiba melompat menjadi pukul 23.25 detik 53.

Ada video yang diduga terpotong atau hilang sekitar selama 34 detik di rekaman CCTV kos Arya Daru tersebut.

Berdasarkan keterangan polisi, pada waktu tersebut merupakan waktu setelah korban Arya Daru sulit dihubungi oleh istrinya.

Karena istri korban terakhir kontak dengan Arya Daru sekitar pukul 21.00.

Setelah itu istri korban menghubungi penjaga kos sampai tiga kali untuk meminta penjaga kos mengecek korban di kos.

Adanya 34 detik yang diduga hilang di video CCTV kos diplomat muda ini tidak membuat Penasihat Ahli Kapolri Irjen Pol (Purn) Aryanto Sutadi yakin.

Dia mengaku tidak yakin dalam waktu tersebut ada orang lain yang masuk ke kos korban di malam itu.

"Kalau cuman detik itu kan tidak memungkinkan orang masuk kemudian dihapus kan," kata Aryanto dikutip dari Youtube TV One, Rabu (16/7/2025).

Namun Ahli Digital Forensik Abimanyu Wachjoewidajat tidak sependapat dengan Aryanto.

Menurutnya, ini masih memungkinkan di detik-detik video CCTV yang hilang itu ada orang masuk.

"Mungkin lah," timpal Abimanyu.

Namun Aryanto kembali menjelaskan bahwa bukti yang muncul ke publik terkait kematian sang diplomat muda ini kini memang masih kurang lengkap.

Sementara polisi masih melakukan penyelidikan yang mendalam untuk mengungkap misteri kematian Arya Daru ini.

"Saya gak ngerti lah, makanya itu kan kita sekarang ini meraba-raba dari bukti yang tidak lengkap jadinya," kata Aryanto lagi.

Seharusnya, kata dia, bicara terkait kasus ini harus memakai kemungkinan yang lebih jelas dari alat bukti yang ada.

"Kita pakai kemungkinan yang lebih ada daripada alat bukti yang ada," katanya.

"Tapi kalau sekarang ini kita hasil outopsi aja gak ada, ya kita gak bisa mengatakan itu mengambil kesimpulan," ungkap Aryanto.


Artikel ini telah tayang di WartaKotalive.com

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved