Senin, 8 Juni 2026

UMKM Bengkulu

Melihat Perajin Parang di Kepahiang Bengkulu, Penuh Dedikasi dan Insting Tajam

Safarudin tampak sibuk di bengkel kecilnya yang ada di Kelurahan Pasar Kepahiang, Kepahiang Bengkulu, Minggu (27/7/2025) sore.

Tayang:
Penulis: Romi Juniandra | Editor: Ricky Jenihansen
Romi Juniandra/TribunBengkulu.com
PERAJIN PARANG KEPAHIANG - Perajin parang di Kepahiang, Provinsi Bengkulu, Safarudin pada Minggu (27/7/2025). Dia sudah menekuni usaha ini sejak tahun 2000. 

Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Romi Juniandra

TRIBUNBENGKULU.COM, KEPAHIANG - Safarudin tampak sibuk di bengkel kecilnya yang ada di Kelurahan Pasar Kepahiang, Kepahiang Bengkulu, Minggu (27/7/2025) sore.

Safarudin tampak tengah memanaskan sebuah parang di perapian. Saat bilah parang tampak sudah memerah, kemudian dipukul untuk dipadatkan.

Suhu panas terasa keluar dari tungku perapian, namun Safarudin tampak tidak merasakannya, dan terus membentuk parang.

Langkah ini dilakukan beberapa kali, sampai dia tampak puas dengan kepadatan dan bentuk parang, sebelum akhirnya dipanaskan lagi, dipukul sedikit lagi, dan kemudian direndam dalam air.

"Kita perlu memadatkan baja parang, agar bentuknya sesuai dengan yang kita inginkan, dan parangnya menjadi kuat, padat, dan awet," kata Safarudin kepada TribunBengkulu.com.

Safarudin sendiri merupakan salah satu perajin parang di Kepahiang, yang sudah bertahan selama puluhan tahun.

Dia bercerita bahwa keahlian membuat parang ini sudah turun temurun di keluarganya. Kakek dan nenek, serta ayahnya juga dulunya seorang perajin parang.

"Saya mulai membuka bengkel ini, terjun ke dunia ini mulai tahun 2000. Jadi, sudah 25 tahun," ujar dia.

Baca juga: Jaga Warisan Budaya, Sri Wanti Tetap Produksi Batik Tulis Kepahiang Meski Minim Pembeli

Menurut Safarudin, proses membuat parang tidaklah rumit.

Pertama, dia harus membeli bahan baku, yang biasanya merupakan baja per mobil, yang bisa dibeli per inci. Bahan baku ini bisa dibeli dari Kota Bengkulu, atau dari luar provinsi.

Bahan baku yang dibeli biasanya sudah berbentuk datar, sehingga siap diolah untuk menyesuaikan bentuk dan ukuran parang.

Langkah selanjutnya adalah membentuk parang, memotong, dan lalu proses pengolahan.

"Pengolahannya itu tadi, kita bakar hingga bajanya menjadi lembut, lalu kita tempa sesuai model. Jika sudah selesai, kita mengasah mata bilah dengan gerinda, sebelum kita haluskan dan asah menjadi parang siap pakai," kata dia.

Proses yang paling penting, lanjut Safarudin, ada di penempaaan, yang akan memadatkan parang sehingga menjadi kuar. Jika penempaan ini tidak tepat, maka parang akan mudah retak atau patah.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved