Rabu, 22 April 2026

Berita Bengkulu

Harimau Sumatera Terancam Punah, Seruan Aksi dan Kolaborasi Bergema di Bengkulu

Seruan penyelamatan Harimau Sumatera menggema di Bengkulu saat Hari Harimau Internasional 2025. Kolaborasi jadi kunci.

Penulis: Jiafni Rismawarni | Editor: Ricky Jenihansen
Jiafni Rismawarni/TribunBengkulu.com
HARI HARIMAU INTERNASIONAL - Suasana di acara peringatan Hari Harimau Internasional 2025 di Kota Bengkulu, Selasa (29/7/2025). Seruan penyelamatan Harimau Sumatera menggema di Bengkulu saat Hari Harimau Internasional 2025. 

Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Jiafni Rismawarni 

TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU - Pada hari spesial, 29 Juli, semangat untuk menyelamatkan Harimau Sumatera dari kepunahan bergema di Kota Bengkulu.

Peringatan Hari Harimau Internasional 2025 atau Global Tiger Day menjadi ajang harapan sekaligus refleksi bagi mereka yang peduli terhadap nasib sang raja hutan.

Tahun ini, tema yang diusung adalah "The Final of King’s Trail, It’s Time to Act." Dua kalimat yang menjadi pengingat bahwa jejak Harimau Sumatera kini semakin samar, tertutup oleh jejak-jejak manusia yang mempersempit ruang hidupnya.

Kegiatan ini diinisiasi oleh sejumlah komunitas lingkungan seperti Walhi, Kanopi Hijau, dan Tempua. Mereka bersatu suara menyuarakan bahwa Harimau Sumatera harus tetap memiliki jejak, bukan hanya di hutan Indonesia, tetapi juga dalam kesadaran kolektif masyarakat.

Dalam talkshow peringatan tersebut, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu, Himawan Sasongko, mengungkapkan keresahannya mengenai upaya konservasi yang selama ini berjalan secara terpisah.

“Pemda jalan sendiri, desa jalan sendiri, masyarakat pun begitu. Kita butuh satu lembaga yang diberi mandat jelas untuk mengendalikan dan mencegah konflik antara satwa dan manusia,” kata Himawan, Selasa (29/7/2025).

Himawan menegaskan bahwa kolaborasi bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah keniscayaan. Ia menekankan bahwa pendidikan harus menjadi pintu masuk penting dalam membangun kesadaran ekologis, dimulai sejak usia dini hingga ke masyarakat luas.

“Kita tidak bisa lagi kerja sendiri-sendiri. Formula kerja bersama dan sama-sama bekerja ini yang sedang kita dorong. Kalau tidak, Bengkulu bisa kehilangan jejak harimaunya selamanya,” imbuhnya.

Isu kelangsungan hidup Harimau Sumatera juga menjadi perhatian Anggota DPD RI, Destita Khairilisani. Ia berbicara lantang tentang pentingnya tanggung jawab kolektif dalam menjaga spesies ini, yang kini jumlahnya diperkirakan kurang dari 400 ekor.

“Tantangan kita hari ini adalah bagaimana menjaga agar harimau tidak menyusul Harimau Jawa dan Harimau Bali yang sudah punah,” ucap Destita.

Ia mengisahkan legenda dari salah satu wilayah di Provinsi Bengkulu, di mana masyarakat dahulu sering melihat harimau masuk ke desa. Bukan karena harimaunya menjadi lebih berani, melainkan karena hutan tempat tinggal mereka digunduli dan digantikan dengan permukiman.

“Kalau habitat mereka rusak, wajar mereka turun. Maka habitatnya harus kita lindungi,” paparnya.

Destita, yang juga merupakan anggota Komite III DPD RI, menyatakan komitmennya untuk memperjuangkan regulasi pelestarian satwa langka. Ia juga mendukung gagasan Menteri Agama untuk memasukkan materi konservasi ke dalam kurikulum sekolah.

“Jangan sampai anak-anak kita hanya tahu harimau dari gambar. Saya membayangkan cucu saya nanti hanya bisa lihat harimau dari TV. Itu menyedihkan,” tukasnya.

 

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved