Kasus Pembunuhan

Saksi Kunci Prada Lucky Sekarat Dianiaya Senior 20 Orang, Prada Richard Bisa Ungkap Tabir Semuanya 

Saksi kunci Prada Lucy sekarat dianiaya senior dan belasan rekannya, Ternyata Prada Richard bisa ungkap tabir semuanya. 

Editor: Rita Lismini
Tribunnews.com
KASUS PRADA LUCKY - Foto Prada Lucky semasa hidup sebelum tewas dianiaya senior dan belasan rekannya di Nusa Tenggara Timur, Selasa 12 Agustus 2025. 

TRIBUNBENGKULU.COM - Saksi kunci Prada Lucy sekarat dianiaya senior dan belasan rekannya, Ternyata Prada Richard bisa ungkap tabir semuanya. 

Prada Lucky bersama rekannya, Prada Ricard Junimton Bulan menjalani hukuman di sel tahanan di rumah jaga kesatrian, Nusa Tenggara Timur. 

Tepatnya Rabu, 30 Juli 2025 sekitar pukul 01.30 WITA, empat anggota Batalyon TP 834/WM Nagekeo, yakni Pratu Petris Nong Brian Semi, Pratu Ahmad Adha, Pratu Emanuel De Araojo, dan Pratu Aprianto Rede Raja, mendatangi rumah jaga kesatrian dan memukul keduanya menggunakan tangan kosong.

Tiga hari setelahnya, Sabtu, 2 Agustus 2025 sekitar pukul 09.10 WITA, Prada Ricard mengalami demam, sementara Prada Lucky muntah-muntah hingga keduanya dibawa ke Puskesmas Kota Danga untuk pemeriksaan.

Setelah diperiksa, Prada Ricard diizinkan pulang, sedangkan Prada Lucky dirujuk ke RSUD Aeramo karena hemoglobin (Hb) rendah.

Keesokan harinya, Minggu, 3 Agustus 2025, kondisi Prada Lucky dikabarkan mulai membaik setelah mendapat perawatan.

Prada Lucky bahkan sempat tertawa dan bercengkrama dengan Ibu Iren, ibu asuhnya, yang menjenguk pada Senin, 4 Agustus 2025 sekitar pukul 19.00 hingga 21.30 WITA. Ibu Iren juga sempat memberikan semangat dan menyuapi makan Prada Lucky.

Sayangnya, sekitar pukul 23.30 WITA, kondisi Prada Lucky menurun hingga dipindahkan ke ruang ICU dan dilakukan pemasangan ventilator guna membantu pernapasannya pada Selasa, 5 Agustus 2025 sekitar pukul 04.47 WITA.

Saksi Kunci Penganiayaan Prada Lucky

Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat (Kadispenad) Brigjen TNI Wahyu Yudhayana menjelaskan, peristiwa ini bermula dari kegiatan pembinaan prajurit.

Namun, proses pembinaan tersebut justru berujung tragis dengan tewasnya Prada Lucky.

Menurut Wahyu, pembinaan dilakukan terhadap beberapa personel, termasuk korban, dalam rentang waktu yang berbeda.

Kegiatan ini melibatkan sejumlah prajurit, sehingga penyidik membutuhkan waktu untuk mengungkap peran masing-masing pihak yang terlibat.

Ia menegaskan, pimpinan TNI AD tidak pernah mentolerir bentuk pembinaan yang menggunakan kekerasan, apalagi sampai mengakibatkan korban meninggal dunia.

Kasus Prada Lucky, kata Wahyu, menjadi bukti bahwa TNI AD berkomitmen menegakkan hukum secara tegas dan transparan.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved