Berita Bengkulu
Mahasiswa Klaim Peserta Aksi Terluka Saat Bentrok dengan Polisi di Simpang Lima
Mahasiswa mengklaim peserta aksi mengalami luka saat kericuhan dengan polisi dalam unjuk rasa di Simpang Lima Kota Bengkulu.
Penulis: Muhammad Panji Destama Nurhadi | Editor: Ricky Jenihansen
Ringkasan Berita:
- Aksi Aliansi Bengkulu Mengingat di Simpang Lima Bengkulu diwarnai ketegangan dengan polisi.
- Kericuhan terjadi saat massa berupaya melakukan pembakaran ban sebagai simbol protes.
- Mahasiswa menyampaikan lima tuntutan terkait isu nasional dan daerah.
- Massa mengklaim ada peserta aksi yang mengalami luka saat kericuhan.
- Hingga berita ditulis, belum ada keterangan resmi dari kepolisian terkait tudingan tersebut.
Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Panji Destama
TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU - Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Bengkulu Mengingat menggelar aksi unjuk rasa di kawasan Bundaran Fatmawati, Simpang Lima, Kota Bengkulu, Senin (15/6/2026), yang diwarnai ketegangan antara massa aksi dan aparat kepolisian.
Dalam aksi tersebut, massa menyuarakan sejumlah tuntutan terkait isu nasional dan daerah.
Namun, situasi memanas saat peserta aksi berupaya melakukan pembakaran ban sebagai bentuk simbolisasi protes.
Pembakaran ban itu sempat dicegah oleh pihak kepolisian.
Lantas, salah seorang mahasiswa membakar bajunya sebagai bentuk simbolisasi protes.
Sayangnya, aksi pembakaran itu diwarnai dorong-dorongan antara petugas kepolisian dan massa.
Tak sampai di situ, usai aksi dorong-dorongan tersebut mereda.
Salah seorang mahasiswa mencoba mengambil barrier yang ada di pinggir jalan untuk dibakar, hingga aksi kembali memanas.
Koordinator Aksi Aliansi Bengkulu Mengingat, Raditya, mengatakan aksi yang dilakukan merupakan bentuk ekspresi kekecewaan kelompok pemuda terhadap kondisi yang terjadi saat ini.
Menurutnya, massa membawa lima tuntutan utama, yakni menghentikan militerisme, penegakan hukum yang berkeadilan, penghentian Proyek Strategis Nasional (PSN), penolakan pembangunan batalion di Provinsi Bengkulu, serta penutupan KOPDES.
“Ini merupakan bentuk ekspresi kekecewaan kami sebagai kelompok pemuda terhadap kondisi negara saat ini,” kata Raditya dalam wawancara TribunBengkulu di Simpang 5 Kota Bengkulu, Senin (15/6/2026).
Raditya mengaku massa aksi sempat berupaya membakar ban sebagai simbol perlawanan.
Namun, upaya tersebut dicegah oleh aparat kepolisian.
| Pesan Kemenag Bengkulu di Peringatan 1 Muharram 1448 H, Momentum Hijrah dan Introspeksi Diri, |
|
|---|
| HMI Cabang Bengkulu Soroti Kebijakan Pemerintah, Isyaratkan Akan Turun Aksi |
|
|---|
| Sawah Terbesar di Bengkulu Tengah Terancam, Petani Sri Kuncoro Desak Irigasi dari PLTA Musi |
|
|---|
| Tahun Baru Islam Jadi Momentum Refleksi Diri, Bupati Bengkulu Tengah: Harus Produktif |
|
|---|
| Wali Kota Bengkulu Berharap Gaji PPPK Ditanggung Pemerintah Pusat: Masih Banyak yang Minta Jalan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bengkulu/foto/bank/originals/Massa-aksi-saat-mengambil-barrier-di-pinggir-jalan-simpang-5-Bengkulu.jpg)