Berita Kepahiang

Kisah Perempuan Buruh Tani Kopi di Kepahiang, Keringat Tak Sebanding dengan Harga Kopi yang Mahal

Sumanti (45 tahun), tampak tengah merumput, membersihkan kebun kopi di Desa Pelangkian, Kepahiang Bengkulu

Penulis: Romi Juniandra | Editor: Hendrik Budiman
Romi Juniandra/TribunBengkulu.com
BURUH TANI - Perempuan buruh tani di Kepahiang, Provinsi Bengkulu, Sumantinpada Jumat (29/8/2025). Sumanti mengatakan tetap semangat bekerja untuk hidupi keluarga. 

Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Romi Juniandra

TRIBUNBENGKULU.COM, KEPAHIANG - Kisah Sumanti (45 tahun) tampak tengah merumput, membersihkan kebun kopi di Desa Pelangkian, Kepahiang Bengkulu, Jumat (29/8/2025) sore.

Berbekal sebuah arit, tangannya bergerak memotong rumput dan semak liar yang tumbuh subur di antara batang-batang kopi tidak hanya dedauanan, akar rumput juga ikut dicabut.

Karena bekerja di bawah terik matahari, Sumanti melengkapi diri dengan celana dan baju lengan panjang, serta topi di kepala.

Sumanti tidak sendirian ada dua perempuan lain yang juga bekerja seperti dirinya, membersihkan kebun kopi milik orang lain.

Mereka sudah tiga hari membersihkan kebun tersebut.

"Kalau dilihat dari luasnya, kira-kira enam hari lagi, selesai ini," kata Sumanti kepada TribunBengkulu.com, Jumat (29/8/2025) pukul 15.06 WIB sore.

Baca juga: Harga Kopi di Kepahiang Bengkulu Kembali Tembus Rp 60 Ribuan per Kilogram, Petani Gembira

Pendapatan sebagai buruh tani, kata dia, tidak menentu dalam sebulan.

Sumanti dan buruh tani lain digaji harian antara Rp 80 ribu hingga Rp 100 ribu per hari.

"Tergantung dengan bos. Kalau dapat bos yang baik, kita diberi lebih," ujar dia.

Hanya saja, karena hanya buruh tani, Sumanti tidak bekerja setiap hari, hanya saat ada orang yang memanggilnya untuk bekerja.

Terkadang, dalam satu minggu, dirinya bisa mendapatkan pekerjaan setiap hari. Namun, sering juga tidak ada panggilan kerja.

"Kita terima semua kalau ada orang mengajak. Kadang memanen terong, kadang merumput. Kita ambil semua," kata dia.

Sumanti mengatakan pekerjaan sebagai buruh tani ini sudah dilakoni selama 10 tahun terakhir, dan digunakan untuk kebutuhan dapur dan keluarganya.

Dia memiliki seorang suami, yang juga buruh bangunan harian, serta tiga orang anak. Anak pertama dan anak kedua sudah putus sekolah, sementara anak ketiga masih duduk di bangku SMP.

Halaman
12
Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved