Selasa, 5 Mei 2026

Berita Kepahiang

Respon Ketua DPRD Kepahiang terkait Tujuh Wartawan Dikunci dan Diancam Kadis

Ketua DPRD Kepahiang Gregory Dayefiandro merespon terkait tujuh wartawan di Kepahiang yang mendapat ancaman pejabat saat menjalankan tugas

Tayang:
Penulis: Bima Kurniawan | Editor: Rita Lismini
M. Bima Kurniawan/Bima Kurniawan
KASUS PENGANCAMAN - Ketua DPRD Kepahiang Gregory Dayefiandro saat diwawancarai TribunBengkulu.com pada Senin (4/5/2026). Ketua DPRD Kepahiang Gregory Dayefiandro merespon terkait tujuh wartawan di Kepahiang yang mendapat ancaman pejabat saat menjalankan tugas, pada Kamis sore (30/4/2026).  
Ringkasan Berita:
  • Gregory Dayefiandro merespons dugaan ancaman terhadap tujuh wartawan di Kepahiang oleh pejabat berinisial ZH.
  • Insiden terjadi saat wartawan melakukan konfirmasi, ZH diduga mengancam, memukul meja, hingga mengunci ruangan.
  • Tujuh wartawan korban kemudian melaporkan kejadian ke Polres Kepahiang.
  • Ketua DPRD mendorong penyelesaian secara kondusif melalui restorative justice (kekeluargaan).
  • Ia menegaskan pemimpin tidak boleh arogan dan berharap kejadian serupa tidak terulang.

Laporan Reporter TribunBengkulu.com, M. Bima Kurniawan  

TRIBUNBENGKULU.COM, KEPAHIANG - Ketua DPRD Kepahiang Gregory Dayefiandro merespon terkait tujuh wartawan di Kepahiang yang mendapat ancaman pejabat saat menjalankan tugas, pada Kamis sore (30/4/2026). 

Ancaman tersebut diduga dilakukan oleh Kepala Dinas di Kepahiang berinisial ZH saat para wartawan yang hendak melakukan konfirmasi berita dan menjalankan tugas peliputan. 

Berdasarkan informasi yang dihimpun, ketujuh wartawan yang menjadi korban adalah Hendri Irawan (BETV), M. Bima (Tribun Bengkulu), Alex Chandra (TVRI), Jimmy Mahendra (Radar Kepahiang), Ferik Leorisando (Liputan Satu), Rahmat (Semarakpost), dan Angga (JepretNews). 

Namun saat dikonfirmasi ZH memberikan respon dengan tindakan memukul meja serta ucapan dengan nada mengancam "Awas kamu kalau ada yang merekam, kalau aku dan keluarga aku sampai bekasus gara-gara kamu bertujuh ini, satu-satu kamu aku kasih perhitungan," meniru ucapanya. 

Selain itu, menerangkan bahwa Zaili juga mengunci pintu ruangannya untuk mengurung awak media tersebut.  

Sehingga atas kejadian tersebut, sekitar pukul 19.00 WIB, awak media tersebut melaporkan tindakan ZH ke Polres Kepahiang untuk ditindaklanjuti.  

Merespon hal tersebut Igor menerangkan bahwa permasalahan tersebut seharusnya bisa diselesaikan dengan cara baik-baik. 

"Saya kurang tau peristiwanya secara detail. Tapi jelas yang saya inginkan adalah kondusifitas dan saya rasa pihak kepolisian saat ini memang mengedepankan Restorative justice (RJ) diselesaikan secara kekeluargaan tanpa melukai salah satu pihak ini akan lebih kondusif dan lebih baik untuk dicontoh oleh masyarakat," ucap Igor. 

Menurut Igor bahwa seharusnya pemimpin dapat mencerminkan sistem dalam penyelesaian masalah tanpa arogansi. 

"Terkait arogansi itu saya tidak pernah mentoleransi, kalau diranah DPRD saya tidak pernah mencerminkan arogansi walaupun saya pimpinan disini saya tidak pernah mengajarkan atau mencontohkan sistem kepemimpinan yang arogan," jelas Igor. 

Harapannya peristiwa serupa tidak terjadi lagi dan kedua belah pihak dapat saling menjaga hubungan kemitraan.  

"Saya selalu percaya bahwa semua masalah bisa didiskusikan. Saya rasa kita sebagai pimpinan harus bisa memberikan contoh untuk bisa menyelesaikan masalah dengan kepala dingin," pungkas Igor.

Sumber: Tribun Bengkulu
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved