Senin, 8 Juni 2026

Berita Bengkulu

Kisah Hidup Pandi: Terbaring Sakit Lima Tahun, Bertahan dengan Bantuan Pemerintah

Terbaring sakit selama lima tahun, Pandi menjalani hidup dalam keterbatasan bersama dua anak perempuannya.

Tayang:
Penulis: Bima Kurniawan | Editor: Rita Lismini
M. Bima Kurniawan/Bima Kurniawan
KISAH PILU - Warga Kota Bengkulu Pandi saat diwawancarai TribunBengkulu.com pada Jumat (9/1/2026). Terbaring sakit selama lima tahun di rumah kayu sederhana, Pandi bertahan membesarkan dua anak perempuannya. Tanpa bisa bekerja, ia mengandalkan bantuan pemerintah dan kepedulian warga demi menyambung hidup. 

Ringkasan Berita:
  1. Pandi, pria paruh baya asal Pulau Jawa, kini hidup terbaring sakit di sebuah rumah kayu sederhana di Kota Bengkulu bersama dua anak perempuannya.
  2. Lima tahun terakhir, Pandi tak lagi bisa bekerja akibat saraf terjepit yang membuatnya lumpuh dan hanya bisa berbaring.
  3. Cobaan bertambah setelah sang istri meninggal pada 2019, sementara kondisi ekonomi memaksa kedua anaknya berhenti sekolah.
  4. Kini Pandi bertahan hidup dari bantuan pemerintah dan kepedulian warga.

Laporan Reporter TribunBengkulu.com, M. Bima Kurniawan
 
TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU - Di sebuah rumah kayu sederhana di Jalan Penantian, RT 10 RW 05, Kelurahan Pematang Gubernur, Kecamatan Muara Bangkahulu, Kota Bengkulu, Pandi menjalani hari-harinya dengan tubuh yang tak lagi sekuat dulu. 

Pria paruh baya itu kini hanya bisa berbaring atau duduk, menatap waktu yang berjalan pelan di tengah keterbatasan hidup.

Bersama dua anak perempuannya, Pandi bertahan dalam sunyi. 

Rumah yang ia tempati berdiri seadanya lantai semen, dinding kayu, satu dapur yang bahkan kerap menjadi kandang ayam. 

Namun di sanalah harapan kecil tetap disimpan.

Pandi bukan warga asli Bengkulu, puluhan tahun lalu, ia datang dari Pulau Jawa dengan niat sederhana. 

Yakni ingin bekerja dan mengubah nasib.

"Aku awalnya di Jawa, bisa tinggal di Bengkulu karena ikut orang namanya Pak Rustam, bantu-bantu kerja di rumahnya,” ucap Pandi saat diwawancarai Tribun

Sejak akhir 1988, hidupnya berpindah-pindah. Pernah mengontrak rumah, lalu menumpang di rumah warga, hingga akhirnya menetap di tempatnya sekarang.

“Sempat ngontrak di Kelurahan Tengah Padang, terus pindah ke sini, numpang di rumah Pak Kardin warga Curup,” kata Pandi.

Tahun-tahun berlalu. Ia menikah, membangun keluarga, dan mencari nafkah sebagai buruh bangunan. 

Upah harian ia sisihkan untuk memelihara ayam kampung, berharap ada tambahan penghasilan.

“Saya dulu kerja bangunan, gaji 125 ribu per hari. Saya sisihkan buat beli bibit ayam kampung,” jelas Pandi.

Namun hidup berubah drastis ketika penyakit datang. 

Saraf terjepit membuat tubuhnya lumpuh perlahan. Lima tahun terakhir, Pandi tak lagi mampu bekerja, bahkan berjalan.

Sumber: Tribun Bengkulu
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved