Senin, 8 Juni 2026

Penertiban Pasar Panorama

Curhat Pilu Pedagang Pasar Panorama, Bongkar Lapak Sendiri dan Minta Solusi Tempat Berjualan

Sejumlah pedagang di kawasan Pasar Panorama di Jalan Salak Raya mengaku pasrah membongkar lapak dagangan mereka demi mematuhi aturan pemerintah

Tayang:
Penulis: Bima Kurniawan | Editor: Hendrik Budiman
M. Bima Kurniawan/Bima Kurniawan
CURHAT - Pedagang Pasar Panorama Ningsih (kiri) dan Siti Aminah Panjaitan (kanan) saat diwawancarai TribunBengkulu.com pada Senin (19/1/2026). Sejumlah pedagang di kawasan Pasar Panorama di Jalan Salak Raya mengaku pasrah membongkar lapak dagangan mereka demi mematuhi aturan pemerintah pada Senin (19/1/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Pedagang di kawasan Pasar Panorama di Jalan Salak Raya mengaku pasrah membongkar lapak dagangan mereka demi mematuhi aturan pemerintah, pada Senin (19/1/2026). 
  • Pedagang mengaku bingung harus pindah ke mana setelah lapak dibongkar
  • Pedagang mengaku akan dipindahkan ke dalam pasar, namun kondisi di dalam dinilai tidak memungkinkan. 

 

Laporan Reporter TribunBengkulu.com, M. Bima Kurniawan 

TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU - Sejumlah pedagang di kawasan Pasar Panorama di Jalan Salak Raya mengaku pasrah membongkar lapak dagangan mereka demi mematuhi aturan pemerintah, pada Senin (19/1/2026). 

Namun di balik kepatuhan tersebut, tersimpan kegelisahan karena hingga kini mereka belum memiliki kepastian tempat berjualan pengganti. 

Salah satu pedagang tali pinggang, topi dan kaos kaki, Ningsih, mengaku telah berjualan di lokasi tersebut sejak 2000. 

“Kami berjualan di lapak ini sudah dari tahun 2000. Alasan kami membongkar ini karena ada seruan dari pemerintah melalui Wali Kota untuk menegakkan aturan. Kami tidak enak kalau tidak mengikuti aturan,” ujar Ningsih, Senin (19/1/2026). 

Meski demikian, ia mengaku bingung harus pindah ke mana setelah lapak dibongkar.

Informasi yang diterima pedagang, mereka akan dipindahkan ke dalam pasar, namun kondisi di dalam dinilai tidak memungkinkan. 

Baca juga: Akhirnya Pedagang Pasar Panorama Bengkulu Mau Bongkar Sendiri Lapaknya, Satpol PP: Kita Bantu

“Kami tidak tahu mau pindah ke mana. Katanya pindah ke dalam pasar, tapi di dalam itu mejanya sudah penuh semua. Untuk sementara ini kami tidak berjualan dulu,” kata Ningsih. 

Berjualan di dalam pasar bukan solusi ideal bagi dirinya dan pedagang lain karena sepi pembeli serta jam operasional yang terbatas. 

“Kami biasanya jualan sampai malam. Kalau di dalam pasar mana bisa sampai malam, sepi pula,” keluh Ningsih. 

Kondisi serupa dirasakan pedagang buah, Siti Aminah Panjaitan, yang mengaku berada dalam situasi jauh lebih sulit.  

PROGRES PENERTIBAN - Pedagang Pasar Panorama di sekitar Jalan Salak Raya melakukan pembongkaran lapak secara mandiri pada Senin (19/1/2026). Sebanyak 18 pedagang Pasar Panorama di sekitar Jalan Salak Raya melakukan pembongkaran secara mandiri pada Senin (19/1/2026).
PROGRES PENERTIBAN - Pedagang Pasar Panorama di sekitar Jalan Salak Raya melakukan pembongkaran lapak secara mandiri pada Senin (19/1/2026). Sebanyak 18 pedagang Pasar Panorama di sekitar Jalan Salak Raya melakukan pembongkaran secara mandiri pada Senin (19/1/2026). (M. Bima Kurniawan/Bima Kurniawan)

Selain kehilangan tempat berjualan, dirinya juga tengah menghadapi masalah kesehatan dan beban ekonomi yang berat. 

“Tolong sekali biaya berobat untuk membersihkan kaki saya ini Rp300 ribu. Kalau tidak berobat bisa busuk,” ucap Siti dengan suara bergetar. 

Dirinya juga terlilit utang bank dan tidak memiliki harta lain selain dagangan yang kini terancam rusak. 

“Kami dikejar utang bank. Inilah harta kami, tidak ada harta lain. Anak saya dua orang masih sekolah, yang satu SD dan yang satu SMP. Bagaimana mau menghidupi mereka,” kata Siti. 

Sumber: Tribun Bengkulu
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved