1 Tahun Kepemimpinan Dedy Ronny
Bukan Digusur, Tapi Dirangkul, Cara Wali Kota Bengkulu Dedy Wahyudi Menata PKL di KZ Abidin 1
Setelah lebih dari 20 tahun PKL yang berjualan di Kawasan Minggu khususnya Kz Abidin Satu gelar relokasi mandiri pada Jumat (30/1/2026)
Penulis: Bima Kurniawan | Editor: M Syah Beni
Laporan Reporter TribunBengkulu.com, M. Bima Kurniawan
TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU – Setelah lebih dari dua dekade bertahan berjualan di badan jalan, para pedagang kaki lima (PKL) akhirnya melangkah ke babak baru kehidupan mereka.
Dengan hati yang mantap dan kesadaran penuh, para PKL secara resmi dan sukarela menyatakan siap direlokasi masuk ke Pasar Tradisional Modern (PTM), Jumat (30/1/2026).
Keputusan besar itu lahir bukan dari tekanan, melainkan dari sebuah momen sederhana yang sarat makna.
Diawali sarapan pagi bersama pedagang dan Pemerintah Kota Bengkulu. Di meja yang sama, tanpa sekat, pemerintah dan pedagang duduk berdampingan, berbincang, dan saling mendengarkan.
Kepercayaan tumbuh, dan kesepakatan terbangun.
Momen kebersamaan tersebut menjadi titik balik penataan kawasan KZ Abidin I sekaligus simbol bahwa penataan kota bisa dimulai dengan hati.
Usai sarapan, Pemkot Bengkulu tak tinggal diam. Pendampingan langsung dilakukan, membantu para pedagang memindahkan barang dagangan mereka ke dalam PTM, memastikan proses berjalan lancar dan manusiawi.
Penataan ini merupakan buah dari dialog panjang dan mediasi yang terus dijaga. Tidak ada paksaan, tidak ada intimidasi yang ada hanyalah proses saling memahami demi kepentingan bersama.
Ketua perwakilan PKL KZ Abidin I Kelurahan Kebun Dahri dan Kebun Bungsu, Geong, mengungkapkan bahwa relokasi ini merupakan hasil kesepakatan yang dibangun melalui komunikasi yang panjang bersama Pemerintah Kota Bengkulu.
Meski ia mengakui belum semua pedagang sepenuhnya puas dengan lokasi baru, keputusan untuk berpindah tetap diambil dengan penuh kesadaran.
“Hari ini kami resmi berpindah dari KZ Abidin ke PTM. Walaupun masih ada kekurangan di tempat baru, relokasi ini kami jalani dengan kesadaran dan komitmen bersama,” ujar Geong.
Sementara itu, Wali Kota Bengkulu, Dedy Wahyudi, menyebut peristiwa ini sebagai sejarah baru bagi wajah Pasar Minggu. Baginya, hari ini bukan sekadar relokasi, tetapi bukti bahwa kepemimpinan yang mengedepankan dialog mampu menyelesaikan persoalan lama tanpa konflik.
“Ini sejarah. Selama 20 tahun PKL berjualan di KZ Abidin I, dan hari ini mereka dengan kesadaran sendiri menyatakan siap masuk ke PTM. Tidak ada paksaan. Semua melalui dialog, kebersamaan, dan saling percaya,” kata Dedy dengan penuh penekanan.
Dedy menegaskan, tujuan relokasi bukan untuk mematikan mata pencaharian pedagang, melainkan justru menguatkannya. Pemerintah, kata dia, hadir untuk memastikan para pedagang mendapatkan tempat yang lebih layak, aman, dan tertata.
“Di dalam PTM fasilitasnya lebih layak, lebih aman, dan lebih tertata. Pemerintah tidak ingin mematikan usaha pedagang. Justru ingin menghidupkan ekonomi pasar dengan cara yang lebih baik,” tegasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bengkulu/foto/bank/originals/RELOKASI-MANDIRI-3012026.jpg)