Sabtu, 9 Mei 2026

Viral di Media Sosial

Penyebab Gatot Nurmantyo, Eks Panglima TNI Dicopot Jokowi Imbas Ogah Naikkan Pangkat Jenderal 

Gatot mengungkap penyebab dirinya dicopot oleh Presiden ke-7 RI, Joko Widodo sebagai Panglima TNI sebelum dirinya memasuki masa pensiun.

Tayang:
Editor: Rita Lismini
TribunBengkulu.com/Tribunnews
GATOR VS JOKOWI - Eks Panglima TNI Gatot Nurmantyo mengungkap penyebab dirinya dicopot oleh Presiden ke-7 RI, Joko Widodo sebagai Panglima TNI sebelum dirinya memasuki masa pensiun, Rabu (6/5/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Gatot Nurmantyo mengaku dicopot Joko Widodo karena menolak menaikkan pangkat perwira tinggi bermasalah.
  • Gatot menyebut dirinya sangat selektif karena menemukan rekam jejak buruk pada pati yang diusulkan.
  • Ia menilai sikapnya itu membuat dirinya “ditendang” dari jabatan Panglima TNI sebelum pensiun.
  • Gatot juga menekankan pentingnya politik bersih, pemberantasan korupsi, dan pemimpin tanpa beban masa lalu.

TRIBUNBENGKULU.COM - Pernyataan Eks Panglima TNI Gatot Nurmantyo di acara Milad ke-5 Partai Ummat di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Minggu (3/5/2026) sempat membuat heboh publik.

Gatot mengungkap penyebab dirinya dicopot oleh Presiden ke-7 RI, Joko Widodo sebagai Panglima TNI sebelum dirinya memasuki masa pensiun.

Rupanya terkait dirinya yang enggan untuk menyanggupi keinginan mantan Wali Kota Solo itu untuk mempromosikan perwira tinggi (pati).

Mulanya, Gatot menyinggung soal cara agar Indonesia menjadi negara maju yakni dengan memperbaiki iklim politik dan instituti negara.

Selain itu, ia juga menyebut kemajuan Indonesia bisa tercapai dengan memberantas korupsi.

"Jadi ini semua bisa dilakukan asal politik dan institusi kita benar-benar menjadi modal utama kita dan korupsi benar-benar diberantas," katanya saat berpidato dalam acara Milad ke-5 Partai Ummat yang digelar di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), pada Minggu (3/5/2026), dikutip dari YouTube Partai Ummat.

Gatot juga menyinggung soal pentingnya pemimpin yang bersih dan tidak memiliki rekam jejak buruk jika ingin Indonesia menjadi negara maju.

Menurutnya, tanpa faktor tersebut, maka Indonesia tak mungkin 'naik kelas'.

"Jadi saya ulangi kalau Indonesia ingin naik kelas, nggak usah banyak-banyak deh, 70 persen politik, 20 persen ekonomi, 10 persen keberuntungan, dan punya pemimpin yang berani yang tidak punya masalah, tidak punya latar belakang. Tanpa itu, nggak bisa," ujarnya.

Lalu, Gatot juga menyinggung soal pemimpin yang tidak tersandera dengan kepentingan pihak lain.

Pada momen inilah, Gatot menyebut Jokowi menjadi sosok pemimpin yang tersandera ketika memintanya untuk menaikkan pangkat perwira tinggi (pati) TNI ketika dirinya masih menjabat sebagai Panglima TNI.

"Saya buka aja sekarang, biar Pak Jokowi marah. Ketika Pak Jokowi minta 'Pak Panglima, tolong dong ini naikkan (pati) bintang tiga. Saya periksa, nggak ada yang saya nggak periksa."

"Setelah berat badan turun enam kilogram, saya kasih lembaran (ke pati yang dimaksud) mau dilanjutkan atau tidak? Kalau kamu nggak mau, lapor lewat jalur mana bilang," jelasnya.

Setelah pati yang dimaksud memiliki rekam jejak buruk, Gatot lantas melapor ke Jokowi. Kemudian, kata Gatot, Jokowi tidak jadi menaikkan pangkat pati TNI yang dimaksud.

"Besoknya saya dipanggil (Jokowi), (Jokowi bilang) 'Pak Panglima, dia masih suka di sana', (Gatot menjawab) 'Oh iya pak, nggak apa-apa, bagus pak dia di sana aja. Nggak jadi naik bintang tiga dia," katanya.

Sumber: Sumber lain
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved