Senin, 8 Juni 2026

Berita Rejang Lebong

Penyebab Serapan Jagung Bulog Rejang Lebong Masih Rendah

Pinca Perum Bulog Rejang Lebong, A Musalim Yudha, mengungkapkan rendahnya serapan ini disebabkan oleh beberapa faktor teknis maupun non-teknis.

Tayang:
Penulis: M Rizki Wahyudi | Editor: Yunike Karolina
M Rizki Wahyudi/TribunBengkulu.com
SERAPAN JAGUNG BULOG - Pinca Perum Bulog Rejang Lebong, A Musalim Yudha saat diwawancarai. Bulog Rejang Lebong mengoptimalkan penyerapan gabah dan jagung langsung dari tingkat petani. 

Laporan Reporter TribunBengkulu.com, M. Rizki Wahyudi

TRIBUNBENGKULU.COM, REJANG LEBONG – Perum Bulog Kantor Cabang Rejang Lebong saat ini mulai melakukan penyerapan jagung dari para petani di wilayah Rejang Lebong, Kepahiang, dan Lebong.

Namun, serapan jagung tersebut masih tergolong rendah.

Pemimpin Cabang (Pinca) Perum Bulog Rejang Lebong, A Musalim Yudha, mengungkapkan rendahnya serapan ini disebabkan oleh beberapa faktor teknis maupun non-teknis di tingkat petani dan kelompok tani.

Untuk penyerapan jagung masih rendah karena sebagian besar petani belum memiliki pengetahuan pengelolaan pasca panen yang baik.

Juga karena tidak memiliki alat uji kualitas (tester) sehingga sulit memenuhi standar mutu yang ditetapkan Badan Pangan Nasional (BPN). 

"Betul, serapan jagung kita masih rendah, bukan hanya di kita saja, daerah lain juga sama," kata Yudha. 

Menurutnya, Bulog hanya dapat menyerap jagung pipilan kering dengan kadar aflatoksin maksimal 50 ppb dan kadar air maksimal 14 persen dengan harga Rp 6.400 per kilogram.

Sedangkan untuk kadar air antara 18 hingga 20 persen, harga yang berlaku Rp 5.500 per kilogram.

Selain itu, petani masih sangat bergantung pada cuaca panas karena belum tersedia mesin pengering (dryer). 

"Kalau musim hujan, jagung mudah berjamur dan mengandung racun aflatoksin yang dihasilkan dari jamur Aspergillus flavus atau Aspergillus paraciticus,” jelasnya.

Yudha menambahkan, banyak petani juga memilih menjual hasil panen ke pedagang pengepul karena prosesnya lebih mudah dan cepat.

Para petani bisa langsung menjual jagung dalam bentuk tongkol di kebun tanpa harus menjemur lama atau memenuhi banyak syarat. 

"Bahkan pedagang pengepul juga kerap memberikan pinjaman modal untuk musim tanam berikutnya,” ungkapnya.

Sementara itu, kondisi harga jagung pakan ternak di pasaran saat ini masih relatif tinggi dan stabil.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved