Mengenal Rumah Adat Bengkulu, Unik dan Terkenal dengan Banyaknya Ruangan
Rumah Adat Bengkulu, Terkenal dengan Banyaknya Ruangan. Rumah adat Bengkulu bernama “Bubungan Lima”, menariknya rumah adat Bengkulu memiliki 4 nama
Penulis: Yuni Astuti | Editor: M Arif Hidayat
Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Yuni Astuti
TribunBengkulu.Com - Selain dikenal dengan banyaknya pulau, di Indonesia juga dikenal dengan berbagai ragam budayanya, jika berbicara tentang budaya maka tidak akan ada habisnya saking banyaknya ragam budaya yang ada di Indonesia ini.
Selain ciri khasnya, di artikel ini kami juga akan membahas tentang filosofi dari rumah adat Provinsi Bengkulu.
Rumah adat Bengkulu bernama “Bubungan Lima”, menariknya rumah adat Bengkulu memiliki 4 nama lain.
Ada yang menyebutnya dengan istilah “Bubungan Tinggi”, dan ada juga yang menyebutnya dengan “Bubungan Jembatan”,”Bubungan Haji”, “Bubungan Limas".
Rumah ini juga biasa digunakan untuk melakukan kegiatan ataupun ritual yang dilakukan oleh masyarakat seperti kelahiran seorang anak, kemudian acara pernikahan, bahkan bisa juga digunakan untuk kematian seseorang dan dipergunakan untuk kegiatan yang sakral lainnya. Rumah adat ini biasanya hanya ditempati oleh sesepuh adat serta keluarganya.
a. Arsitektur Rumah Adat Bengkulu
Rumah adat Bengkulu ini menggunakan bahan material terbuat dari kayu, jenis kayu yang digunakan ialah kayu medang atau kayu balam.
Karena memiliki teksture kayu yang lentur dan bisa bertahan hingga ratusan tahun, kayu ini kemudian dijadikan sebagai bahan utama dalam pembuatan rumah adat Bengkulu. Konon, tangga yang dibuat harus dengan jumlah yang ganjil.
Karena Bengkulu merupakan wilayah yang rawan akan gempa model bentuk rumah ini dibentuk seperti rumah panggung yang dikenal dengan rumah yang tahan akan gempa.
Dengan adanya ruangan di bagian atas, maka rumah ini didesain dengan adanya kolong yang berfungsi untuk sirkulasi udara sehingga bisa merasakan kesejukan didalamnya.
Berbeda dengan rumah adat yang lain, bahan atap dari rumah ini terbuat dari bahan ijuk pohon enau, kemudian pada lantainya menggunakan papan yang diserut hingga halus. Uniknya, tiang pada rumah ini ditempatkan di atas batu yang datar dan besar hal ini bertujuan untuk menjaga agar tiang tak mudah lapuk. Tinggi tiang pada rumah adat ini berkisar 1,8 meter dan dalam satu rumah ini memiliki 15 tiang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bengkulu/foto/bank/originals/Rumah-Adat.jpg)