Pembunuhan di Lebong

Jika Terbukti Gila, Proses Hukum Pembunuhan Sadis Terhadap Paman Bisa "Dimaafkan"

Proses hukum terhadap AG (21), tersangka pembunuhan terhadap pamannya sendiri, Hermansyah warga Tik Kuto, Kecamatan Rimbo pengadang, Kabupaten Lebong

Panji/TribunBengkulu.com
AG tersangka pembunuhan sadis di Lebong ternyata dikenal baik dan aktif di kegiatan kepemudaan 

Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Panji Destama


TRIBUNBENGKULU.COM, LEBONG - Proses hukum terhadap AG (21), tersangka pembunuhan terhadap pamannya sendiri, Hermansyah warga Tik Kuto, Kecamatan Rimbo pengadang, Kabupaten Lebong bisa "Dimaafkan" demi hukum. Jika AG benar-benar terbukti mengalami gangguan jiwa.

Apalagi, sebelum peristiwa ini terjadi. AG sempat akan dibawa oleh keluarga ke Rumah Sakit Jiwa Ketergantungan Obat (RSJKO) Bengkulu untuk menjalani pengobatan karena sudah 2 bulan terakhir ini, tingkah laku AG terlihat tidak normal.

Ini disampaikan Kriminolog Universitas Bengkulu (Unib) Zico Junius Fernando, yang ikut merespon tragedi pembunuhan sadis di Lebong tersebut. 


"Dari background tersangka ini, sepertinya bukan orang yang suka keluar masuk penjara, berdasarkan teori kontrol dalam kriminolog," kata Zico Junius Fernando, kepada TribunBengkulu.com, Senin (25/4/2022).

Ditambahkannya, jika nanti tersangka terbukti mengalami gangguan kejiwaan sesuai dengan pasal 44 KUHP, menurut Zico, dalam pertanggungjawaban pidana juga dikenal adanya konsep alasan pemaaf. 

"Hal ini dikarenakan seseorang yang tidak dapat dimintai pertanggungjawaban pidana salah satunya karena “sakit berubah akalnya”, yang dimaksud misalnya : sakit gila, histeris (sejenis penyakit saraf terutama pada wanita), epilepsi dan bermacam sakit jiwa lainnya," kata Zico Junius Fernando

Namun, sambung Zico. Tersangka harus dilakukan pemeriksaan yang lebih mendalam lagi. Apakah benar-benar gila atau tidak.


"Selain adanya kemungkinan tersangka sakit hati, juga perlu adanya pemeriksaan kejiwaan terhadap tersangka, yang berhak melakukannya adalah ahli dalam kejiwaan. Penyidik harus meminta pihak ahli untuk melakukan pemeriksaan," jelas Dosen Fakultas Hukum Unib ini.

Apalagi, berdasarkan kronologi peristiwa itu. Tersangka sudah menyiapkan senjata tajam usai merumput lalu bertemu korban dan melakukan tindakan kejahatan tersebut, juga bisa dikategorikan sebagai pembunuhan berencana. 

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved