Harga Daging Sapi di Bengkulu Stabil Meski Ada Wabah PMK di Sejumlah Wilayah Indonesia
Pedagang daging sapi di Bengkulu mengatakan sejauh ini mereka tidak menemukan sapi terkena Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Harganya pun masih stabil.
Penulis: Romi Juniandra | Editor: Yunike Karolina
Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Romi Juniandra
TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU - Pedagang daging sapi di Bengkulu mengatakan sejauh ini mereka tidak menemukan sapi yang terkena Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).
Salah satunya disampaikan pedagang khusus kepala dan kaki sapi di Pasar Panorama Kota Bengkulu, Sudir (40 tahun).
Menurut Sudir, sejauh ini, dirinya tidak menemukan daging yang tidak normal.
"Sejauh ini aman-aman saja, tidak ada yang terkena PMK," kata Sudir kepada TribunBengkulu.com, Minggu (22/5/2022).
Untuk daging sapi yang kini beredar di Bengkulu, menurut Sudir merupakan sapi dusun atau sapi Bali. Sementara, sapi impor sudah sangat jarang.
Sementara, pedagang lain, Nani (58 tahun) mengatakan penjualan daging sapi masih normal.
Baca juga: Waspada PMK, Bupati Kepahiang: Perlu Pengawasan Jalur lintas Pengiriman Hewan
Kini, harga daging sapi mencapai Rp 150 ribu per kilogram. Harga ini stabil sejak lebaran lalu.
"Belum naik, dan belum turun. Harga tetap," kata Nani.
Untuk sapi yang terkena PMK, Nani mengatakan belum mengetahuinya. Namun, dia mengatakan daging yang dia jual kondisinya baik dan tidak ada yang aneh-aneh.
"Mungkin dinas terkait boleh turun untuk cek. Menurut kami tidak ada yang aneh," ungkap Nani.
Dilansir dari Kompas.com, sebagai informasi, Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) adalah penyakit infeksi virus yang bersifat akut dan sangat menular pada hewan berkuku genap atau belah.
Penyakit ini disebabkan oleh virus tipe A dari keluarga Picornaviridae, genuss Apthovirus, yakni Aphtaee apizotecae.
PMK merupakan penyakit hewan yang sangat menular, yang menyerang hewan berkuku belah, seperti sapi, kerbau, kambing, babi, kijang atau rusa, unta dan gajah.
Hewan yang sakit akibat infeksi virus PMK menunjukkan gejala klinis patogonomonik berupak vesikel atau lepyh dan erosi di mulut, lidah, gusi, nostril, puting, dan di kulit sekitar kuku.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bengkulu/foto/bank/originals/Daging-Sapi-di-Bengkulu-22-Mei.jpg)