Kisah Perjuangan Ison, Mampu Sekolahkan 6 Orang Anaknya Dari Kumpulkan Limbah Batu Bara
Membayangkan kata limbah, mungkin anggapan sebagian orang adalah hal yang kotor dan menjijikan. Namun jangan pernah menyepelekan limbah, sebab ada be
Laporan Mahasiswa Magang TribunBengkulu.com, Yulia Miswanti
TRIBUNBENGKULU.COM - Membayangkan kata limbah, mungkin anggapan sebagian orang adalah hal yang kotor dan menjijikan.
Namun jangan pernah menyepelekan limbah, sebab ada beberapa orang yang menganggap limbah adalah emas, hal yang berharga bagi kelangsungan hidupnya dan keluarganya.
Seperti Ison (49), warga Kebun Keling Kelurahan Pasar Malabero Kecamatan Teluk Segara, Kota Bengkulu.
Seorang pengumpul limbah batu bara di muara Pantai Kualo Bengkulu.
Hampir setiap hari dia harus berendam di sungai dan bibir pantai mengais serbuk-serbuk hitam yang mengambang terbawa arus sungai Bengkulu ke muara.
Dari pekerjaannya ini, dia mampu menyekolahkan ke 6 anaknya.
Sudah 20 tahun, aktifitas mengumpulkan limbah batu bara yang menjadi profesi sampingannya itu dilakoninya.
Hasil yang didapat bergantung cuaca, jika cuaca buruk dia istirahat sebagai buruh nelayan yang merupakan pekerjaan utamanya.
Diapun bergegas ke Pantai Kualo Kota Bengkulu, menjadi pengepul limbah batu bara yang juga tergantung dengan pasang surutnya air. Ke Pantai Kualo Kota Bengkulu, 2 Kilometer dari tempatnya, kadang naik angkot kadang juga jalan kaki.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bengkulu/foto/bank/originals/Ison-warga-Kebun-Keling-seorang-pengumpul-limbah-batu-bara.jpg)