Selasa, 14 April 2026

Kisah Perjuangan Ison, Mampu Sekolahkan 6 Orang Anaknya Dari Kumpulkan Limbah Batu Bara

Membayangkan kata limbah, mungkin anggapan sebagian orang adalah hal yang kotor dan menjijikan. Namun jangan pernah menyepelekan limbah, sebab ada be

Editor: M Arif Hidayat
Yulia Miswanti/Magang
Ison, warga Kebun Keling seorang pengumpul limbah batu bara di muara Pantai Kualo. Dar profesi sampingannya, dia mampu menyekolahkan ke 6 anak-anaknya 

Laporan Mahasiswa Magang TribunBengkulu.com, Yulia Miswanti

TRIBUNBENGKULU.COM - Membayangkan kata limbah, mungkin anggapan sebagian orang adalah hal yang kotor dan menjijikan.

Namun jangan pernah menyepelekan limbah, sebab ada beberapa orang yang menganggap limbah adalah emas, hal yang berharga bagi kelangsungan hidupnya dan keluarganya.

Seperti Ison (49), warga Kebun Keling Kelurahan Pasar Malabero Kecamatan Teluk Segara, Kota Bengkulu.

Seorang pengumpul limbah batu bara di muara Pantai Kualo Bengkulu.

 

Hampir setiap hari dia harus berendam di sungai dan bibir pantai mengais serbuk-serbuk hitam yang mengambang terbawa arus sungai Bengkulu ke muara.

 

Dari pekerjaannya ini, dia mampu menyekolahkan ke 6 anaknya.

 

Sudah 20 tahun, aktifitas mengumpulkan limbah batu bara yang menjadi profesi sampingannya itu dilakoninya.


Hasil yang didapat bergantung cuaca, jika cuaca buruk dia istirahat sebagai buruh nelayan yang merupakan pekerjaan utamanya.

 

Diapun bergegas ke Pantai Kualo Kota Bengkulu, menjadi pengepul limbah batu bara yang juga tergantung dengan pasang surutnya air. Ke Pantai Kualo Kota Bengkulu, 2 Kilometer dari tempatnya, kadang naik angkot kadang juga jalan kaki.

 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved