Pengusaha Gilingan Padi dan Kopi di Kepahiang Dapat Prioritas Beli Solar Boleh Pakai Jerigen
Namun dalam pengisian menggunakan jerigen di SPBU, nanti para pengusaha huller akan dibatasi berapa jerigen sesuai dengan kebutuhan mesin hullernya.
Penulis: Muhammad Panji Destama Nurhadi | Editor: Hendrik Budiman
Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Panji Destama
TRIBUNBENGKULU.COM, KEPAHIANG - Pemerintah Kepahiang, berencana akan memberikan syarat khusus untuk para penguasa gilingan kopi dan padi untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar bersubsidi.
Hal ini disampaikan Wakil Bupati Kepahiang, Zurdi Nata kepada TribunBengkulu.com, Jumat (23/9/2022).
"Pengusaha huller nanti akan menjadi prioritas dalam mengisi solar di SPBU dengan menggunakan jerigen yang nantinya akan didata Dinas Perdagangan Koperasi dan UMKM Kepahiang," kata Zurdi Nata, pada Jumat (23/9/2022) siang.
Namun dalam pengisian menggunakan jerigen di SPBU, nanti para pengusaha huller akan dibatasi berapa jerigen sesuai dengan kebutuhan mesin hullernya.
Baca juga: Dua Pabrik di Bengkulu Selatan Kembali Naikan Harga TBS Sawit Rp 30 tiap Kilogram, Pasokan Minim
Pihaknya juga akan melihat berapa liter yang digunakan mesin huller dari pemiliknya, agar nanti tidak terjadi penimbunan bahan bakar minyak solar.
"Nanti kita hitung mesin itu berapa kapasitas bahan bakar minyak yang dibutuhkan dalam sehari saat beroperasi, misal 4 jeriken yang dibutuhkan ya 4 jeriken saya, kalau lebih nanti takutnya di jual lagi," tutupnya.
Pengusaha Gilingan Padi dan Kopi Keluhkan Sulit Dapat Solar
Seorang Pengusaha Huller atau gilingan kopi dan padi di Kabupaten Kepahiang, Juni (37) mengeluhkan dampak kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar.
Juni warga Desa Pelangkian, Kecamatan Kepahiang, Kabupaten Kepahiang itu mengeluhkan selain harga BBM jenis solar yang naik serta susah mendapatkan BBM tersebut.
"Susah dapat solar sekarang, sehari harus 4 jerigen untuk menghidupkan Huller ini," ujar Juni, pada Selasa (20/9/2022).
Menurutnya, sebelum BBM naik, dulu pihaknya mengisi solar masih diperbolehkan membawa jerigen.
Namun, sekarang sudah tidak diperbolehkan dan harus menyewa mobil temannya untuk membeli solar di SPBU.
"Sekali nyewa Rp 50 ribu - Rp 100 ribu, dapat solar cuman 2 jerigen, karena itu juga omset turun," tuturnya.
Sebelum BBM naik, sehari ia bisa mendapatkan omset Rp 3 juta, sekarang hanya Rp 1,2 juta saja.
Baca juga: Benarkah Stok BBM Subsidi di Bengkulu Masih Aman? Cek Faktanya
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bengkulu/foto/bank/originals/Wakil-Bupati-Kepahiang-Zurdi-Nata11.jpg)