Sejarah Islam
Abu Bakar Ash Shiddiq, Khalifah Islam Pertama dalam Sejarah Islam
Abu Bakar Ash Shiddiq adalah salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW yang menjadi Khalifah Islam pertama dalam sejarah Islam.
TRIBUNBENGKULU.COM - Abu Bakar Ash Shiddiq adalah salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW yang menjadi Khalifah Islam pertama dalam sejrah Islam.
Ia memerintah dari tahun 573 hingga 634 M. Memerintah setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, meski Ali bin Abi Thalib dianggap sebagian muslim lebih layak menjadi Khalifah Islam pertama.
Dia membantu temannya, Nabi Muhammad SAW melalui suka dan duka dalam misinya dan tetap berada di sisinya sampai akhir hayatnya.
Sepeninggal Nabi Muhammad SAW, ia menjadi khalifah pertama dari empat khalifah Rasyidin atau Khulafaur Rasyidin, istilah yang digunakan oleh komunitas Islam Sunni.
Dalam masa pemerintahannya yang singkat selama dua tahun, ia menyatukan kembali Semenanjung Arab dan memulai perluasan pengaruh di Suriah dan Irak.
Baca juga: Runtuhnya Khilafah dan Tiga Fase Besar Evolusi dalam Sejarah Islam
Itu kemudian berhasil dilakukan oleh penerusnya hingga tahun 656 M ketika perang saudara Islam pertama, Fitna Pertama (656-661 M) meletus dan perluasan untuk sementara dihentikan.
Pada masa pemerintahan Abu Bakar pula wahyu-wahyu yang didiktekan oleh Nabi Muhammad SAW, yaitu Al-Qur'an, disusun menjadi mushaf utuh.
Kehidupan Abu Bakar Ash Shiddiq
Abu Bakar Abdullah ibn Utsman adalah putra Utsman Abu Quhafa (sekitar 538-635 M) dari marga Banu Taym dari suku Quraisy. Ia dilahirkan di Mekah pada tahun 573 M.
Nama aslinya adalah Abdullah, artinya hamba Allah (Tuhan). Sedangkan Abu Bakar adalah julukan yang diberikan kepadanya karena kecintaannya pada unta, artinya “ayah dari anak sapi unta.”
Namun nama terakhir ini populer dan ia lebih sering disebut dengan nama itu.
Dia berasal dari keluarga pedagang kaya, dan berpendidikan tinggi. Dia mempunyai ingatan yang tajam dan kesukaan pada syair, yang merupakan salah satu ciri khas pria Arab.
Masuk Islam & Sahabat Nabi Muhammad SAW
Ketika Muhammad mulai menyebarkan agama Islam pada tahun 610 M, Abu Bakar, yang merupakan teman dekatnya, menjadi laki-laki pertama yang masuk Islam, mengutip World History Encyclopedia.
Sementara yang paling awal adalah Khadijah, istri Nabi Muhammad SAW. Meskipun beberapa sejarawan berpendapat bahwa dia bukanlah yang pertama melainkan yang pertama dari yang paling awal.
Namun demikian, dia adalah salah satu sekutu Nabi Muhammad SAW yang paling mendukung, tidak hanya dia membantu Nabi secara finansial tetapi dia juga meyakinkan banyak teman dan koleganya (juga keluarganya) untuk menerima kenabian Muhammad.
Dukungan penuh dan tulus Abu Bakar kepada Nabi membuatnya mendapat julukan Siddiq (dapat dipercaya).
Namun, bahkan kekayaan dan reputasi Abu Bakar pun tidak bisa menyelamatkan Muhammad dan sekelompok kecil pengikutnya dari kekejaman orang-orang Mekah, dan Abu Bakr sendiri juga tidak kebal terhadap kekejaman tersebut.
Meski demikian, ia tidak mundur dari keyakinannya terhadap Nabi Muhammad.
Bahkan ia disebut-sebut telah membayar kebebasan beberapa budak yang telah masuk Islam, seperti seorang warga Etiopia bernama Bilal.
Kematian paman Nabi yang berpengaruh, Abu Thalib, pada tahun 619 M menyebabkan sekelompok kecil umat Islam menjadi lebih rentan dibandingkan sebelumnya.
Pada momen penting ini (622 M), undangan datang dari Yatsrib, yang saat ini dikenal dengan nama Madinah.
Undangan dari Yatsrib itu meminta agar Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya hijrah ke Yatsrib, dan Nabi ditawari jabatan raja di kota itu.
Baca juga: Sejarah Islam: Ketika Ali bin Abi Thalib Dianggap Lebih Pantas Dari Abu Bakar ash Shiddiq
Kaum Muslim dengan senang hati menurutinya, mereka bermigrasi secara berkelompok ke kota itu, namun Abu Bakar tetap tinggal bersama temannya menggantikan Nabi Muhammad menghadapi orang-orang Mekah Quraisy, dengan risiko terbunuh.
Namun keduanya berhasil selamat, dan meninggalkan Mekah bersama dengan orang-orang Mekah dalam pengejaran.
Mereka berlindung di sebuah gua di sebuah gunung bernama Jabal Thaur (Gunung Banteng), di mana mereka mampu menghindari orang-orang Mekah, yang kemudian menyerah dan mundur.
Sesampainya di Madinah, Abu Bakar terus mendukung Muhammad dan menjadi salah satu penasihatnya dalam urusan kenegaraan.
Ia juga ikut serta dalam pertempuran besar dengan penduduk Mekkah seperti Badar (624 M) dan Uhud (625 M).
Abu Bakar juga mengikat putrinya Aisha (613-678 M) dengan Nabi dalam pernikahan untuk mempererat afiliasinya dengan Nabi Muhammad SAW, seperti yang biasa terjadi pada zaman itu, sehingga ia juga menjadi mertua Nabi Muhammad SAW.
Dia juga memimpin salat berjamaah di Masjid an-Nabwi (Masjid Nabi) pada hari-hari terakhir Nabi, ketika Nabi Muhammad SAW sedang sakit.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bengkulu/foto/bank/originals/Kaligrafi-Abu-Bakar-Ash-Shiddiq.jpg)