Rektor UII Enggan Dipanggil Profesor
Rektor UII Fathul Wahid Ogah Dipanggil Profesor, Mahfud: Bentuk Protes Banyaknya Profesor Abal-abal
Mahfud MD lantas memuji sikap Fathul Wahid tersebut dan mengatakan, sikap terbuka Fathul bagus sebagai bentuk protes terhadap banyaknya profesor abal
TRIBUNBENGKULU.COM - Mantan Menkopolhukam Mahfud MD ikut berkomentar lantaran viral i Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Prof. Fathul Wahid S.T., M.Sc., Ph.D yang meminta agar dirinya tak dipanggil profesor.
Pakar Hukum Tata Negara Mahfud MD lantas memuji sikap Fathul Wahid tersebut dan mengatakan, sikap terbuka Fathul bagus sebagai bentuk protes terhadap banyaknya profesor abal-abal saat ini.
"Sekarang ini inflasi profesor abal-abal sehingga perlu ditegur secara moral seperti yang dilakukan Pak Fathul. Kita dukung ini," kata Mahfud dalam keterangan tertulis, Jumat (19/7/2024).
Menurut Mahfud, sikap seperti yang ditunjukkan Fathul sudah banyak yang mempraktikkan.
Ia mencontohkan ulama dan cendekiawan Ahmad Syafii Maarif.
"Surat-surat resmi saya sejak jadi Menhan, DPR sampai vonis-vonis MK tak ada yang pakai gelar Profesor. Saya memakai Prof untuk hal tertentu yang terkait akademik saja, misalnya, di surat nilai ujian atau laporan kegiatan mengajar," kata dia.
Alasan Rektor
Terkuak alasan Rektor Universitas Islam Indonesia (UII), Fathul Wahid enggan dipanggil Profesor baik secara resmi maupun dalam undangan tertulis.
Belakangan Fathul Wahid merilis surat edaran yang meminta namanya tidak usah ditulis dengan gelar dalam surat resmi.
Fathul menyebut edaran ini sebagai salah satu langkah mendesakralisasi status profesor.
Dalam surat yang diedarkan pada Kamis (18/7/2024), Fathul meminta namanya ditulis "Fathul Wahid" saja dalam setiap korespondensi surat, dokumen, dan produk hukum selain ijazah, transkrip nilai, dan dokumen yang setara itu.
Sebetulnya, gelar lengkap Fathul tertulis Prof. Fathul Wahid, S.T., M.Sc., Ph.D.
Baca juga: Biodata Rektor UII Fathul Wahid Enggan Dipanggil Profesor, Ternyata Lulusan S2 dan S3 di Norwegia
Fathul mengatakan, gelarnya tidak usah ditulis lengkap demi menguatkan atmosfer kolegial di perguruan tinggi.
Fathul mengaku berniat melakukan hal tersebut sejak lama dan mengharapkannya akan menjadi gerakan kultural.
Menurutnya, gelar memiliki tanggung jawab akademik, moral dan tidak relevan jika dicantumkan di sembarang dokumen atau kartu nama.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bengkulu/foto/bank/originals/Kolase-Mahfud-MD-kiri-dan-Rektor-UII-Kanan-sgsg.jpg)