Kamis, 23 April 2026

Pahpe, Benteng Terakhir Pangan Lokal Masyarakat Adat Enggano

Pergeseran makanan lokal masyarakat di Pulau Enggano membuat potensi terjadinya krisis pangan semakin besar, apalagi Enggano merupakan pulau terluar.

Penulis: Suryadi Jaya | Editor: Hafi Jatun Muawiah
Suryadi Jaya/TribunBengkulu.com
Sejumlah makanan lokal masyarakat adat Enggano yang dikonsumsi sebelum mengenal beras, mulai dari singkong rebus, singkong bakar, keladi batak, ikan bakar, bubur kelapa dan singkong tumbuk. 

TRIBUNBENGKULU.COM, ENGGANO – Kamis (18/7/2024) pagi, Sarjoni (49) dengan menaiki sepeda motornya membawa satu karung penuh padi untuk digiling di rumah Zulkarnain yang berada di Desa Banjarsari Kecamatan Enggano.

Padi itu Sarjoni dapat dari hasil panen ladang miliknya yang berada di Desa Meok. Meski tak banyak, namun hasil panen itu bisa menutupi kebutuhan berasnya selama satu tahun.

“Gagal panen mas, berasnya coklat-coklat, hasilnya juga sedikit,” kata Sarjoni sembari melihat beras miliknya yang baru saja digiling.

Walaupun begitu, pria kelahiran Kabupaten Seluma Provinsi Bengkulu ini mengaku tetap bersyukur dan akan mempersiapkan pupuk serta pestisida lebih banyak lagi saat musim tanam berikutnya.

Saat ini, Pulau Enggano masih dilanda musim kemarau, banyak ladang dan sawah tadah hujan milik warga yang kekeringan. Hal tersebut memicu hama yang sulit diatasi.

“Mau gimana lagi, kalau tidak mau makan beras ini, mau makan apalagi,” ungkapnya.

padi di Enggano gagal panen dengan kualitas yang kurang baik
Proses penggilingan padi milik Sarjoni warga Desa Meok Kecamatan Enggano dengan hasil yang kurang memuaskan. Beras berwarna coklat dan jumlah hasil panen yang menurun.

Sementara itu, kebutuhan beras di pulau yang dihuni 4.112 jiwa itu masih harus terus dipenuhi meski dengan rintangan yang cukup besar.

Mulai dari gagal panen, transportasi yang terbatas hingga ancaman bencana tsunami. Sejauh ini, suplai beras ke Pulau Enggano masih berasal dari Kota Bengkulu yang memiliki jarak 175 kilometer atau dengan waktu tempuh 14 jam menggunakan kapal ferry.

Tidak jarang kapal ferry harus menunda keberangkatan lantaran cuaca buruk, apalagi seperti saat ini yang memasuki musim angin tenggara. Pada musim angin tenggara, jarak tempuh ke Pulau Enggano mencapai 20 jam.

Dari data BPS, satu orang membutuhkan 113,48 kg/tahun, jika dikalikan dengan 4.112 orang, maka Pulau Enggano membutuhkan 466.629,76 kg atau 467 ton beras per tahun. Padahal produksi beras di Enggano dalam satu tahun hanya sekitar 75 ton per tahun dari total luas lahan 25 hektare.

“Dulu, sekitar tahun 1970, saat itu tidak ada kapal yang datang ke Enggano dalam waktu yang cukup lama. Beras habis, hasil sawah juga tidak ada, akhirnya kami makan melinjo dicampur dengan parutan kelapa,” ujar Pabuki (koordinator 6 kepala suku di Enggano), Milson Kaitora, Rabu (17/7/2024).

Pengetahuan mengkonsumsi melinjo tumbuk yang dicampur parutan kelapa serta air panas itu diturunkan dari nenek moyang masyarakat Enggano sebelum mengenal beras.

“Dulu tidak ada beras di Enggano, kakek dan nenek kami dulu makannya melinjo, kelapa, ubi, dan keladi. Makannya bisa diolah seperti dibakar atau direbus,” kata Milson.

Ritual pahpe di Enggano
Pabuki (Koordinator 6 kepala suku Enggano), Milson Kaitora saat memimpin ritual pahpe sebelum proyek pembangunan gedung sekolah di Desa Kaana mulai dikerjakan, Rabu (17/7/2024).

Pahpe, Benteng Terakhir Makanan Lokal

Namun sayangnya, makanan lokal itu saat ini mulai dilupakan oleh masyarakat Enggano dan beralih ke beras dan mie instan.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved