Kamis, 4 Juni 2026

Opini

Menggali Penderitaan Perempuan dalam 'Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer'

Media massa saat ini memungkinkan kita untuk mengakses berbagai informasi dan hiburan dengan cepat dan mudah.

Tayang:
Editor: Yuni Astuti
HO TribunBengkulu.com/Unived
Menggali Penderitaan Perempuan dalam 'Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer' 

Oleh: Anisatul Azizah, Sri Narti, Dilmai Putra.

 

TRIBUNBENGKULU.COM - Media massa saat ini memungkinkan kita untuk mengakses berbagai informasi dan hiburan dengan cepat dan mudah.

Salah satu bentuk media yang memiliki kemampuan luar biasa untuk menggugah pikiran dan membuka wawasan adalah sastra.

Novel sebagai salah satu bentuk media cetak, tidak hanya menghibur, tetapi juga bisa menjadi sarana untuk menggambarkan realitas sosial, menyuarakan penderitaan, dan mencerminkan nilai-nilai kemanusiaan.

Salah satu contoh yang menggugah adalah Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer, karya Pramoedya Ananta Toer, yang mengangkat kisah perempuan-perempuan yang menjadi korban eksploitasi seksual oleh tentara Jepang selama Perang Dunia II, serta bagaimana hal ini menggambarkan sistem patriarki yang membungkam suara mereka.

Dalam novel ini, Pramoedya menggambarkan perempuan sebagai objek yang tidak hanya dieksploitasi secara fisik, tetapi juga dipinggirkan secara sosial dan psikologis.

Tokoh utama, yang dikenal dengan sebutan "Aku", berperan sebagai narator yang menyampaikan kisah-kisah tragis perempuan yang menjadi korban perbudakan seks.

 "Aku" bukan hanya seorang pencerita, tetapi juga seorang pengorganisir cerita yang menyatukan berbagai pengalaman dari saksi-saksi sejarah yang menggambarkan penderitaan para perempuan yang diperalat oleh tentara Jepang.

Mereka dijanjikan pendidikan dan kehidupan yang lebih baik di Tokyo, namun kenyataannya, mereka dijadikan budak seks oleh tentara Jepang.

Salah satu tokoh yang mencerminkan penderitaan ini adalah Sumiyati, seorang perempuan asal Kediri yang terjebak dalam janji manis Jepang.

Ia direkrut dengan harapan mendapatkan pendidikan di Tokyo, tetapi akhirnya dipaksa menjadi budak seks. Ketika perang berakhir dan Jepang menyerah, Sumiyati merasa tidak bisa kembali ke kampung halamannya tanpa membawa aib yang besar, bahkan setelah Indonesia merdeka.

Sebuah kenyataan pahit yang dihadapi perempuan-perempuan lainnya, seperti Sutinah, yang juga direkrut dengan alasan yang sama dan mengalami penderitaan yang serupa.

Melalui narasinya, "Aku" tidak hanya mengungkapkan penderitaan perempuan-perempuan ini, tetapi juga mengkritik sistem patriarki yang memperlakukan perempuan sebagai objek seksual.

Dalam masyarakat patriarkal, perempuan dipandang sebagai properti yang bisa dimanfaatkan oleh laki-laki untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved