Senin, 18 Mei 2026

Opini

OPINI - Di Balik Ompreng MBG Bengkulu: Ada Petani, Dapur, dan Ekonomi Masyarakat Lokal yang Bergerak

Program MBG di Bengkulu disebut bukan hanya soal makanan gratis, tetapi juga menggerakkan petani, UMKM dapur, dan ekonomi lokal.

Tayang:
Penulis: Yayan Hartono | Editor: Ricky Jenihansen
TribunBengkulu.com/Yayan Hartono
Agustiwa All Habib, Mahasiswa Prodi Jurnalistik Universitas Bengkulu 

Oleh Agustiwa All Habib*

TRIBUNBENGKULU.COM - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mulai dirasakan para pelajar di Provinsi Bengkulu mungkin terlihat sederhana di mata sebagian orang. Hanya sebuah ompreng berisi nasi, lauk-pauk, sayur, dan buah yang dibagikan kepada siswa di sekolah.

Namun, di balik ompreng sederhana itu, sesungguhnya ada denyut ekonomi rakyat yang mulai bergerak. Ada tangan petani yang menanam padi dan sayur-mayur. Ada nelayan yang melaut mencari ikan.

Ada peternak ayam, pedagang pasar tradisional, hingga ibu-ibu dapur yang sejak subuh mulai memasak demi memastikan makanan sampai ke tangan anak-anak dalam keadaan layak dan bergizi.

Program MBG yang digagas Presiden RI Prabowo Subianto bukan hanya soal memberi makan gratis kepada siswa. Lebih dari itu, program ini perlahan menjadi penggerak ekonomi kerakyatan yang menyentuh langsung masyarakat bawah.

Pasar tradisional hidup, permintaan bahan pangan meningkat. Dapur-dapur UMKM mulai beroperasi lebih aktif, perputaran uang terjadi setiap hari di tingkat lokal. Inilah efek domino yang selama ini mungkin luput dari perhatian.

Setiap ompreng makanan yang diterima siswa sesungguhnya membawa rantai ekonomi yang panjang. Mulai dari petani, pedagang, jasa distribusi, hingga tenaga dapur yang terlibat dalam proses penyediaan makanan tersebut.

Program ini juga membuka peluang kerja baru di tengah tantangan ekonomi masyarakat. Banyak pelaku UMKM katering, kelompok perempuan desa, hingga usaha rumahan kini mulai memiliki ruang untuk terlibat dalam rantai produksi pangan nasional.

Bagi sebagian masyarakat kecil, program ini bukan sekadar proyek pemerintah, tetapi harapan baru. Ada ibu rumah tangga yang kini memiliki penghasilan tambahan karena ikut memasak. Ada petani yang hasil panennya mulai terserap. Ada pedagang pasar yang dagangannya lebih cepat habis dibanding biasanya.

Jika dikelola secara transparan dan berpihak pada masyarakat kecil, MBG dapat menjadi salah satu program strategis yang bukan hanya menyentuh sektor pendidikan dan kesehatan, tetapi juga memperkuat fondasi ekonomi lokal.

Bengkulu memiliki potensi besar untuk menjadi contoh keberhasilan program ini. Daerah yang selama ini dikenal sebagai wilayah agraris dan kaya hasil pertanian dapat menjadikan MBG sebagai penghubung antara kebutuhan pangan sekolah dengan hasil produksi masyarakat lokal.

Artinya, uang negara yang digunakan untuk program MBG tidak keluar daerah, tetapi berputar di Bengkulu sendiri. Inilah yang membuat program ini memiliki nilai strategis jangka panjang.

Pada akhirnya, ompreng MBG di tangan anak-anak Bengkulu bukan hanya sekadar makanan gratis. Ia adalah simbol kehadiran negara di tengah masyarakat.

Bukan sekadar retorika politik, tetapi bukti nyata bahwa sebuah kebijakan dapat menggerakkan banyak sektor sekaligus ketika dijalankan dengan hati dan keberpihakan kepada rakyat kecil.

MBG bukan hanya program sosial. Ia bisa menjadi fondasi ekonomi baru berbasis kerakyatan. Dan Bengkulu memiliki kesempatan besar untuk menjadi bagian penting dari perubahan itu.

*Penulis adalah mahasiswa Prodi Jurnalistik Universitas Bengkulu

Sumber: Tribun Bengkulu
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved