Opini
Representasi Perbedaan Kelas Sosial Dalam Drama Korea 'The Worst Of Evil'
Serial The Worst of Evil menjadi salah satu contoh yang menggambarkan peran media dalam merepresentasikan perbedaan kelas sosial.
**Oleh Maidila Anisa Putri, Anis Endang SM, Bayu Risdiyanto
TRIBUNBENGKULU.COM - Di era digital saat ini, komunikasi massa memainkan peran yang semakin signifikan dalam kehidupan manusia.
Tidak hanya sebagai alat penyampai pesan, media massa juga berfungsi sebagai refleksi dinamika sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat.
Salah satu wujud komunikasi massa yang sangat populer adalah drama Korea, yang tidak hanya menjadi sarana hiburan tetapi juga medium untuk menyampaikan ideologi dan pesan sosial yang kompleks.
Sebagai salah satu fenomena global dalam Korean Wave, drama Korea kini telah menjangkau audiens di seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Serial The Worst of Evil menjadi salah satu contoh yang menggambarkan peran media dalam merepresentasikan perbedaan kelas sosial.
Drama ini membawa penonton menyelami dunia kejahatan narkoba dengan latar konflik sosial yang kuat, menjadikan perbedaan kelas sebagai elemen utama cerita.
Media sebagai Cermin Ketimpangan Sosial
Dalam teori komunikasi massa, John Fiske menyatakan bahwa media tidak hanya mencerminkan realitas, tetapi juga membentuk dan menyebarkan ideologi tertentu.
Dalam konteks The Worst of Evil, representasi perbedaan kelas sosial ditampilkan melalui elemen narasi, karakter, dan teknik visual.
Drama ini mengeksplorasi ketidakadilan sosial yang muncul dari struktur hierarki dalam masyarakat.
Karakter utama, Park Jun Mo, seorang polisi yang menyusup ke dalam geng narkoba, menjadi simbol perjuangan kelas bawah yang mencoba menavigasi dunia yang dikuasai oleh kelompok elite.
Sebaliknya, tokoh seperti Jung Gi Cheol dan Eui Jeong, yang berasal dari latar belakang kelas atas, mencerminkan sisi dominan yang memanfaatkan kekuasaan mereka untuk mempertahankan posisi sosial.
Teknik Visual dalam Menggambarkan Kelas
Pada level representasi, drama ini menggunakan berbagai teknik sinematik untuk menegaskan hierarki sosial.
| Pancasila di Era Digital: Merawat Persatuan melalui Komunikasi Persuasif |
|
|---|
| OPINI - Di Balik Ompreng MBG Bengkulu: Ada Petani, Dapur, dan Ekonomi Masyarakat Lokal yang Bergerak |
|
|---|
| Opini: Fenomena Geng Motor di Bengkulu, dari Pergaulan Remaja hingga Ancaman Jalanan |
|
|---|
| Atur Posisi Penumpang, Tapi Abaikan Sistem? Kritik Terhadap Kebijakan Penataan Gerbong KRL |
|
|---|
| Artificial Intelligence dan Kerumunan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bengkulu/foto/bank/originals/Penggunaan-Instagram-Sebagai-Strategi-Humas-dI-SMKN-2-Bengkulu-Tengah.jpg)