Senin, 8 Juni 2026

Viral di Media Sosial

Mendikti Saintek Satryo Brodjonegoro Buka Suara Dituding Tampar dan Pecat Sepihak Pegawai

Mendiktisaintek Satryo Soemantri Brodjonegoro akhirnya buka suara terkait tudingan tampar dan pecat sepihak pegawai.

Tayang:
Mendikti Saintek
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Satryo Soemantri Brodjonegoro akhirnya buka suara terkait tudingan tampar dan pecat sepihak pegawai. 

TRIBUNBENGKULU.COM - Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Satryo Soemantri Brodjonegoro akhirnya buka suara setelah dituding menampar dan pecat sepihak pegawai.

Tuduhan tersebut mencuat setelah aksi unjuk rasa yang digelar di depan Gedung Kemendiktisaintek, Senayan, Jakarta, pada Senin (20/1/2025). 

Satryo Soemantri Brodjonegoro membantah tuduhan dirinya melakukan penamparan terhadap pegawai dan melakukan pemecatan sepihak. 

"Penamparan? Tidak ada sama sekali," tegas Satryo saat ditemui di Kampus Institut Teknologi Bandung (ITB), Jalan Tamansari, Kota Bandung.

Satryo menduga aksi demo dipicu ketidakpuasan terhadap kebijakannya yang melakukan rotasi dan mutasi besar-besaran terhadap pegawai di kementerian tersebut. 

Menurut dia, mutasi merupakan bagian dari upaya pembenahan setelah pemecahan kementerian menjadi beberapa entitas mandiri.

"Kita ingin membenahi. Pak Presiden mengatakan harus hemat dengan anggaran pemerintah," jelasnya. 

"Ada mutasi cukup besar dan karena memang ada pihak-pihak yang tidak berkenan dimutasi."

Sebelumnya, ratusan pegawai Kemendiktisaintek menggelar unjuk rasa terkait dugaan kekerasan oleh sang menteri. Beberapa peserta aksi menuding 

Satryo sering menampar pegawai dan memecat ASN. 

Salah satu spanduk yang dibawa peserta demo bahkan menyebutkan permintaan untuk dibebaskan dari "menteri pemarah dan suka bermain tangan."

Unjuk Rasa di Kemendikti Saintek

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendikti Saintek) mendadak menjadi sorotan publik pada Senin (20/1/2025) siang.

Hal itu karena sejumlah pegawan Kemendikti Saintek menggelar aksi unjuk rasa di depan kantor Kemendikti Saintek di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta.

Dengan pakaian serba hitam, para pegawai Kemendikti Saintek berkumpul membawa spanduk protes bahwa mereka bukan pegawai pribadi Prof. Satryo dan istri.

Ketua Paguyuban Pegawai Kemendikti Saintek, Suwitno mengungkapkan permasalahan yang tengah terjadi di Kemendikti Saintek.

Ia mengatakan, masalah yang ada di Kemendikti Saintek tidak baru saja terjadi, tetapi sudah dimulai sejak adanya pergantian pejabat baru setelah Prof. 

Satryo diangkat sebagai Mendikti Saintek oleh Presiden Prabowo Subianto.

Pergantian jabatan itu, kata Suwitno, dilakukan dengan cara yang tidak elegan ataupun adil. 

"Tapi dengan cara-cara yang tidak elegan, cara-cara tidak fair, cara-cara juga tidak sesuai prosedur," kata Suwitno di Kantor Kemendikti Saintek, Jakarta, Senin (20/1/2025), dikutip Kompas. 

"Nah, ini juga memang terjadi sebenarnya di pimpinan di ditjen yang lama dan juga ada salah seorang direktur di lingkungan di Ditjen Dikti itu tidak diperlakukan secara adil," lanjutnya.

Lalu, permasalahan semakin runyam setelah salah satu pegawai aparatur sipil negara (ASN), yakni Neni Herlina, juga mengaku dipecat sepihak oleh Prof. Satryo sehingga memicu para pegawai melakukan unjuk rasa.

Neni Mengaku Dipecat Sepihak

Neni, kata Suwitno, bertugas menangani semua urusan rumah tangga Kemendikti Saintek. 

Namun, karena ada kesalahpahaman dalam menjalankan tugas, Neni tiba-tiba dipecat oleh Prof. Satryo. 

"Kalau pegawai melakukan kesalahan, itu kan bisa ditindaklanjuti dengan penjatuhan hukuman disiplin," ujarnya.

"Tapi harus jelas prosedurnya, ini tidak dilakukan sama sekali. Bahkan diusir dan diberhentikan katanya, bahkan diminta angkat kaki."

Oleh karena itu, Paguyuban Pegawai Kemendikti Saintek bergerak melakukan aksi ini sebagai ajang untuk menunjukkan rasa, serta menunjukkan kepada Presiden Prabowo Subianto bahwa menteri yang telah dilantik bertindak sewenang-wenang. 

"Terutama adalah kepada pejabat atau kepada Bapak Presiden yang sebenarnya mengangkat dan menunjuk beliau sebagai Menteri," lanjutnya. 

"Nah, kalau sudah seperti ini, apakah mau dilanjutkan atau tidak? Seorang pejabat itu yang harusnya memang menjadi contoh, apalagi di pendidikan tinggi."

Sementara itu, Neni Herlina menilai pemecatannya itu sangat tidak adil dan sepihak dan dilakukan dengan tidak manusiawi. 

Neni mengatakan, permasalahan antara dia dan Prof. Satryo bermula dari meja yang harus diletakkan di ruang kerja Prof. Satryo yang ternyata dianggap tidak sesuai oleh istri Prof. Satryo.

"Waktu itu permintaan mengganti meja itu dari istrinya sih. Karena waktu itu ke kantor, habis pelantikan beres-beres, kata sekretaris yang sekarang sudah dipecat itu bilang kayak gitu," kata Neni. 

"Saya emang enggak tahu apa-apa, cuma besoknya dipanggil gitu aja. Dipanggil langsung dimarahi," ucap dia. 

Neni juga merasa takut dan bingung bagaimana ia harus bersikap di kantor apakah harus bekerja ke kantor atau tidak. 

"Enggak ada SK-nya juga. Cuman maksudnya sudah keterlaluan aja di depan anak magang, di depan staf-staf saya, gitu. Mempermalukan saya kan," pungkas Neni. 

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved