Sabtu, 18 April 2026

Khotbah Jumat

Naskah Khotbah Jumat Singkat, Pendidikan Karakter Pondasi Bangsa yang Bermoral

Berikut adalah naskah Khotbah Jumat singkat dengan tema pendidikan karakter sebagai fondasi bangsa yang bermoral

Penulis: Hafi Jatun Muawiah | Editor: M Syah Beni
TRIBUNBENGKULU.COM/Elemen grafis Canva.com
KHOTBAH JUMAT - Ilustrasi elemen mesjid dan tiga anak yang mendorong beduk diedit menggunakan Canva.com. Naskah Khotbah Jumat singkat, Pendidikan Karakter Sebagai Fondasi Bangsa yang Bermoral 

TRIBUNBENGKULU.COM - Berikut adalah naskah Khotbah Jumat singkat dengan tema pendidikan karakter sebagai fondasi bangsa yang bermoral.
 
Pendidikan Karakter Sebagai Fondasi Bangsa yang Bermoral

Oleh: Muhammad Kudhori

KHUTBAH PERTAMA

اَلْمَْْدُ لِله ,اَلْمَْْدُ لِله الَّذِيْ ىَدَانََ لِذََِا وَمَا كُنَّا لِنَ.هْتَدِيَ لَوْلََ أَنْ ىَدَانََ اُلله أَشْهَدُ أَنْ لََ إِلَوَ إِلََّ اُلله وَحْدَهُ لََ شَرِيْكَ لَوُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنََ مُمََُّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُوُ أَرْسَلَوُ بِلِْدَُِى وَدِيْنِ الْقَِّْ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّ يْنِ كُلِّوِ اللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنََ مُمََُّدٍ وَعَلَى آلِوِ وَصَحْ بِوِ وَمَنْ تَبِعَ ىُدَاهْ ووَاَلَهَُ )أَمَّا بَ.عْدُ(
قَالَ اُلله تَ.عَالََ فِِْ كِتَابِوِ الْكَرِيِْْ: وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ.أَمَّا بَ.عْد: فَ.يَا عِبَادَ اِلله اتَّ.قُواْ الَّلََّ حَقَّ تُ.قَاتِوِ وَلََ تَوَُتُنَّ إِلََّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

Hadirin jamaah shalat Jum’at yang dirahmati Allah Swt,
Marilah pada kesempatan ini kita senantiasa meningkatkan iman dan takwa kita kepada Allah Swt. Dengan menjalankan perintah-perintah-Nya dan meninggalkan larangan-larangan-Nya. Karena hanya dengan takwa kepada Allah Swt. Derajat kita akan diangkat dan menjadi manusia yang mulia di sisi Allah Swt. Karena hanya dengan takwa kita akan dapat menggapai kesuksesan dan kebahagian dalam mengarungi kehidupan di dunia ini hingga kelak di akherat.

Hadirin jamaah shalat Jum’at yang dirahmati Allah Swt,
Dewasa ini kita dihadapkan dengan berbagai macam permasalahan umat manusia. Mulai dari kenakalan remaja, tawuran, korupsi, kolusi dan nepotisme. Kemaksiatan dan berbagai kerusakan moral yang lainnya. Yang membuat kita semakin prihatin adalah kemaksiatan- kemaksiatan yang dilakukan oleh anak manusia dengan sengaja dipamerkan dan diviralkan melalui media sosial.

Kita tentu prihatin dengan gejala-gejala semacam ini, di mana banyak orang yang sudah tidak malu lagi mempertontonkan kemaksiatan yang dikerjakannya di muka publik, bahkan di media sosial yang dapat disaksikan oleh ratusan ribu bahkan jutaan orang. Sifat malu sudah mulai memudar dalam hati dan kehidupan kita. Tidak hanya malu kepada Allah Swt. yang mulai menipis, tapi juga malu kepada sesama manusia. Banyak orang yang sudah tidak malu lagi ketika melakukan kemaksiatan secara terang-terangan di hadapan manusia.

Berdasarkan fenomena-fenomena di atas, tidak heran jika Rasulullah saw. sangat menekankan tentang pentingnya sifat malu, karena ia merupakan salah satu unsur dari sebuah keimanan. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Rasulullah saw. bersabda:

لِكُلِّ دِيْنٍ خُلُقٌ وَخُلُقُ الِْسْْلَمَِ اَلْيََْاءُ، مَنْ لََ حَيَاءَ لَوُ لََ دِيْنَ لَوُ.

“Setiap agama mempunyai budi pekerti, dan budi pekerti Islam adalah malu. Barang siapa yang tidak mempunyai rasa malu, maka ia tidak mempunyai agama” (H.R. Ibn ‘Abd al-Barr).
 
Dalam kesempatan yang lain, Rasulullah saw. juga bersabda:
 

إِذَا لََْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ .
 
“Jika kamu tidak mempunyai rasa malu, maka berbuatlah sesukamu” (H.R. al-Bukhari).

Dua hadist ini mengingatkan kepada kita semua tentang pentingnya rasa malu ketika melakukan hal-hal yang tidak diridai oleh Allah Swt, atau hal-hal yang dapat merugikan orang lain. Malu di sini tidak hanya kepada Allah Swt., akan tetapi juga malu terhadap sesama manusia. Dalam konteks ini seolah rasa malu menjadi barometer keimanan seseorang.

Artinya ketika seorang hamba sudah tidak mempunyai rasa malu, maka ia tidak akan mengindahkan lagi aturan- aturan agama maupun norma-norma yang berlaku di dalam masyarakatnya. Sehingga ia tidak canggung lagi untuk melakukan maksiat kepada Allah Swt. Atau melanggar norma adat istiadat masyarakatnya. Lebih parah lagi ketika seorang hamba itu selain tidak punya lagi rasa malu kepada Allah, ia juga tidak punya rasa malu kepada orang-orang yang ada di sekitarnya. Akibatnya ketika bertindak ia tidak mengindahkan kenyamanan orang-orang yang ada di sekitarnya. Ia juga tidak peduli lagi bahwa apa yang dilakukannya itu dapat merugikan orang lain.

Hadirin jamaah shalat Jum’at yang dirahmati Allah Swt,
Suatu hari Rasulullah saw., pernah bersabda kepada para Sahabatnya:

اِسْتَحْ يُوا مِنَ الَّلَِّ حَقَّ الْيََْاءِ.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved