Rabu, 27 Mei 2026

Berita Bengkulu

Gubernur Bengkulu Helmi Hasan Pastikan Pasokan BBM Aman Per Rabu 21 Mei 2025

Beberapa hari ini Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi jenis Pertalite langka di sejumlah SPBU yang ada di Kota Bengkulu.

Tayang:
Aghisty Firan Marenza/TribunBengkulu.com
ANTRIAN BBM- Antrean BBM di salah satu SPBU di Kota Bengkulu. Beberapa hari ini Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi jenis Pertalite langka di sejumlah SPBU, yang ada di Kota Bengkulu. 

Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Aghisty Firan Marenza 

TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU - Beberapa hari ini Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi jenis Pertalite langka di sejumlah SPBU yang ada di Kota Bengkulu.

Menanggapi hal tersebut, Gubernur Bengkulu, Helmi Hasan, menyatakan, bahwa dirinya telah menghubungi Pertamina, terkait kelangkaan BBM tersebut.

"BBM insya Allah sudah saya telepon Pertamina, dan insya Allah hari ini akan kembali normal, karena seperti yang kita ketahui, proses di pelabuhan belum sendiri belum selesai," ucap Helmi Hasan, Rabu (21/5/2025).

Ia menyebutkan, sebelumnya Pertamina telah melakukan akselerasi dari tiga Provinsi, melalui jalur darat.

Namun nyatanya, Pertamina mengatakan kerugiannya bisa mencapai 500 juta rupiah per hari.

"Tapi hari ini, insyaallah akan kembali normal.Pertaminanya sudah saya telepon, dia katakan, Pak per hari ini insyaallah tidak ada masalah," tuturnya.

Terpisah, Anggota DPRD Provinsi Bengkulu, Teuku Zulkarnain, juga menyoroti situasi ini.

Saat ini hanya tersedia pertamax turbo di SPBU dengan harga yang cukup tinggi bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

"Beberapa bulan yang lalu, coba Anda ingat pernyataan saya. Saya khawatir akan dua hal yang menjadi penyebab dangkalnya pelabuhan. Pertama, kelangkaan BBM," ujar Teuku.

"Kedua, terisolasinya Enggano. Kini, kedua hal itu sudah terjadi. Anda bisa lihat sendiri betapa banyak pisang dari Enggano dibuang ke laut. Sekarang, kita sama-sama melihat, bukan hanya pertalite yang langka, tetapi pertamax juga sulit ditemukan, hanya tersedia pertamax turbo."

Kondisi ini disebabkan oleh ketergantungan provinsi Bengkulu terhadap pengiriman BBM yang mencapai 80 persen melalui kapal dari pelabuhan Pulau Baai.

"Oleh karena itu, Pertamina harus mengirimkan pasokan dengan truk melalui jalur darat. Jika Linggau kosong, mereka akan mengirim ke Jambi, jika Jambi juga kosong, maka harus ke Palembang atau Sumatera Barat," lanjutnya.

"Jika semuanya kosong, kita akan menghadapi masalah, karena mereka juga memiliki kuota terbatas untuk penduduk setempat. Jadi, jika tidak ada cadangan di daerah mereka, bagaimana kita bisa mendapatkannya?."

Sehubungan dengan masalah ini, Pertamina mengungkapkan bahwa mereka harus mengeluarkan biaya tambahan hingga Rp500 juta per hari untuk mendistribusikan BBM ke Bengkulu melalui jalur darat.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved