Harga Sawit di Bengkulu
Harga TBS Sawit Anjlok, DPRD Bengkulu Siap Awasi Perusahaan CPO
Wakil Ketua I DPRD Bengkulu menilai turunnya harga sawit tak sejalan dengan harga CPO dan minyak goreng di pasaran.
Penulis: Muhammad Panji Destama Nurhadi | Editor: Hendrik Budiman
Ringkasan Berita:
- Alasan sejumlah pengusaha sawit yang mengaitkan penurunan harga TBS dengan kebijakan pemerintah pusat dinilai tidak sepenuhnya masuk akal.
- DPRD Provinsi Bengkulu akan melakukan pemantauan terhadap kebijakan para pengusaha sawit terkait penetapan harga pembelian TBS dari petani.
- Pengusaha pabrik saat ini cenderung menerapkan mekanisme supply and demand demi memperoleh keuntungan lebih besar, sementara petani menjadi pihak yang paling dirugikan.
Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Panji Destama
TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU - Wakil Ketua I DPRD Provinsi Bengkulu, Teuku Zulkarnain, menyoroti turunnya harga tandan buah segar (TBS) sawit yang dinilai tidak sejalan dengan harga crude palm oil (CPO) maupun minyak goreng di pasaran.
Menurutnya, alasan sejumlah pengusaha sawit yang mengaitkan penurunan harga TBS dengan kebijakan pemerintah pusat dinilai tidak sepenuhnya masuk akal.
“Memang ada beberapa kebijakan pusat yang kemudian dijadikan alasan untuk menurunkan harga pembelian sawit dari petani. Namun, ini menjadi lucu,” kata Teuku Zulkarnain, saat dihubungi TribunBengkulu.com, Sabtu (23/5/2026).
Ia menilai, apabila harga sawit yang dibeli dari petani mengalami penurunan, seharusnya harga CPO hingga minyak goreng juga ikut turun di pasaran.
“Kalau harga sawit yang dibeli dari petani murah, seharusnya harga CPO juga turun dan harga minyak goreng ikut turun. Tetapi faktanya, sawit dibeli murah dari petani, sementara harga CPO tidak turun dan harga minyak goreng juga tetap tinggi,” jelas Teuku.
DPRD Provinsi Bengkulu akan melakukan pemantauan terhadap kebijakan para pengusaha sawit terkait penetapan harga pembelian TBS dari petani.
Bahkan, pihaknya juga akan menyiapkan langkah strategis terhadap perusahaan-perusahaan CPO yang dinilai merugikan petani sawit.
“Oleh karena itu, harus ada langkah tegas. Kami akan menyusun langkah-langkah strategis terhadap para pengusaha CPO ini,” tegas Teuku.
Adanya kebijakan yang berpihak kepada petani sawit sehingga harga TBS dapat kembali stabil dan kesejahteraan petani tetap terjaga.
Petani Minta Pemprov Turun Langsung
Ketua Aliansi Petani Sawit Provinsi Bengkulu, Edi Mashury, mengkritik langkah Pemerintah Provinsi Bengkulu dalam menyikapi anjloknya harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit.
Menurut Edi, pemerintah daerah seharusnya tidak hanya menggelar rapat bersama perusahaan dan pejabat terkait, tetapi juga melibatkan petani secara langsung dalam mencari solusi.
Ia menilai pernyataan pemerintah yang ingin “menyejukkan petani” belum menyentuh akar persoalan yang dihadapi masyarakat di lapangan.
“Kalau benar ingin menyejukkan petani, bukan hanya dengan retorika atau rapat-rapat. Yang dibutuhkan petani saat ini adalah bagaimana harga TBS kembali membaik,” kata Edi Mashury dalam Video pernyataannya, Sabtu (23/5/2026).
| Harga TBS Sawit di Bengkulu Tengah Terjun Bebas, Penurunan Kini Capai Rp 600 per Kilogram |
|
|---|
| Harga TBS di Seluma Makin Anjlok, Petani Menjerit Pengusaha RAM Rugi Puluhan Juta |
|
|---|
| Penetapan Harga TBS Bengkulu Rp3.463/Kg, Wagub Mian Usul Penetapan Dilakukan Tiap Bulan |
|
|---|
| Harga Sawit Bengkulu Naik Jadi Rp 3.352,76 per Kg, PKS Diminta Patuh |
|
|---|
| Hore! Petani Sawit Sumringah, Pemprov Bengkulu Tetapkan Harga TBS Kini Rp3.300 Perkilo |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bengkulu/foto/bank/originals/TBS-SAWIT-BU-752025.jpg)