Berita Kang Dedi Mulyadi
Ngadu ke Kang Dedi Mulyadi, Warga Sumsel Bongkar Kelakuan Oknum Polisi dan Konselor, Dimintai Uang
Seorang ibu asal Kota Lubuklinggau, Sumatera Selatan, tak bisa menyembunyikan kepedihan hatinya saat mengadu langsung kepada Kang Dedi Mulyadi.
TRIBUNBENGKULU.COM - Seorang ibu asal Kota Lubuklinggau, Sumatera Selatan, tak bisa menyembunyikan kepedihan hatinya saat mengadu langsung kepada Kang Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat.
Ia datang jauh-jauh dari Lubuklinggau, membawa luka batin yang tak kunjung sembuh.
Anak laki-lakinya terjerat narkoba sejak usia SMP, dan justru makin terpuruk setelah menjalani rehabilitasi.
Namun yang paling menyakitkan bukan hanya soal kecanduan sang anak, melainkan kebobrokan tempat rehabilitasi yang seharusnya menjadi tempat pemulihan.
“Yang jadi konselor pendamping malah ikut pakai, Pak,” ujar Dian Nurhayati kepada Kang Dedi Mulyadi,
Ia menceritakan bahwa anaknya sudah dua kali menjalani proses rehabilitasi.
Namun setiap pulang dari tempat rehab, kondisinya justru memburuk.
Bahkan, salah satu konselor yang mendampingi putranya tidak hanya ikut memakai sabu, tetapi juga terlibat dalam aksi gadai motor keluarga hingga tiga kali.
Baca juga: Kisah Pilu Warga Sumsel Datang Temui Kang Dedi Mulyadi, Tak Sanggup Urus Anak jadi Pecandu Narkoba
“Saya enggak nyangka, motornya malah digadaikan bareng sama konselor. Konselornya ngajak pakai juga,” tambahnya.
Tak berhenti di situ, Dian Nurhayati juga menyinggung adanya dugaan kekerasan fisik yang dialami anaknya selama menjalani rehabilitasi.
Situasi ini tidak hanya merusak kondisi mental anak, tetapi juga semakin memperparah kecanduannya.
Rehabilitasi yang seharusnya menjadi titik balik justru berubah menjadi mimpi buruk.
Berbagai upaya sudah dilakukan, termasuk melaporkan ke Dinas Sosial.
Dinas Sosial bilang, "Sudah, Bu. Kalau mau kasih efek jera, laporkan saja (ke polisi)." Katanya.
"Jika sudah jera nanti dikeluarkan (dari penjara). Tidak bayar," lanjutnya menirukan perkataan orang Dinas Sosial.
Dian Nurhayati mengikuti anjuran tersebut. Namun malang, lagi-lagi dirinya malah mendapatkan masalah baru.
Setelah sebulan anaknya di dalam penjara, ia berniat mengeluarkan anaknya tersebut.
Ternyata untuk mengeluarkan anaknya ia harus membayar uang pencabutan laporan sebesar Rp 10 juta.
"Awalnya diminta Rp 10 juta. Setelah nego-nego, jadi Rp 5 juta. Tapi tetap saja, saya harus cari uang lagi," tambahnya.
Untuk membebaskan anaknya saat ditahan, Dian terpaksa meminjam uang dari rentenir (bank plecit) dengan bunga 30 persen.
“Saya pinjam Rp5 juta, yang diterima cuma Rp4,5 juta. Tapi bayarnya jadi Rp6,5 juta,” katanya.
Dalam kondisi terdesak secara ekonomi, mental, dan sosial, Dian datang kepada Kang Dedi Mulyadi.
Harapannya sederhan agar anaknya bisa dibina kembali menjadi pribadi yang lebih baik, dan bebas dari narkoba.
Mendengar pengakuan tersebut, Kang Dedi menyatakan akan membantu proses rehabilitasi anaknya melalui barak binaan khusus yang dikelolanya.
Namun, ia juga menegaskan bahwa tanggung jawab moral tetap harus dipegang oleh keluarga.
“Saya akan bantu rehabilitasi anak Ibu. Tapi soal pekerjaan, bantuan rumah, dan lainnya belum bisa saya jawab. Saya harus adil terhadap warga Jawa Barat,” tegas Kang Dedi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bengkulu/foto/bank/originals/Warga-Sumsel-Bongkar-Kelakuan-Oknum-Polisi-dan-Konselor.jpg)