Minggu, 3 Mei 2026

Opini

Cegah Anemia Pada Remaja Putri dengan Gizi Seimbang

Anemia merupakan salah satu masalah kesehatan yang paling umum terjadi di seluruh dunia.

Tayang:
Editor: Yunike Karolina
HO TribunBengkulu.com/Kemenkes RI
CEGAH ANEMIA - Ilustrasi gizi seimbang. Gizi seimbang bukan hanya mencegah anemia namun juga menjadi kunci kesehatan dan prestasi optimal remaja. 

Oleh Fera Widyanti, SST., M.Gz.

TRIBUNBENGKULU.COM - Anemia merupakan salah satu masalah kesehatan yang paling umum terjadi di seluruh dunia, terutama di negara-negara berkembang yang memiliki efek bagi kesehatan manusia.

World Health Organization menyatakan bahwa anemia merupakan kondisi ketika konsentrasi hemoglobin menurun, kemampuan darah membawa oksigen ke jaringan menjadi terganggu
menyebabkan kelelahan, berkurangnya kapasitas kerja fisik hingga sesak napas.

Apabila mengalami anemia maka akan menyebabkan terjadinya penurunan massa eritrosit sehingga tidak dapat memenuhi fungsinya untuk membawa oksigen dalam jumlah yang cukup ke jaringan perifer.

Peraturan Menkes RI, remaja adalah individu yang berusia 10 hingga 18 tahun merupakan salah satu kelompok berisiko tinggi mengalami anemia yang dapat mengganggu pembelajaran dan menyebabkan tidak konsentrasi dalam belajar (WHO, 2017).

Menurut World Health Organization (WHO) tahun 2019, prevalensi anemia di antara wanita usia 15-49 tahun di seluruh dunia adalah 30 persen.

Data Riskesdas tahun 2018 bahwa prevalensi anemia di Indonesia meningkat dari 21,7 persen tahun 2013 menjadi 23,7 persen tahun 2018.

Usia 15-24 tahun juga mengalami peningkatan dari 18,4 persen tahun 2013 menjadi 32,2 persen tahun 2018 (Kemenkes Republik Indonesia, 2018).

Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya anemia pada remaja putri, seperti menstruasi/kehilangan banyak darah, kurang asupan zat besi, diet yang keliru, perubahan psikologis.

Lalu perilaku, perkembangan fisik dan percepatan pertumbuhan, status gizi dan sosial ekonomi, inflamasi kronis dan akut, infeksi parasit, peningkatan kebutuhan zat besi, kehilangan zat besi dari tubuh selama menstruasi, sintesis hemoglobin, dan produksi sel darah merah.

Anemia dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, sesuai dengan penyebab terjadinya anemia itu sendiri salah satunya adalah anemia defisiensi zat besi.

Organisasi Kesehatan Dunia melaporkan bahwa 50-80 persen penyebab paling umum terjadinya anemia secara global adalah kekurangan zat besi (WHO, 2017) yang disebabkan karena

Baca juga: Rejang Lebong Lumbung Tanaman Obat di Bengkulu, Penghasil Jahe dan Kunyit Terbanyak

(1) Asupan zat besi yang rendah.

Adanya asupan zat besi yang tidak mencukupi maka akan mengakibatkan cadangan besi dalam tubuh berkurang sehingga mempengaruhi proses pembentukan sel darah merah di sumsum tulang.

(2) Penyerapan yang tidak adekuat, seseorang yang mengkonsumsi makanan tinggi zat besi tidak menjamin ketersediaan jumlah zat besi yang cukup di dalam tubuhnya.

Hal ini juga dipengaruhi oleh kondisi atau makanan yang dikonsumsi, menghambat ataupun mempercepat penyerapan zat besi itu sendiri.

(3) Kebutuhan zat besi yang meningkat, adanya kebutuhan zat besi yang meningkat pada remaja mengharuskan tersedianya zat besi dalam jumlah yang cukup.

Masa remaja adalah masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa sehingga akan terjadi perubahan fisik, biologis dan psikologis. 

Remaja putri mempunyai risiko mengalami anemia karena adanya peningkatan kebutuhan zat gizi untuk pertumbuhan, peningkatan kehilangan zat besi saat menstruasi (WHO, 2017), 
ketidakseimbangan asupan dan kebutuhan, penerapan diet dan pemilihan makanan yang kurang tepat.

(4) Kehilangan darah secara kronis, kehilangan darah pada wanita terjadi karena menstruasi yang banyak dan lama.

Remaja putri yang tidak memiliki persediaan zat besi yang cukup dan penyerapannya rendah maka mekanisme tubuh tidak akan mampu menggantikan zat besi yang hilang selama menstruasi sehingga mengakibatkan remaja putri mengalami anemia. 

(5) Defisiensi zat gizi lain dapat menyebabkan anemia. Vitamin B9 dan B12 berperan dalam pematangan sel darah merah.

Proses hematopoiesis memerlukan peran vitamin A dan C. Kekurangan vitamin A mengakibatkan terganggunya mobilisasi besi sehingga cadangan besi tidak dapat dimanfaatkan untuk pembentukan eritrosit.

Penyerapan zat besi dalam bentuk nonheme meningkat empat kali lipat jika ada vitamin C.

Zat besi merupakan protein yang berperan dalam produksi hemoglobin yang terdapat pada jaringan hati, limpa, sumsum tulang, inti sel dalam plasma dan otot.

Orang dewasa membutuhkan 3-4 gr zat besi untuk produksi eritrosit dan 20-25 mg/hari untuk metabolisme sel.

Ketersediaan jumlah zat besi di dalam tubuh yang kurang akan mengakibatkan jumlah zat besi untuk eritropoesis juga kurang sehingga menyebabkan terjadinya anemia defisiensi besi.

Klasifikasi derajat defisiensi besi dibagi menjadi 3 tingkatan yaitu: 

(1) Deplesi besi, pada tahap ini persediaan besi di sumsum tulang menurun namun gejala belum tampak, morfologi dan distribusi sel darah merah normal.

(2) Eritropoiesis defisiensi besi, tahap kekurangan besi ini, kadar hemoglobin mulai menurun (<12>

Sel darah merah yang bersirkulasi merupakan sel darah merah yang diproduksi pada saat cadangan besi masih cukup.

Adanya perbedaan ukuran dan luas sel darah merah, sumsum tulang mulai memproduksi eritrosit yang berukuran kecil, terjadi penurunan serum besi dan feritin, adanya peningkatan Total Iron Binding Capacity (TIBC) dan reseptor transferin di permukaan sel.

(3) Anemia defisiensi besi yang disebabkan kurangnya ketersediaan zat besi dalam tubuh untuk proses eritropoesis sehingga menghambat perkembangan kualitas hidup manusia.

Anemia ditandai dengan adanya eritrosit kecil (mikrositik) dan pucat (hipokromik), gangguan kemampuan mengangkut oksigen, penurunan kadar serum besi, transferin, cadangan besi, peningkatan kapasitas ikat besi.

Kadar hemoglobin adalah tanda awal terjadinya anemia defisiensi besi Anemia yang terjadi terus menerus dalam jangka waktu yang lama maka akan berdampak pada siklus kehidupan apalagi jika terjadi pada wanita hamil, bayi, balita dan remaja yang memang berisiko mengalami anemia.

Pertumbuhan linier terutama selama fase bayi dan pubertas, mudah lelah, konsentrasi belajar dan kecerdasan akan turun yang berefek dengan prestasi belajar yang turun, pertumbuhan dan perkembangan terganggu, kemampuan fisik dan aktivitas kerja menurun serta mempengaruhi sistem pencernaan, susunan saraf pusat, kardiovaskular serta sistem imunitas.

Anemia biasanya masih dapat ditoleransi apabila masih dalam kondisi ringan, gejala yang ada hanya mudah lelah, namun jika terjadi anemia akut dan tidak diatasi dengan segera maka menyebabkan kelelahan, detak jantung cepat dan tidak menentu, sesak nafas, dan mengakibatkan hipotensi, kebingungan mental dan gagal jantung.

Anemia tidak hanya mempengaruhi status kesehatan saat ini namun berpengaruh terhadap terjadi penurunan produktivitas dan prestasi kerja.

Dalam sebuah penelitian bahwa kadar hemoglobin dengan produktivitas kerja menunjukkan adanya korelasi yang positif, hal ini berarti semakin rendah kadar hemoglobin, maka produktivitas kerja subjek semakin menurun.

Anemia jangka panjang pada remaja putri dapat berpengaruh sewaktu kehamilan yang akan meningkatkan resiko bayi lahir dengan berat badan lahir rendah, komplikasi penyakit bahkan kematian ibu dan bayi.

Ibu hamil yang mengalami anemia beresiko melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah, prematuritas, peningkatan morbiditas dan mortalitas janin.

Kejadian berat badan lahir rendah secara signifikan lebih banyak pada ibu yang menderita anemia.

Ibu yang mengalami anemia pada trimester kedua dan ketiga lebih beresiko melahirkan prematur sebesar 2-3 kali dapat menyebabkan kematian prenatal.

Anemia pada remaja putri tersebut dapat dicegah apabila menerapkan Prinsip Umum Gizi Seimbang yaitu

(1) Mengkonsumsi beraneka ragam makanan sesuai dengan kebutuhan tubuh agar tercapai status gizi optimal tanpa kekurangan atau kelebihan zat gizi tertentu. 

(2) Konsumsi makanan yang mengandung zat besi yang cukup. Zat besi yang dibutuhkan untuk memproduksi hemoglobin berasal dari makanan ada 2 bentuk yaitu heme (10 persen) dan nonheme (90 persen).

Heme berasal dari sumber hewani seperti daging, ayam, ikan, unggas, telur dan seafood sedangkan nonheme dari sumber nabati seperti sayuran, buah-buahan, kacang kacangan dan biji-bijian.

Makanan dari sumber hewani memiliki tingkat bioavailabilitas zat besi yang tinggi. Berbeda dengan sumber nabati memiliki tingkat bioavailabilitas zat besi yang rendah.

Zat besi yang berasal dari nonheme hanya diserap 3−8 persen oleh tubuh dibandingkan  dengan yang berasal sumber makanan hewani yaitu 23 persen.

(3) Mengkonsumsi vitamin C. 

Proses penyerapan zat besi nonheme dapat dibantu dengan mengonsumsi sumber bahan makanan tinggi vitamin C seperti tomat, jeruk, jambu biji, bahan makanan tinggi vitamin C.

Penyerapan zat besi dalam bentuk nonheme meningkat empat kali lipat jika ada vitamin C.

(4) Cukup Vitamin B12 dan Asam Folat yang berperan dalam pematangan sel darah merah
yang terdapat pada hati, sayuran hijau, alpukat, jeruk, kacang-kacangan.

(5) Kebutuhan protein terpenuhi sesuai kebutuhan untuk pembentukan hemoglobin yang terdapat pada telur, susu, keju, daging dan ikan.

(6) Komposisi makanan sesuai dengan “Isi Piringku”.

Gizi seimbang yang sebelumnya dikenal dengan Empat Sehat Lima Sempurna adalah konsep yang mengatur pemenuhan zat gizi makro dan mikro secara tepat meliputi sumber tenaga, pembangun dan pengatur dalam pola makan sehari-hari yang terdiri dari karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, serat, dan air dalam komposisi yang seimbang.

Selain itu juga harus dihindari konsumsi teh/kopi yang mengandung fitat dan tanin berdekatan dengan waktu makan karena dapat menghambat penyerapan zat besi.

Asupan 5-10 mg fitat yang ditambahkan pada roti yang mengandung 3 mg zat besi maka akan menghambat penyerapan zat besi hingga 50 persen.

Penerapan pola hidup bersih dan sehat, lakukan aktivitas fisik, pemantauan berat badan dan hemoglobin secara berkala serta pemberian tablet tambah darah (TTD) pada remaja putri sesuai anjuran pada kondisi tertentu.

Remaja yang tumbuh dengan gizi seimbang akan memiliki tubuh sehat, cerdas, masa depan yang gemilang dan bebas dari anemia.

Penerapan pola makan gizi seimbang setiap hari, membiasakan perilaku hidup bersih, aktif dan sehat agar remaja Indonesia bebas dari anemia.

Gizi seimbang bukan hanya mencegah anemia namun juga menjadi kunci kesehatan dan prestasi optimal remaja.

Gizi seimbang hari ini, bebas anemia esok hari. Isi piring seimbang, prestasi remaja cemerlang.


**Penulis adalah Dosen Jurusan Gizi Poltekkes Bengkulu

 

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved