Opini

OPINI: Benteng, Komunitas, Suara Laut dan Pintu 

Benteng Marlborough berdiri di tepi Samudra Hindia, memunggungi dan sesekali mengintip gelombang yang menerus datang tanpa henti.

Editor: Yunike Karolina
HO TribunBengkulu.com
OPINI - Kolase foto penulis opini dengan judul Benteng, Komunitas, Suara Laut dan Pintu, Mahatma Muhammad. Penulis adalah seniman, pengamat dan pekerja budaya sekaligus pendiri Komunitas Seni Nan Tumpah. 

**Oleh Mahatma Muhammad

TRIBUNBENGKULU.COM - Kawan-kawan, Benteng Marlborough berdiri di tepi Samudra Hindia, memunggungi dan sesekali mengintip gelombang yang menerus datang tanpa henti.

Kita tahu, dimanapun ombakmu dan ombakku tidak pernah berhenti. Ombak di halaman rumah kita hanya berganti bentuk: ada riaknya, ada pasang, badai, lalu kembali tenang. 

Kawan-kawan di Bengkulu lebih tahu, bahwa dari laut itulah dulu kapal-kapal Inggris datang membawa meriam, bendera, dan peta dagang.

Batu-batu benteng kemudian disusun dengan tangan orang kita, tapi nama bentengnya justru diambil dari seorang jenderal asing yang tidak pernah tahu panas berdengkangnya matahari di Tapak Padri ini. 

Maka jelas sejak awal, benteng ini bukan tentang kita. Benteng ini cuma tanda seru dari sejarah orang lain yang dicucukkan ke tubuh Bengkulu.

Kini, setelah kemerdekaan, setelah sekian kali renovasi dan revitalisasi, ia kembali diserahkan pada kita, khususnya kawan-kawan di Bengkulu sekalian. 

Kawan-kawan, kita diwarisi tubuh yang bukan kita, lalu diminta menghidupkannya.

Batu-batu, pagar, dan sebuah tubuh asing yang telah dipugar dan dipoles cat baru, diberi papan informasi. Sekarang sedang dijadikan panggung festival.

Pertanyaan kritisnya: apakah kita cukup puas menyebut semua ini milik kita, atau berani menjadikannya suara kita? Apa kita hanya memotret, dan tak mengacuhkan ia berbicara tentang luka kolektif yang pernah ditimbunnya?

Langkah Pertama, Narasi dan Negosiasi

Kawan-kawan, Festival Serempak adalah aktivasi. Langkah pertama pasca revitalisasi. Sebuah perayaan yang bisa disebut kembalinya benteng ke ruang publik.

Tapi sebuah festival budaya di Indonesia raya ini, seperti kawan-kawan sudah tahu, tidak pernah bebas dari kompromi.

Ia berada di antara persimpangan impian ideal tentang komunitas sebagai pusat atau sistem operasi, dengan realitas praktis, bahwa publik datang karena nama-nama besar dari industri hiburan nasional.

Tanpa nama besar, publik kito ndak nio datang. Komunitas lokal, betapapun gigih (apalagi kalau tidak serempak, ya), dianggap belum cukup sebagai magnet.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved