Gajah Mati di Mukomuko
BKSDA Selidiki Penyebab Kematian Induk dan Anak Gajah di Mukomuko, Turunkan Tim dan Dokter Hewan
BKSDA menurunkan tim gabungan dan dokter hewan untuk menyelidiki kematian induk dan anak gajah di Mukomuko, Sabtu (2/5/2026).
Penulis: Muhammad Panji Destama Nurhadi | Editor: Ricky Jenihansen
Dua ekor gajah sumatera ditemukan mati di wilayah konsesi PT Bentara Agra Timber (BAT), kawasan Hutan Produksi Air Teramang, Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu, pada Kamis (30/4/2026) kemarin.
Satwa dilindungi tersebut terdiri dari seekor induk gajah betina dan satu ekor anak gajah yang hingga kini belum diketahui jenis kelaminnya.
Penemuan bangkai gajah itu langsung dilaporkan masyarakat kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu.
Kepala Seksi Wilayah I BKSDA Bengkulu, Said Jauhari, membenarkan adanya laporan kematian dua gajah tersebut.
Menurutnya, pihak BKSDA langsung menerjunkan tim ke lokasi untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
“Kami menerima informasi dari masyarakat terkait adanya dua gajah yang ditemukan mati. Tim sudah menuju lokasi untuk melakukan nekropsi guna mengetahui penyebab kematian,” kata Said Jauhari saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Jumat (1/5/2026) malam.
Ia menjelaskan, hasil informasi awal yang diterima menunjukkan gading atau gigi caling induk gajah betina masih dalam kondisi utuh.
Hal itu mengindikasikan dugaan sementara kematian satwa tersebut bukan akibat perburuan liar.
“Gigi calingnya masih utuh, sehingga dugaan awal bukan karena perburuan,” ujarnya.
Said menegaskan, kejadian kematian gajah di sekitar konsesi PT BAT bukan pertama kali terjadi.
Karena itu, pihak perusahaan diminta ikut berperan aktif dalam menjaga habitat satwa liar yang berada di kawasan tersebut.
“Beberapa kali kasus kematian gajah terjadi di area sekitar konsesi PT BAT. Ini harus menjadi perhatian bersama,” tegasnya.
Kondisi Habitat Gajah
Kawasan tempat ditemukannya bangkai gajah diketahui masuk dalam Bentang Sebelat, salah satu habitat penting gajah sumatera di Bengkulu.
Namun, kondisi habitat satwa tersebut terus mengalami tekanan akibat perambahan hutan dan ekspansi perkebunan sawit ilegal.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bengkulu/foto/bank/originals/Tim-gabungan-dan-dokter-hewan-saat-memeriksa-gajah-yang-mati.jpg)