Minggu, 3 Mei 2026

Berita Bengkulu Utara

Respon Pemkab Bengkulu Utara Terkait Warga Lebong Tandai Terisolir 13 Hari, Akses Molek Putus

Warga Lebong Tandai terisolir 13 hari akibat longsor putuskan akses molek, Pemkab Bengkulu Utara kirim TRC dan bantuan alat.

Tayang:
Penulis: Bima Kurniawan | Editor: Ricky Jenihansen
M Bima Kurniawan/TribunBengkulu.com
SEKDA BENGKULU UTARA - Sekda Bengkulu Utara Fitriansyah (tengah) diwawancarai TribunBengkulu.com, Senin (22/9/2025). Ia merespon soal warga Desa Lebong Tandai terisolir akibat longsor. 

Laporan Reporter TribunBengkulu.com, M. Bima Kurniawan

TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU UTARA - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bengkulu Utara melalui Sekda Bengkulu Utara, Fitriansyah, merespons terkait ratusan warga Desa Lebong Tandai, Kecamatan Napal Putih, Kabupaten Bengkulu Utara, yang terisolir akibat longsor menutup satu-satunya akses transportasi molek desa tersebut.

Longsor terjadi di jalur molek yang menjadi satu-satunya akses keluar masuk Desa Lebong Tandai sejak Jumat (12/9/2025).

Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Namun, akses transportasi molek masyarakat Desa Lebong Tandai terhambat total.

Hingga kini sudah 13 hari masyarakat setempat kesulitan menggunakan transportasi molek di desa tersebut.

Menanggapi hal itu, Fitriansyah mengungkapkan pihaknya melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah mengirimkan Tim Reaksi Cepat (TRC) ke titik longsor untuk melakukan penanganan.

"Baik terkait dengan Lebong Tandai pemerintah tidak tinggal diam, jadi kita sudah mengirimkan TRC ke lokasi beberapa hari yang lalu," ucap Fitriansyah.

Selain itu, pihaknya juga menyalurkan bantuan berupa 20 buah cangkul, 10 buah sekop, 10 unit kelenteng, 200 meter selang air, dan 20 serok untuk digunakan membersihkan material longsor.

Namun, upaya tersebut terkendala kondisi cuaca hujan serta ditemukannya titik rawan yang berpotensi menimbulkan longsor susulan.

"Kita memang ingin cepat membuka akses jalan, tetapi keselamatan yang utama. Karena di atas rel itu masih ada retakan batu dengan ketebalan 2–3 meter, panjang sekitar 15 meter, dan ketinggian rel lebih kurang 15–20 meter," jelas Fitriansyah.

Hingga Senin (22/9/2025), jalur akses transportasi molek tersebut masih dalam proses penanganan dengan alternatif sistem transit.

Di sisi lain, terdapat jalur alternatif melalui jalan Divisi 4 perkebunan sawit PT Alno dari program Tentara Manunggal Masuk Desa (TMMD). Namun, jalur tersebut juga masih rusak parah.

"Sementara jalan alternatif melalui Divisi 4 PT Alno karya bakti Korem itu juga memang masih parah untuk dilalui kendaraan," pungkas Fitriansyah.

Kondisi Warga

Sementara itu, Kabid Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bengkulu Utara, Erpiana, menerangkan bahwa masyarakat terpaksa melakukan transit di lokasi longsor.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved