Keracunan Massal di Kepahiang
Dinkes Kepahiang Terima Hasil Uji Laboratorium, Menu MBG Mengandung Staphylococcus aureus
Hasil uji laboratorium menunjukkan adanya bakteri Staphylococcus aureus pada sampel makanan MBG dan muntahan korban.
Penulis: Bima Kurniawan | Editor: Ricky Jenihansen
Ringkasan Berita:
- Dinkes Kepahiang menerima hasil uji laboratorium terkait dugaan keracunan MBG.
- Sebanyak 16 orang mengalami dugaan keracunan usai mengonsumsi makanan MBG.
- Hasil laboratorium menemukan bakteri Staphylococcus aureus pada sampel makanan dan muntahan.
- Dinkes menyebut ada hubungan epidemiologis antara hasil pemeriksaan makanan dan muntahan.
- Penjamah makanan diminta meningkatkan higienis dan sanitasi dalam pengelolaan makanan.
Laporan Reporter TribunBengkulu.com, M. Bima Kurniawan
TRIBUNBENGKULU.COM, KEPAHIANG – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kepahiang menerima hasil uji laboratorium terkait dugaan keracunan massal yang menimpa sejumlah siswa SD Negeri 18 Kepahiang usai mengonsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya bakteri Staphylococcus aureus pada sampel makanan MBG yang sebelumnya telah diuji bersama sampel muntahan korban.
Diketahui sebelumnya telah terjadi insiden dugaan keracunan massal yang menimpa sejumlah siswa SD Negeri 18 Kepahiang usai mengonsumsi makanan dari MBG pada Kamis (4/6/2026).
Jumlah korban dugaan keracunan berjumlah 16 orang yang terdiri dari siswa, guru, dan penjaga sekolah yang dilarikan ke Puskesmas Kelobak dan Puskesmas Pasar Kepahiang.
Para siswa dilaporkan mengalami mual, muntah, sesak napas, hingga gatal pada tenggorokan sehingga harus mendapatkan penanganan medis di fasilitas kesehatan setempat.
Dari keluhan tersebut, pihaknya menindaklanjuti dengan memberikan infus serta obat.
Dari penanganan tersebut, seluruh pasien dengan keluhan tersebut berangsur pulih dan kembali ke rumah masing-masing.
Atas kejadian tersebut, Dinkes Kepahiang telah mengambil sampel makanan dan muntahan siswa untuk dilakukan uji laboratorium.
Hasil Uji Laboratorium
Kepala Dinkes Kepahiang, Tajri Fauzan, mengungkapkan hasil uji laboratorium sampel tersebut telah keluar.
"Alhamdulillah hasil uji laboratorium sampel MBG dan muntahan siswa sudah kita terima," ucap Tajri.
Berdasarkan hasil uji laboratorium pada kedua sampel tersebut terdapat bakteri bernama Staphylococcus aureus.
"Sesuai dengan hasil analisis menunjukan bahwa adanya bakteri Staphylococcus aureus pada muntahan korban dan hasil uji laboratorium BPOM pada makanan MBG adanya cemaran Staphylococcus aureus," ungkap Tajri.
Hasil uji laboratorium tersebut memperkuat dugaan keracunan tersebut berasal dari makanan program MBG.
"Artinya ini ada singkronisasi atau hubungan epidemologis yang kuat antara hasil pemeriksaan laboratorium muntahan dan makanan," beber Tajri.
Dugaan Sumber Kontaminasi
Adapun menu MBG yang mengandung bakteri tersebut terdapat dari nasi yang diduga dibawa dari penjamah makanan atau petugas yang bekerja.
"Jika kita lihat hasil ini ada terkontaminasi dari nasi, bisa jadi dari pekerja yang tangannya kotor atau dari mulut yang lupa memakai masker," jelas Tajri.
Ia menegaskan kepada seluruh penjamah makanan atau petugas MBG untuk meningkatkan higienis dan sanitasi pada seluruh tahapan pengelolaan.
"Diperlukan peningkatan higenis dan sanitasi pada seluruh tahapan pengelolaan, penyimpanan dan penyajian makanan guna mencegah kejadian serupa kedepannya," tegas Tajri.
Siswa Trauma Makan MBG Lagi
Sementara itu, orang tua pelajar yang mengalami keracunan mengaku trauma dan khawatir usai anaknya dilarikan ke puskesmas usai mengonsumsi makan bergizi gratis (MBG), pada Kamis (4/6/2026).
Hingga saat ini, jumlah korban dugaan keracunan berjumlah 16 orang yang terdiri dari siswa, guru, dan penjaga sekolah yang dilarikan ke Puskesmas Kelobak dan Puskesmas Pasar Kepahiang.
Salah satu orang tua korban, Risti, mengungkapkan kondisi anaknya sempat mengalami muntah, gatal-gatal, hingga sesak napas setelah menyantap MBG di sekolah.
“Anak mulai mengeluh mual, muntah, pusing, dan gatal-gatal,” ujar Risti kepada Reporter TribunBengkulu.com, Kamis (4/6/2026).
Kondisi anak kemudian memburuk hingga mengalami sesak napas sebelum dibawa ke fasilitas kesehatan.
Risti mengatakan anaknya kini mengalami ketakutan untuk kembali mengonsumsi makanan dari program MBG.
“iya ada trauma dan khawatir,” kata Risti.
Ia berharap ada evaluasi menyeluruh terhadap kualitas makanan yang dibagikan kepada siswa.
“Harapannya ke depan tidak terjadi lagi dan makanan lebih selektif sebelum diberikan ke anak-anak,” katanya.
Senada dengan Rio yang anaknya juga mengalami keracunan usai mengonsumsi makanan dari program MBG.
"Iya anak saya keracunan dengan gejala muntah hingga dibawa ke Puskesmas Kelobak sekitar jam 10.00 WIB. Kalau penyebab nya kita kurang tau yang jelasnya dia ini sempat makan dari makanan MBG itu," jelas Rio.
Dirinya mengaku trauma atas apa yang dialami anaknya yang masih berusia sembilan tahun dan duduk di bangku kelas tiga SD 18 Kepahiang tersebut.
"Trauma dan kekhawatiran kita jelas ada, kedepannya kalau masih ada program ini harus ditingkatkan lagi dan yakinkan masyarakat agar tidak terjadi lagi," pungkas Rio.
Gabung grup Facebook TribunBengkulu.com untuk informasi terkini
| Kasus Dugaan Keracunan MBG di Kepahiang, Hasil Uji Sampel Diserahkan ke Dinkes |
|
|---|
| Hasil Lab Dugaan Keracunan MBG di SDN 18 Kepahiang Keluar, Loka POM Serahkan ke Dinkes |
|
|---|
| Imbas Keracunan Massal di SDN 18 Kepahiang, Dapur MBG di Taba Tebelet Ditutup Sementara |
|
|---|
| Dinkes Kepahiang Tanggapi Dugaan Keracunan MBG di SDN 18, Sampel Sudah Dikirim ke BPOM |
|
|---|
| Ketua DPRD Desak Evaluasi SPPG-Pengawasan Diperketat Imbas Keracunan Massal Pelajar SD 18 Kepahiang |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bengkulu/foto/bank/originals/KEPAHIANG-KERACUNAN-MASSAL-2353464-HASIL-LAB.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.