Senin, 8 Juni 2026

Berita Nasional

Penjelasan BMKG soal Cuaca Panas Ekstrem, Capai 37°C di Sejumlah Wilayah

Menurut BMKG, penyebab utama cuaca panas ekstrem ini adalah pergeseran semu posisi Matahari ke wilayah selatan Indonesia, yang terjadi setiap tahun.

Tayang:
Editor: Yunike Karolina
Jiafni Rismawarni/TribunBengkulu.com
DANAU DENDAM - Suasana di Danau Dendam Tak Sudah, yang menjadi salah satu lokasi destinasi wisata di Kota Bengkulu. Penjelasan BMKG, cuaca akhir-akhir ini semakin terasa panas termasuk di Bengkulu. 

Ringkasan Berita:
  • Menurut BMKG, penyebab utama cuaca panas ekstrem karena pergeseran semu posisi Matahari ke wilayah selatan Indonesia
  • BMKG menyebut cuaca panas ekstrem ini diperkirakan akan berlangsung hingga akhir Oktober atau awal November 2025
  • Pengamatan yang dilakukan BMKG pada 14 Oktober mencatat suhu maksimum di sejumlah wilayah Indonesia masih berada dalam rentang 34 hingga 37°C

TRIBUNBENGKULU.COM - Akhir-akhir ini, cuaca di berbagai wilayah Indonesia terasa semakin panas dan kering.

Berdasarkan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), suhu udara di bulan Oktober ini diperkirakan bisa menembus angka 37 derajat celsius.

Pengamatan yang dilakukan pada 14 Oktober mencatat bahwa suhu maksimum di sejumlah wilayah Indonesia masih berada dalam rentang 34 hingga 37°C.

Wilayah yang mengalami suhu tertinggi, yakni antara 35–37°C, di antaranya adalah Kalimantan, Papua, Jawa, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

Lantas apa yang menjadi penyebab cuaca panas?

Menurut BMKG, penyebab utama cuaca panas ekstrem ini adalah pergeseran semu posisi Matahari ke wilayah selatan Indonesia, yang terjadi setiap tahun sekitar Oktober hingga November.

Posisi Matahari yang lebih dekat dengan garis lintang selatan menyebabkan intensitas radiasi sinar Matahari meningkat secara langsung ke permukaan Bumi.

Kondisi ini diperparah oleh minimnya pertumbuhan awan, sehingga tidak ada lapisan atmosfer yang cukup untuk menghalangi atau menyebarkan sinar Matahari.

Akibatnya, suhu permukaan meningkat tajam, terutama pada siang hari.

Selain itu, Indonesia saat ini sedang berada dalam masa pancaroba, yaitu peralihan dari musim kemarau menuju musim hujan.

Pada periode ini, atmosfer cenderung tidak stabil, dan tutupan awan belum terbentuk secara merata.

BMKG menyebut bahwa cuaca panas ekstrem ini diperkirakan akan berlangsung hingga akhir Oktober atau awal November 2025, dan akan mulai mereda seiring masuknya musim hujan serta meningkatnya tutupan awan di atmosfer.

Berdasarkan penjelasan BMKG Stasiun Meteorologi Ahmad Yani melalui akun media sosial resminya, pada bulan September posisi matahari tepat berada diatas khatulistiwa dan bergerak bergeser kearah selatan pada bulan Oktober sehingga tepat diatas pulau jawa.

Berdasarkan historis data terutama diwilayah kota Semarang suhu maksimum tertinggi terjadi dibulan oktober, dengan rekor tercatat 39.5oC ditahun 2015.

Untuk tahun ini suhu maksimumnya kemungkinan tidak akan setinggi tahun 2015 karena dibarengi dengan masuknya musim hujan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved