Senin, 8 Juni 2026

Prabowo Subianto

Setelah Thomas Djiwandono, Kini Muncul Nama Keponakan Prabowo Budi Djiwandono di Isu Reshuffle

Isu perombakan Kabinet Merah Putih kembali menguat dan menarik perhatian publik, setelah muncul nama keponakan Presiden Prabowo Subianto.

Tayang:
TribunBengkulu.com/instagram/budidjiwandono
KEPONAKAN PRABOWO - Dari kiri ke kanan: Thomas Djiwandono, Prabowo Subianto dan Budisatrio Djiwandono. Isu perombakan Kabinet Merah Putih kembali menguat dan menarik perhatian publik, setelah muncul nama keponakan Presiden Prabowo Subianto, Budisatrio Djiwandono, dalam bursa reshuffle kabinet, menyusul sebelumnya terpilihnya Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia. 

TRIBUNBENGKULU.COM - Isu perombakan Kabinet Merah Putih kembali menguat dan menarik perhatian publik, setelah muncul nama keponakan Presiden Prabowo Subianto, Budisatrio Djiwandono, dalam bursa reshuffle kabinet, menyusul sebelumnya terpilihnya Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia.

Sebanyak tujuh nama menteri dikabarkan masuk dalam radar evaluasi Presiden Prabowo Subianto.

Kabar ini menjadi perbincangan di tengah upaya pemerintah mempercepat capaian program kerja tahun 2026.

Menteri Koordinator Bidang PMK, Pratikno, menjadi salah satu nama yang santer diisukan akan digeser.

Selain itu, nama Menteri Luar Negeri Sugiono juga disebut-sebut masuk dalam daftar evaluasi tersebut.

Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, turut dikabarkan akan terkena dampak perombakan ini.

Di sektor komunikasi, nama Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, juga tidak luput dari isu reshuffle.

Posisi Menteri HAM yang dijabat Natalius Pigai dan Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana juga dikabarkan terancam.

Terakhir, Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Muhammad Qodari disebut berpotensi mengalami rotasi jabatan.

Meski isu ini meluas, pihak Istana Kepresidenan hingga saat ini belum memberikan pernyataan resmi.

Pengamat Politik, Adi Prayitno, menilai rencana perombakan ini didorong oleh faktor evaluasi kinerja.

"(Faktor) pertama mungkin karena faktor evaluasi kinerja karena apapun reshuffle itu faktor utama (dilakukan) soal (evaluasi) kerja."

"Kedua, mungkin juga ada rotasi posisi menteri. Dalam beberapa kasus reshuffle terjadi karena menggeser posisi menteri ke menteri lainnya," jelasnya kepada Tribunnews.com, Senin.

Ia menegaskan bahwa langkah ini tidak selalu berarti pencopotan, melainkan bisa berupa rotasi posisi.

Adi menilai Presiden Prabowo ingin menempatkan orang yang tepat pada posisi yang lebih sesuai.

Sumber: Tribun Bengkulu
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved