Kasus Pembacokan

Blak-blakan Karyawan Bongkar Perangai Dwi Hartono, Tega Habisi Kacab Bank BUMN, Mencuat Motif Dendam

Karyawan bongkar Dwi Hartono, diduga sakit hati pinjaman Rp13 miliar ditolak, terlibat kasus penculikan & pembunuhan Kacab Bank BUMN.

Instagram Klan Hartono
DWI HARTONO - Dwi Hartono, motivator sosial media, yang diduga menjadi otak penculikan dan pembunuhan kepala cabang bank BUMN di Jakarta. 

Kasus penculikan dan pembunuhan Mohamad Ilham Pradipta (37) perlahan mulai terungkap. Dari hasil penyelidikan, Dwi Hartono disebut sebagai otak di balik aksi keji ini. Motifnya diduga terkait pinjaman fiktif senilai Rp13 miliar yang ditolak oleh korban.

Informasi dari berbagai sumber menyebutkan bahwa Dwi Hartono sakit hati karena upayanya mengajukan pinjaman atau kredit fiktif sebesar Rp13 miliar diketahui oleh Ilham Pradipta. Korban kemudian mencoret klausul peminjaman tersebut.

Dwi Hartono kemudian menyusun rencana untuk menghabisi nyawa mantan penyiar radio tersebut, dengan membayar jasa debt collector untuk menculik Ilham Pradipta.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Ade Ary Syam Indradi, menyampaikan bahwa polisi belum dapat memastikan motif pembunuhan Ilham Pradipta, termasuk terkait kredit senilai Rp13 miliar yang diketahui korban.

Motif Penculikan

Permintaan maaf keluarga tersebut disampaikan pengacara para tersangka penculikan, Adrianus Agau, kepada wartawan di Polda Metro Jaya, Senin (25/8/2025).

Adrianus menjelaskan bahwa dalam aksi kejahatan ini terdapat tiga kluster peran, yaitu kelompok pengintai, penculik, dan eksekutor.

“Atas peristiwa pidana ini, ada tiga klaster. Klaster pertama itu setelah kami dapat informasi dari penyidik dan dari intelijen kami, bahwa klaster pengintai, klaster penjemputan paksa, sama eksekutor,” jelas Adrianus.

Ia menegaskan, kliennya, yakni RS, AT, RW, dan RAH, hanya terlibat dalam proses penjemputan paksa. Setelah itu, mereka menyerahkan Mohammad Ilham Pradipta kepada eksekutor berinisial F di kawasan Cawang, Jakarta Timur.

“Adik-adik kami ini mereka perannya hanya untuk menjemput paksa dan memberikan ke mereka (eksekutor),” katanya.

Adrianus juga menyampaikan permohonan maaf keluarga kepada keluarga korban atas tindakan penculikan yang dilakukan.

Ia menjelaskan bahwa para pelaku menerima pekerjaan tersebut karena motif ekonomi.

“Jadi intinya kami dari keluarga memohon maaf terhadap keluarga korban bahwa adik-adik kami juga menerima pekerjaan ini karena diiming-imingi sesuatu,” tuturnya.

Selain itu, Adrianus menegaskan bahwa para tersangka tidak mengetahui aksi itu akan berujung pada pembunuhan.

“Kalau mereka tahu bahwa pekerjaan ini sampai terjadi mengakibatkan kematian, saya yakin sebagai orang yang beragama dan kami juga sebagai orang Katolik pasti kami menolak pekerjaan seperti ini,” ungkap Adrianus.

Halaman
1234
Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved