Senin, 8 Juni 2026

Berita Viral

Curhat Kepsek Dini Pitria Kembali ke SMAN 1 Cimarga Akui Masih Waswas, Ungkapkan Hal Ini

Dini Pitria, kembali ke sekolah setelah sempat dinonaktifkan oleh Gubernur Banten, Andra Soni, pada Kamis (16/10/2025). 

Tayang:
Editor: Hendrik Budiman
KOMPAS.COM/RASYID RIDHO
KEPSEK VIRAL - Gubernur Banten Andra Soni mempertemukan Kepala SMAN 1 Cimarga dengan siswanya dengan difasilitasi Gubernur Banten Andra Soni di ruang kerjanya, Rabu (15/10/2025). 

 

Ringkasan Berita:
  • Dini Pitria, kembali ke sekolah setelah sempat dinonaktifkan oleh Gubernur Banten, Andra Soni, pada Kamis (16/10/2025). 
  • Dini mengatakan, setelah peristiwa kemarin, guru kini serba khawatir dalam bersikap.

 

TRIBUNBENGKULU.COM - Setelah sempat dinonaktifkan akibat insiden penamparan siswa yang merokok, Kepala SMAN 1 Cimarga, Dini Pitria, akhirnya kembali menjabat. 

Namun di hari pertamanya kembali ke sekolah, ia mengaku masih diliputi rasa waswas dan menyebut insiden itu sebagai pelajaran besar tentang batas antara disiplin dan kekerasan

Dini Pitria, kembali ke sekolah setelah sempat dinonaktifkan oleh Gubernur Banten, Andra Soni, pada Kamis (16/10/2025). 

Dia menyebut kejadian itu menjadi pelajaran besar bagi dirinya sekaligus bagi dunia pendidikan, terutama soal batas antara mendisiplinkan dan melakukan kekerasan. 

"Saya sudah memaafkan, perasaan waswas masih tetap ada," kata Dini di SMAN 1 Rangkasbitung, Kamis. 

Dini mengatakan, setelah peristiwa kemarin, guru kini serba khawatir dalam bersikap.

Mereka takut langkah mendisiplinkan siswa bisa dianggap sebagai bentuk kekerasan atau mempermalukan. 

"Guru sekarang banyak yang takut menegur karena khawatir kena bully atau dilaporkan. Kalau Bapak, Ibu lihat kenapa murid-murid banyak yang gondrong, itu karena guru khawatir kalau dipotong rambutnya malah viral," kata Dini. 

Baca juga: Nasib 630 Siswa SMAN 1 Cimarga Usai Ramai Dihujat Gegara Aksi Mogok, Dapat Pendampingan Psikolog

Dia menilai, kondisi tersebut berpotensi membuat pendidikan karakter kehilangan rohnya. Padahal, menurut dia, guru memiliki peran penting dalam menanamkan kejujuran dan kedisiplinan sejak dini. 

"Saya marah kemarin bukan karena rokoknya, tetapi karena kebohongannya. Kalau bohong dibiarkan, nanti turunannya bisa mencuri, korupsi, berontak. Maka itu harus dididik sejak dini," kata dia. 

Momentum Perbaikan Dalam kesempatan itu, ia mengakui tindakan emosionalnya terhadap siswa saat itu merupakan bentuk kasih sayang yang khilaf. 

Namun, ia berharap kejadian itu menjadi momentum untuk memperbaiki sistem pembinaan di sekolah. 

"Saya ingin ada coaching untuk para pendidik supaya jelas batasan antara menegur dan mempermalukan. Jujur, kami butuh batasan. Tidak mungkin seorang guru membunuh karakter muridnya," ujar Dini. 

Meski sempat menjadi sorotan nasional, Dini memilih menjadikan peristiwa tersebut sebagai bahan introspeksi. 

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved