Kamis, 4 Juni 2026

Bencana di Sumatera

Kisah Warga Kampung Dilan Sumbar Bertahan di Tengah Longsor: Jalan Putus dan Rumah Hilang

Kamis 27 November hingga Senin 1 Desember menjadi hari-hari paling berat bagi 79 jiwa dari 29 KK di Kampung Dilan.

Tayang:
Penulis: Suryadi Jaya | Editor: Yunike Karolina
Suryadi Jaya/TribunBengkulu.com
KAMPUNG DILAN TERISOLIR - Kondisi rumah dan akses jalan di Kampung Dilan Desa Pancung Taba Kecamatan Bayang Utara Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat usai terdampak bencana tanah longsor, Selasa (2/12/2025). Warga harus berjalan kaki sejauh 4 kilometer untuk bisa tiba di desa terdekat. 

Ringkasan Berita:
  • Kisah warga Kampung Dilan bertahan di tengah bencana longsor: jalan putus dan rumah hilang
  • Kamis 27 November hingga Senin 1 Desember menjadi hari-hari paling berat bagi 79 jiwa dari 29 KK di Kampung Dilan

Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Suryadi Jaya

TRIBUNBENGKULU.COM, PESISIR SELATAN - Langkah kaki Emel tampak mantap menyusuri jalur tanah licin yang menanjak.

Di bahunya, sebuah karung besar berisi bantuan bergoyang mengikuti ayunan tubuhnya. 

Meski terik matahari memancar, pria berumur 35 tahun itu terus berjalan. 

Di belakangnya, enam warga lain dari Kampung Dilan juga tampak membawa barang-barang yang sama—makanan, pakaian, hingga bahan bakar.

Mereka baru saja menempuh perjalanan panjang, menyeberangi jalan yang terputus, berjalan kaki 300 meter melintasi hamparan sawah, kemudian melanjutkan perjalanan dengan sepeda motor selama 30 menit menuju Desa Pancung Taba.

Dari sana, perjuangan masih jauh. Jalur menuju Kampung Dilan masih harus ditempuh kembali dengan berjalan kaki sejauh 4 kilometer.

“Kalau akses dari Desa Pancung Taba ke Kampung Dilan itu tertutup sejak Kamis (27/11/2025). Sementara jalan provinsi di Desa Koto Ranah sudah putus sejak Senin (24/11/2025),” ujar Emel saat ditemui Tribunnews di titik terisolir, Selasa (2/12/2025).

Kamis 27 November hingga Senin 1 Desember menjadi hari-hari paling berat bagi 79 jiwa dari 29 KK di Kampung Dilan.

Putusnya dua akses utama membuat mereka benar-benar terisolir. Stok makanan menipis cepat.

“Kami bertahan dari hasil kebun saja. Umbi-umbian, sayur. Itu pun tak cukup untuk semua,” kata Emel.

Sementara itu, longsor dan pohon tumbang menutup total badan jalan. Untuk membuka akses, warga bergotong royong menggunakan alat seadanya.

Satu-satunya mesin chain saw pun hanya bisa dihidupkan dengan BBM yang mereka ambil dari sepeda motor warga yang tidak bisa keluar kampung.

Kerja keras itu akhirnya membuahkan hasil pada Senin (1/12/2025). Warga berhasil membuka jalur darurat sehingga setidaknya perjalanan kaki bisa dilakukan.

Dampak longsor di Kampung Dilan tidak hanya melumpuhkan akses. Emel menuturkan, satu rumah dan satu musala terseret material tanah.

Sumber: Tribun Bengkulu
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved