Sabtu, 25 April 2026

Penuh Risiko, Ternyata Begini Kerja Tim Pelestarian Harimau Sumatera

Kerja sebagai anggota tim pelestarian harimau sumatera ternyata memang memiliki resiko yang cukup tinggi. Bahkan beberapa waktu yang lalu, tepatnya pa

Penulis: Beta Misutra | Editor: M Arif Hidayat
Ho TribunBengkulu.com
Tim Pelestarian Harimau Sumatera penuh dengan resiko. Tampak patroli pelestarian harimau sumatera yang dilaksanakan oleh tim dari Lingkar Inisiatif di wilayah hutan TNKS beberapa waktu yang lalu. 

Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Beta Misutra

TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU - Kerja sebagai anggota tim pelestarian harimau sumatera ternyata memang memiliki risiko yang cukup tinggi.

Bahkan beberapa waktu yang lalu, tepatnya pada hari Rabu, 17 Agustus 2022, dua orang anggota tim pelestarian harimau sumatera meninggal dunia akibat tertimpa kayu yang tumbang.

Yaitu Gunawan yang merupakan Polisi Hutan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) dan Sudirman yang merupakan anggota Patroli Harimau Sumatera (PHS).

Keduanya meninggal dunia sesaat sebelum akan melaksanakan upacara bendera di camp yang mereka buat, di kawasan hutan Bukit Punjung Kabupaten Mukomuko.

 

Baca juga: BREAKING NEWS: 2 Anggota Tim Pelestarian Harimau Sumatera Tewas Tertimpa Pohon saat Patroli

Baca juga: 2 Anggota Tim Pelestarian Harimau Sumatera yang Tewas Saat Bertugas Raih Penghargaan Internasional

 

Selain PHS, ternyata ada juga lembaga independen yang bergerak di bidang pelestarian harimau sumatera di kawasan hutan TNKS, yaitu Lingkar Inisiatif.

 

Lingkar Inisiatif sendiri memiliki kerja yang sama dengan PHS, yaitu utamanya menjaga pelestarian harimau sumatera.

 

Koordinator Bidang Data dan Informasi Lingkar Inisiatif, Hari Siswoyo menyampaikan pada dasarnya ada beberapa poin yang menjadi tugas mereka untuk melestarikan harimau sumatera.

 

"Pertama tugas kita itu untuk membersihkan jerat-jerat harimau yang ada di hutan. Termasuk juga jerat hewan karnivora lainnya," kata Hari.

 

Hampir semua jenis jerat yang ditemukan di hutan juga tetap wajib dibersihkan oleh tim, termasuk jerat satwa mangsa.

Patroli pelestarian harimau sumatera yang dilaksanakan oleh tim dari Lingkar Inisiatif
Patroli pelestarian harimau sumatera yang dilaksanakan oleh tim dari Lingkar Inisiatif di wilayah hutan TNKS beberapa waktu yang lalu.

 

Satwa mangsa yang dimaksud seperti kijang, rusa, babi,  yang biasanya menjadikan mangsa dari harimau.

 

Jerat-jerat ini nantinya jika ketemu akan langsung dihancurkan dan barang bukti akan dibawa untuk laporan.

 

"Kenapa jerat-jerat ini perlu dimusnahkan tanpa terkecuali? Karena jika banyak yang kena jerat, maka bahan makanan dari harimau di hutan tentu akan berkurang. Inilah yang terkadang membuat harimau turun gunung, dan mengakibatkan konflik dengan masyarakat," kata Hari.

 

Tim ini juga akan mengecek dan mencatat indikator satwa yang ada di hutan tempat mereka berpatroli.

 

Misalnya seperti bekas jejak hewan di tanah, kemudian bekas cakar di pohon atau di dahan, bunyi-bunyian hewan yang terdengar oleh telinga, hingga kotoran hewan.

Bukan hanya hewan, bahkan juga beberapa flora yang tergolong langka, seperti Bunga Bangkai, Kantong Semar, dan Bunga Raflesia jika ditemui juga harus dicatat dan dilaporkan.

 

"Jadi catatan ini untuk mengetahui hewan-hewan apa yang ada di hutan, apakah masih ada hewan langka sepeti harimau, tapir dan lain-lain. Semua akan dilaporkan melalui pencatatan indikator satwa ini. Termasuk juga tadi floranya," ujar Hari.

 

Kemudian tim yang didampingi oleh polisi hutan juga akan melaksanakan patroli perambahan kawasan hutan.

 

Baik aktivitas ilegal logging ataupun perambahan hutan untuk dijadikan lahan pertanian oleh oknum masyarakat.

 

Pada proses ini selain mencatat, apabila mendapati oknum masyarakat yang memang terbukti bersalah, maka bisa saja akan langsung ditangkap dan di proses hukum apabila jelas terbukti melakukan kesalahan.

 

"Ini juga sebenarnya kadang beresiko, apalagi kalau rombongan oknum yang melakukan perambahan hutan ini ramai dan membawa senjata. Makanya harus bisa-bisa petugas juga bagaimana cara menegur agar tidak melakukan aktivitas perambahan lagi," ujar Hari.

 

Tim pelestarian harimau sumatera ini biasanya juga akan turun langsung jika mendapati adanya konflik harimau dengan masyarakat.

 

Namun untuk kerja yang dilakukan pada saat sudah turun langsung menangani konflik, biasnya ada 2 cara.

 

Pertama dengan cara diusir dengan menggunakan bunyi-bunyian yang kuat seperti meriam bambu, karbit atau mercon.

 

Namun jika tidak cukup, maka terpaksa tim akan memasang kerangkeng  untuk menangkap harimau yang mengalami konflik ke masyarakat.

 

"Kalau saat tertangkap dia (harimau) sakit, biasanya akan dibawa ke BKSDA Bengkulu, karena disana ada dokter hewan. Jika tidak maka kemungkinan besar akan dibawa ke Pusat Rehabilitasi di Lampung ataupun Sumbar," kata Hari.

 

Sebelum berangkat untuk berpatroli, biasnya tim akan menentukan jumlah orang yang akan berangkat ke hutan.

 

Biasanya dalam satu tim jumlahnya berkisar antara 4 sampai 5 orang. Namun ada juga lebih dari itu, walaupun sengat jarang .

 

Sedangkan untuk lamanya berpatroli biasanya akan ditentukan dengan luas dan Medan lokasi yang akan disisir.

 

Pada umumnya berkisar antara 5 sampai 7 hari dalam satu kali patroli, walaupun terkadang ada juga yang lebih dari 10 hari.

 

Dalam satu bulan biasanya tim bisa sampai 2 kali melakukan patroli di dalam hutan, dengan titik penjemputan yang telah ditentukan sebelum keberangkatan.

 

"Biasanya sekitar jam 8 pagi, kita sudah mulai start bergerak menyisir hutan, dan  baru akan off sekitar jam 3 sore, langsung buat camp. Karena pada sore hari sampa pagi lagi itu biasanya jam makan satwa pemangsa daging," ujar Hari.

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved