Minggu, 12 April 2026

Sejarah Islam

Perang Ridda, Perang Kemurtadan Setelah Wafatnya Nabi Muhammad SAW dalam Sejarah Islam

Setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, Abu Bakar Ash Shiddiq sebagai Khalifah Islam pertama dalam sejarah Islam, ia menghadapi perpecahan umat Islam.

|
Public Domain
Ilustrasi Perang Ridda, perang melawan orang murtad dalam sejarah Islam. 

TRIBUNBENGKULU.COM -  Setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, Abu Bakar Ash Shiddiq sebagai Khalifah Islam pertama dalam sejarah Islam, ia menghadapi perpecahan umat Islam.

Suku Badui yang sebelumnya menerima kerasulan Nabi Muhammad SAW karena alasan politis mulai menarik dukungan dari Abu Bakar Ash Shiddiq.

Menurut mereka, dengan wafatnya Nabi Muhammad SAW, perjanjian semuanya sudah berakhir, menurut catatan World History Encyclopedia.

Tidak hanya itu, banyak nabi palsu yang kemudian bermunculan dari berbagai suku dan ini menjadi bagian sejarah Islam yang kelam.

Baca juga: Abu Bakar Ash Shiddiq, Khalifah Islam Pertama dalam Sejarah Islam

Abu Bakar Ash Shidiq kemudian memanggil semua orang beriman yang sehat di bawah panji Islam.

Dia menggunakan perpecahan sesaat di antara berbagai suku pemberontak untuk menundukkan mereka satu per satu.

Perang-perang ini kemudian disebut sebagai Perang Ridda atau Perang Kemurtadan (632-633 M) dalam sejarah Islam. 

Jadi Perang Ridda adalah perang melawan orang-orang yang murtad pada awal kepemimpinan Abu Bakar Ash Shiddiq sebagai Khalifah Islam yang pertama.

Pada akhir tahun pertama pemerintahannya, Abu Bakar telah menyatukan kembali seluruh Jazirah Arab.

Kaligrafi Abu Bakar Ash Shiddiq, Khalifah Islam pertama dalam sejarah Islam.
Kaligrafi Abu Bakar Ash Shiddiq, Khalifah Islam pertama dalam sejarah Islam. (Creative Commons)

Meskipun penggunaan pedang tentu tidak luput dari perhatian di medan perang, ia tidak berusaha menghukum musuh-musuhnya setelah mereka menyerah.

Musaylimah terbunuh dalam Pertempuran Yamama (Desember 632 M) oleh pasukan yang dipimpin oleh Khalid bin al-Walid (sekitar 585-642 M).

Meskipun banyak kontroversi terhadapnya, ia adalah jenderal yang paling cakap dan setia yang membersaimai Abu Bakar Ash Shiddiq.

Abu Bakar membelanya, yang memberinya kekebalan hukum penuh dari Khalifah terhadap banyak orang yang ingin melihat Khalid dihukum, terutama Umar bin Khattab.

Baca juga: Runtuhnya Khilafah dan Tiga Fase Besar Evolusi dalam Sejarah Islam

Meskipun kalah jauh dalam jumlah pada malam sebelum pertempuran menentukan tersebut, Khalid menunjukkan kemampuannya sebagai seorang komandan.

Dia belum pernah kalah dalam satu pertempuran pun sebelumnya dan tidak berniat kalah pada hari itu.

Dia sangat paham dengan sifat plin-plan para pejuang gurun pasir dan betapa mereka mementingkan kepentingan masyarakat dibandingkan tujuan mereka.

Sehingga ketika Musaylimah kalah dalam pertempuran, para pendukungnya langsung dikalahkan.

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved