Senin, 13 April 2026

Mahasiswi Pekanbaru Tabrak Emak Emak

'Yeyen Ikhlas, Tapi yen Cengeng' Curhat Pilu Anak Renti Marningsih, Korban Tabrak Marisa Putri

Anak Renti Marningsih, korban tabrak Marisa Putri hingga tewas di Pekanbaru Riau, membagikan curahan hatinya melalui story Instagram.

TribunBengkulu.com/Instagram
Sosok anak Renti Marningsih membagikan curahan hati memilukan setelah ibunya tewas ditabrak Marisa Putri, mahasiswi Universitas Abdurrab Pekanbaru, Minggu (4/8/2024). 

TRIBUNBENGKULU.COM - Anak Renti Marningsih, korban tabrak Marisa Putri hingga tewas di Pekanbaru Riau, membagikan curahan hatinya melalui story Instagram.

Renti Marningsih adalah korban tewas ditabrak Marisa Putri di Jalan Tuanku Tambusai jalur selatan, Kecamatan Marpoyan Damai, Kota Pekanbaru, Riau pada Minggu (4/8/2024).

Peristiwa tersebut lantas viral di media sosial, pelaku Marisa Putri kini telah ditangkap Polresta Pekanbaru dan terancam hukuman 12 tahun penjara.

Saat konferensi pers Polresta Pekanbaru, Marisa Putri telah minta maaf pada keluarga Renti Marningsih.

Marisa Putri mengakui kesalahannya dan telah lalai sehingga menyebabkan Renti Marningsih harus kehilangan nyawa.

Baca juga: Ayahnya Hanya Petani Biasa, Marisa Putri Punya Mobil dan Sering Dugem, Disebut Sering Temani Om-Om

Namun demikian, permintaan maaf Marisa Putri tentu tidak serta merta menghapus luka di hati keluarga Renti Marningsih.

Kini sosok diduga anak Renti Marningsih muncul dan membagikan curahan hati memilukan mengenai kejadian tersebut.

Berikut curahan hati pilu lengkap anak Renti Marningsih dikutip dari akun instagram pribadinya.

Konferensi pers Polresta Pekanbaru terkait kasus Marisa Putri tabrak Renti Marningsih hingga tewas, Minggu (4/8/2024).
Konferensi pers Polresta Pekanbaru terkait kasus Marisa Putri tabrak Renti Marningsih hingga tewas, Minggu (4/8/2024). (TribunBengkulu.com/Polresta Pekanbaru)

Curhat Pilu Anak Renti Marningsih

Seandainya pagi itu aku ngelarang mama pergi, apa aku masih bisa meluk mama hari ini?

Seandanya mama lewat jalan lain, apa aku masih bisa ngeliat mama pulang denan tersenyum?

Seandainya aku kaya, mama ga perlu pergi kerja.

Apa mama bakal ngebukain aku pintu rumah dan bilang "poyen mama sudah pulang".

Penyesalan satu persatu bermunculan, seharusnya aku makan nasi yang mama masak pagi itu kalau tau ternyata itu adalah amsakan terakhir mama.

Seharusnya aku selalu meluk dan cium mama, bukan hanya di saat hari raya, ulang tahun mama dan juga hari terakhir aku melihatnya.

Seharusnya aku ngeperlakuin mama lebih baik lagi, aku memang anak yang durhaka.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved