Senin, 8 Juni 2026

Viral di Media Sosial

Profil Agung Sedayu Group yang Diduga Dalang Pembuatan Pagar Laut Sepanjang 30 Km di Tangerang

Profil Agung Sedayu Group yang diduga sebagai dalang pembuatan pagar laut sepanjang 30 Km di Tangerang. 

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Rita Lismini
Twitter @Dumdum
Foto pendiri Agung Sedayu Group. Profil Agung Sedayu Group yang Diduga Dalang Pembuatan Pagar Laut Sepanjang 30 Km di Tangerang. 

Walau pun masih aktif berperan dalam bisnisnya, Aguan kini lebih banyak terjun ke dalam kegiatan kemanusiaan.

Di antaranya aktif dalam perkumpulan keagamaan sebuah yayasan Budha bernama Tzu Chi.

Aguan banyak menghabiskan waktu untuk membantu dan menolong masyarakat.

Aguan memprakarsai pembangunan rumah susun, saat itu pertama kali di Cengkareng sebanyak 1100 unit.

Masyarakat gratis menempati rumah tanpa dipungut biaya.

Mereka hanya diminta untuk membayar uang kebersihan sebesar Rp 90.000.

Setelah itu warga hanya tinggal merawat dan memelihara saja, dan tentunya tidak boleh dijual.

Foto pendiri Agung Sedayu Group. Profil Agung Sedayu Group yang Diduga Pemilik Pagar Laut Sepanjang 30 Km di Tangerang
Foto pendiri Agung Sedayu Group. Profil Agung Sedayu Group yang Diduga Pemilik
Pagar Laut Sepanjang 30 Km di Tangerang (Twitter @Dumdum)

Awal Mula Muncul Isu Pemilik Pagar Laut 30 Km di Tangerang 

Sederet fakta baru seputar pagar laut Tangerang punya siapa dan apa fungsi pagar laut perlahan-perlahan terkuak. 

Belakangan nama pengembang PIK 2, Agung Sedayu Group dikaitkan dengan keberadaan pagar laut Pagar laut sepanjang 30 kilometer yang membentang di sepanjang pantai utara Tangerang.

Nama Agung Sedayu muncul setelah ada nelayan setempat yang keceplosan dalam sebuah wawancara di stasiun televisi swasta nasional.

Tapi yang jelas, keberadaan pagar laut ini memicu ketegangan di kalangan masyarakat pesisir dan nelayan. 

Keberadaan pagar laut sepanjang 30 kilometer ini dikeluhkan oleh para nelayan karena tangkapan ikan berkurang.

Para nelayan yang sehari-harinya bergantung pada laut kini terhalang, terkepung oleh struktur yang lebih menyerupai penghalang daripada pelindung. 

Kehadiran pagar bambu tersebut menjadi tanda tanya besar bagi nelayan, yang merasa akses mereka terhadap laut dibatasi. 

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved