Jumat, 15 Mei 2026

Opini

OPINI: Bengkulu dan Krisis Hospitality yang Menggerus Potensi Pariwisatanya

Ketika musim liburan tiba, Bengkulu berubah menjadi magnet bagi ribuan wisatawan.

Tayang:
Editor: Yunike Karolina
Kolase Tribun Bengkulu
ANDI AZHAR - Sosok Andi Azhar penulis opini dengan judul Bengkulu dan Krisis Hospitality yang Menggerus Potensi Pariwisatanya. 

Oleh Andi Azhar

TRIBUNBENGKULU.COM - Ketika musim liburan tiba, Bengkulu berubah menjadi magnet bagi ribuan wisatawan.

Pantai-pantai eksotis seperti Pantai Panjang dan Tapak Paderi dipenuhi pengunjung yang ingin menikmati deburan ombak dan pasir putih.

Suasana riuh di sepanjang pesisir pantai seolah membuktikan betapa potensi wisata daerah ini begitu besar.

Namun, di balik gemerlapnya pemandangan alam yang memikat, tersimpan persoalan klasik yang terus berulang.

Begitu liburan usai, media sosial kerap dibanjiri keluhan dari para wisatawan. Mulai dari pedagang yang seenaknya menaikkan harga, tukang parkir liar yang mematok tarif semaunya, hingga sikap kasar dari beberapa oknum pelaku wisata.

Pengalaman buruk ini meninggalkan bekas yang dalam, bukan hanya bagi para pengunjung, tetapi juga bagi citra Bengkulu sebagai destinasi wisata.

Padahal, pemerintah setempat sedang gencar mempromosikan pariwisata sebagai salah satu sektor unggulan.

Program pembenahan infrastruktur dan pengembangan destinasi terus digalakkan. Namun, semua upaya itu bisa sia-sia jika masalah pelayanan tidak segera diperbaiki.

Pariwisata bukan sekadar tentang keindahan alam, melainkan juga tentang pengalaman menyenangkan yang dirasakan wisatawan.

Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru dalam dunia pariwisata. Banyak daerah di Indonesia yang pernah mengalami masalah serupa sebelum akhirnya berbenah.

Bali, misalnya, pada era 90-an sempat dihantui oleh citra negatif akibat pelayanan yang buruk.

Namun, melalui pendekatan budaya dan regulasi ketat, mereka berhasil mengubah diri menjadi destinasi kelas dunia.

Yogyakarta juga pernah mengalami persoalan serupa. Pedagang di Malioboro dulu dikenal agresif dan sering memaksa wisatawan membeli barang.

Namun, setelah pemerintah setempat menerapkan sistem zonasi dan pelatihan kewirausahaan, suasana berbelanja di sana menjadi jauh lebih nyaman.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved